Tentang Kekuatan Tulisan

Writing is about spirit, it’s about finding your own passion
through writing, you’re telling the whole world about your idea, your opinion, your review, your point of view, and your story

When you start moving your finger, you just feel you don’t wanna stop, you’ll be going with the flow of your idea, and focusing all of your sense and mind into that paper or screen, and then you’ll say “i’ve found my own narnia, i’ve found my escape”. that’s the feeling of a real writer, that’s the real writers do.

Every writer’s dream is all the same, they just want to inspire people. they just want someone to look at them and say “because of you i didn’t give up”. Because they have been through that hardship before, and by reading other peoples poem, quotes, and books, they’ve found their spirit to struggle in their condition. For that reason, they want to do the same thing to others, they want to help others to find their spirit and their ‘way back home’.

When they write something about life, that doesn’t mean they have a good life. you know, that’s different between reality and fantasy. sometimes we write what’s in our fantasy, not all of them are real though

So, if you do not breath through writing, if you do not cry out in writing, or sing in writing, then don’t write. if you really want to be a writer, put all your effort into it…

Find your own passion, find your own dream. everybody have different personality and different skill. just find your own and work with it…

kurang lebih artinya seperti ini

Kekuatan Menulis

Menulis adalah tentang kekuatan, tentang menemukan passion kita. Melalui menulis, kamu menyampaikan kepada dunia tentang idemu, gagasanmu, ulasanmu, sudut pandangmu dan ceritamu.

Ketika kamu mulai menggerakkan jarimu, kamu merasa kamu tidak ingin berhenti, kamu akan melanjutkan idemu yang mengalir dan fokus pada semua yang kamu rasakan dan pikirkan pada kertas atau layar, kemudian kamu akan mengatakan “Aku menemukan narniaku, aku menemukan pelarianku”. Itulah perasaan penulis yang sejati, itulah yang penulis sejati lakukan

Setiap penulis mempunyai mimpi yang sama, mereka hanya ingin menginspirasi orang. Mereka hanya ingin seseorang melihat mereka dan berkata “Karenamu aku tidak menyerah”. Karena mereka telah melalui kesulitan sebelumnya dan dengan membaca syair orang lain, kutipan dan buku-buku, mereka telah menemukan kekuatan mereka untuk berjuang pada kondisi mereka. Karena itulah, mereka ingin melakukan hal yang sama pada orang lain, mereka ingin membantu orang lain untuk menemukan kekuatan mereka dan perjalanan pulang mereka.

Ketika mereka menulis sesuatu tentang kehidupan, itu bukan berarti mereka mempunyai kehidupan yang baik, kau tahu, ada perbedaan antara kenyataan dan khayalan. Kadang kami menulis apa yang ada di khayalan kita, tidak semua dari mereka adalah kenyataan

Jadi, jika kamu tidak bernafas melalui tulisan, jika kamu tidak berteriak dalam tulisan, atau menyanyi dalam tulisan, maka jangan menulis. Jika kamu benar-benar ingin menjadi penulis, letakkan semua upayamu kedalamnya

Temukan passionmu sendiri, temukan mimpimu sendiri, semua orang mempunyai kepribadian yang berbeda dan bakat yang berbeda. Cukup temukan jalanmu dan bekerja dengan itu ..

anonim

ini kutipan comot punya kak nanda .. hehe

Summer Vacation – Chapter 1

Summer Vacation

Chapter I

Girls Generation First Photobook

Pantai, bikini, clubbing, liburan musim panas setiap orang, dan jika beruntung kau akan mendapat bonus pacar baru. Sayangnya, hal-hal seperti itu tidak berlaku untukku. Aku akan menghabiskan seluruh musim panas dengan pergi ke pantai, mencoba partime di café, belajar musik atau hal-hal seperti itu. Namun tahun ini agak berbeda. Kalian tahu apa yang aku lakukan sekarang. Aku sedang berada gedung musik Dongguk University, menemui seorang bernama Kim. Dia target utama investor di teater Soshibond, nama teater unnie dan teman-temannya.

Kami memasuki salah satu ruang latihan piano. Satu-satunya pria di ruangan itu asyik memainkan tuts tuts piano dengan tempo cepat menghasilkan bunyi yang tak beraturan namun tidak menyimpang dari instrument dasar.

“Nice performance oppa” unnie memberikan applause begitu pria itu menyelesaikan permainannya.

“Thankyou baby”

Pria dengan rambut wavy blonde dan aksen bicara ala orang Eropa itu tersenyum.

“Siapa gadis cantik ini?” Baca lebih lanjut

Diskon 50%

Diskon 50%

 

Orang menyebutnya awul-awulan. Yakni membeli baju yang di dalamnya terdapat label diskon 50 – 70 persen. Atau, barang khusus dengan tulisan beli 1 gratis 1. Berdesak-desakan bersama pembeli lain, hanya demi mendapatkan harga miring dengan kualitas barang yang lumayan (jika beruntung).

Di sinilah aku, ikut berada dalam kerumunan pembeli barang diskon. Bukan aku tapi temanku. Ya ampun jika saja mereka tahu berapa harga yang barang-barang itu jika di pasar, pasti para kaum ibu hawa ini lebih memilih menyerbu pasar tradisional ketimbang mal ini. Ah sungguh, benar-benar strategi bisnis ini telah mempermainkan otak sadar mereka. Untuk apa mereka rela berdesakan, jika di pasar mereka bisa mendapatkan barang yang sama dengan harga yang lebih murah bahkan setelah di kurangi diskon. Baca lebih lanjut

Summer Vacation

Summer Vacation

 Girls Generation First Photobook

Prolog

Finally

Aku tersenyum lega kala menjajakkan kaki di bandara Incheon. Ini pertama kalinya aku bepergian ke luar negeri tanpa orang tua maupun keluarga. Gugup, tentu saja. Bagaimanapun aku amatiran di bidang ini. Aku sering tersesat bahkan jika sudah menggunakan GMaps. Katakan saja aku tidak begitu pandai membaca peta, mengenali arah atau mengingat jalan. Phwwh.

“Unnie!!!” aku melambaikan tangan, sedikit berteriak begitu melihat wanita berumur 20-an berambut pirang berpostur lebih pendek dari kebanyankan wanita bule pada umumnya, berdiri lipat tangan di area kedatangan luar negeri. Aku berlari dengan excited menghampiri wanita itu dengan senyum tanpa dosa

“Hay, unnie? Sudah lama?”

Dari matanya aku bisa membaca– “aku sudah di sini satu jam yang lalu”

So …?”

Unnie menuntun langkahku keluar dari bandara. Tadinya ku pikir, kami akan langsung menuju tempat tinggalnya, tapi dia menyetir mobil mengarah ke sebuah fast food yang kurasa cukup terkenal di Seoul.

“Kau sudah makan?”

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut unnie sejak kami keluar dari bandara. unnie adalah pribadi yang jarang berbicara. Dia hanya berbicara seperlunya dan hobi memutus percakapan secara sepihak. Yah, dia tidak punya attitude yang baik untuk hal-hal seperti itu.

Not really” jawabku yang bisa diartikan aku masih lapar. Ayolah, apasih enaknya makan makanan pesawat.

“Tunggu di sini” katanya. Sementara unnie masuk ke fast food, aku memainkan smartphone-ku, mengambil selca kemudian meng-upload-nya di sosmed

“Touch down in Seoul. Amazing”

Tak berapa lama, komentar pun bermunculan. Belum sempat aku membalas komentar mereka, unnie sudah kembali.

Huh?

Aku pikir kami berhenti di fast food untuk makan, atau mungkin membeli makanan, tapi unnie keluar tanpa membawa apapun. Kenapa? Apa dia lupa membawa dompet? Ah, tidak. Unnie bukan orang yang ceroboh.

“Why?”

“Kita tidak jadi makan?”

“Kita tidak makan di sini” katanya kembali memacu mobil di jalanan Seoul.

Aku hanya ber-Oh dan kembali pada smart-phone-ku. Lima belas menit perjalanan menuju tempat tinggal unnie. Sebuah wisma penginapan berlantai 2 yang terdiri dari banyak kamar. Mari kita sebut ini sebagai dorm. Ada 5 kamar tidur di lantai atas, sementara lantai bawah dipenuhi dengan dapur plus ruang makan dan dua kamar mandi. Juga ruang tamu yang cukup luas, yang kurasa muat untuk ditiduri 10-12 orang.

“Oh, Jessie, you home” seseorang keluar dari dapur dengan ice cream strawberry di tangganya

You must be Jessie’s sister, right?Baca lebih lanjut

Kita tak bisa punya kesempatan untuk setiap hal (yang kita inginkan), dan setiap kesempatan harus dilakukan dengan sempurna. Karena inilah hidup kita. Hidup itu singkat, dan kau bisa saja mati, siapa tahu? Jadi inilah jalan yang kita pilih dalam hidup. Kita bisa duduk santai di Jepang, atau berlayar. Beberapa tim eksekutif bisa saja main golf. Mereka bisa saja bergabung dengan perusahaan lain. Dan inilah yang kami pilih. So it better be damn good. Sebaiknya bisa membayar (apa yang kami kerjakan). Dan kurasa sudah!


 

Steve Jobs

Heavenly Wishpers – Chapter 1

Chapter 1

“Earth to Jessica, hello, sadarlah” kata Yoona, melambaikan tangannya di depan Jessica

Jessica sedang bersandar di meja, melamun menatap jendela

“Huh?” katanya, memecah konsentrasi

“Ayolah unni, sudah waktunya tutup. Seul Gi unni memberiku satu set kunci untuk mengunci kafe karena dia harus pergi lebih awal untuk kencan.”

“Oh ya,” Jessica ingat. Dia memeriksa jamnya dan jam digital menunjukkan pukul 11:00 pm

“Aku akan mencuci piring di dapur, bisa kau selesaikan mengelap meja?” pinta Yoona, melempar handuk. “Botol semprotan ada di sana,” jelasnya menunjuk ke meja yang lain

“Dapat.” Jessica mulai mengelap meja satu per satu. Dia tidak memikirkan apapun selain gosok sana, gosok sini saat dia membersihkan tiap-tiap dari mereka. Dia melihat betapa berkilaunya meja itu seusai ia sapu – “Jja jjan! (Tada!)” saat dia selesai dengan meja depan dan berganti  ke meja belakang. Dia terus membersihkan meja demi meja.

Oke, sedikit lagi, katanya dalam hati sambil mengusap sedikit keringat di dahi dengan lengan nya.

Oh, dia tersentak pada dirinya sendiri. Baca lebih lanjut