Diskon 50%
Orang menyebutnya awul-awulan. Yakni membeli baju yang di dalamnya terdapat label diskon 50 – 70 persen. Atau, barang khusus dengan tulisan beli 1 gratis 1. Berdesak-desakan bersama pembeli lain, hanya demi mendapatkan harga miring dengan kualitas barang yang lumayan (jika beruntung).
Di sinilah aku, ikut berada dalam kerumunan pembeli barang diskon. Bukan aku tapi temanku. Ya ampun jika saja mereka tahu berapa harga yang barang-barang itu jika di pasar, pasti para kaum ibu hawa ini lebih memilih menyerbu pasar tradisional ketimbang mal ini. Ah sungguh, benar-benar strategi bisnis ini telah mempermainkan otak sadar mereka. Untuk apa mereka rela berdesakan, jika di pasar mereka bisa mendapatkan barang yang sama dengan harga yang lebih murah bahkan setelah di kurangi diskon.
Kadang aku heran dengan otak perempuan, dimana mereka lebih tergiur dengan kata diskon dari pada menghitung kalkulasi yang di dapat dengan barang yang di peroleh, bahkan ibuku sendiri termasuk korban diskon.
Satu jam bergemul dengan banyak orang. Memilah-milah barang jika tidak ingin dikatakan berebut, membandingkan harga dan menghitung diskon yang di dapat, temanku akhinya keluar dari kerumunan itu menuju kasir.
Antrian panjang sudah tampak dari jarak 10 meter. Aku lihat mereka juga sama seperti temanku. Memborong barang diskon, padahal menurut pengamatanku, dari apa yang mereka kenakan, mereka mampu membeli barang-barang dengan kualitas yang lebih baik, dari pada harus ikut berdesak-desakan demi kata diskon. Ah sungguh aneh.
Antrian panjang kini mulai berjalan perlahan hingga sampailah pada giliran temanku. Memberikan tas belanja pada petugas kasir. Ya ampun, bahkan setelah mendapat diskon, total belanja temanku masih terbilang boros, meskipun di struk belanja terdapat tulisan hemat sekian ratus ribu.
Mengingat kami belum solat ashar, aku pikir selesai membayar kita menuju mushola, tapi temanku justru berbelok menuju tempat awul-awulan tadi. Dia bilang ada potongan Rp. 50.000 khusus hari ini, untuk barang berlabel khusus. Astagfirullah. Kembalilah aku terjebak dengan kerumunan pemburu barang diskon. Syukurlah kali ini tidak terlalu lama, cukup memakan waktu 20 menit. Jika saja aku tidak ribut mengomelinya kita belum solat, mungkin bisa lebih lama lagi.
Berjalan cepat menuju kasir. Aku lihat antrian tidak sepanjang tadi. Anehnya selepas membayar, wajah temanku justru tertekuk seolah tidak puas. Aku tidak menanyainya, yang aku pikirkan saat itu adalah musholla. Selesai solat temanku tiba-tiba ngerundel sendiri. Keningku berkerut, tak berapa lama aku terpaksa menahan tawa. Kupon Rp. 50.000 itu tidak berlaku karena barang yang dipilihnya sudah dapat potongan diskon 50%. Sedikit menyesal karena mengorbankan waktu solat ashar demi kupon Rp. 50.000 yang pada akhirnya tidak berguna.
Ya Allah, semoga engkau mengampuni dosa kami karena menghambur-hamburkan rizki-Mu dari pada mendahulukan kewajiban kami.
