Stop All the Pretend Things – Prolog

Deskripsi Singkat

Dilahirkan secara tidak sah dari salah satu keluarga kaya di Korea, Jessica Jung diasingkan oleh keluarganya. Dia dikirim ke London segera setelah dilahirkan. Keluarganya hanya memberi kekayaan yang melimpah. Kekurangan cinta, kasih sayang dan perhatian menjadikan Jessica orang yang dingin, sedingin es, tidak pernah mempercayai orang lain dan kadang, well, lebih sering berlaku kasar. Dia menyerahkan seluruh jiwanya pada musik dan menghasilkan banyak uang dari itu.

Tapi, tentu saja layaknya orang lain, dia mempunyai mimpi, hanya saja dia tidak bersedia berbagi dengan orang lain. Kehidupan Jessica berbanding terbalik ketika ibunya meninggal karena kanker, dan keluarganya dari Korea memanggilnya kembali. Jessica tidak ada minat untuk tinggal lebih lama di Korea, tapi neneknya memiliki rencana lain. Dia mendaftarkan Jessica ke SMA dimana dia bertemu saudara kandungnya. Saudaranya Im Luhan dan Im Yoona yang secara otomatis membencinya hingga tulang belulang.

Jessica harus berurusan dengan segala sesuatu sendirian, kehidupan sekolah yang baru, kedua saudaranya yang membencinya, juga pembully paling terkenal di sekolah Kris Seo, kakak tunangan Luhan yang menderita karena menjadi kambing hitam dalam keluarganya. Jessica yang selalu egois, mementingkan dirinya sendiri belajar mengenai masalah orang lain, tawanan dan orang-orang yang tidak mempunyai mimpi dalam hidup mereka.

“Aku tidak akan memikirkan ulang apa yang akan aku katakan, tidak peduli seberapa sakitnya itu terdengar.

Setiap orang bisa mengatakan apa yang mereka ingin katakan, aku sangat terganggu mendengar orang-orang yang mengorbankan kebahagiannya demi orang lain.

Bukankan kalian hidup untuk diri kalian sendiri?”

-Jessica Jung Sooyeon

“Bagaimana mencari orang-orang akan mencintaiku? bahkan ayahku sendiri sangat sulit melakukannya.

Hanya ada 2 pilihan untuk orang-orang yang mengakuiku

Mengagumiku … atau ketakutan oleh ku”

-Kris Seo

 

“Aku tidak tahu apa arti cinta yang sebenarnya. Jika cinta berarti dia bisa membuatku tenang, maka, ya! aku mencintainya.

Jika cinta berarti aku ingin melindungi dia dari keluarganya, maka, ya! aku mencintainya.

Aku mungkin tidak harus berjuang untuk mendapatkannya, kendati demikian dia sudah menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan dia pergi.”

-Im Luhan

 

 “Aku  tidak mencintainya, tapi dia juga bukan orang yang jahat untuk di benci.

Meskipun aku tidak suka bagaimana dia berurusan dengannya, aku tidak membencinya.

Dia tunanganku, dia pantas mendapatkan kesetiaanku, meskipun aku tidak mencintainya”

-Seo Juhyun

 

“Putri yang sempurna, putri keluarga yang sempurna.

Aku senang mendengarnya. Mungkin kalian benar. Aku hanya pura-pura baik, padahal tidak ….

Aku bahkan tidak tahu bagaimana bersikap. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku.”

-Im Yoona

 

“Tunangan yang sempurna. Lelaki sempurna.

Pada awalnya, semua baik-baik saja.

Tapi sekarang, aku tidak yakin akan segala sesuatu lagi.

Kenapa aku tidak bisa memiliki mimpiku sendiri.”

-Oh Sehun

Maret 2015

Diterjemahkan oleh Audrey, S. Hak Cipta milik echoleshyver dan heartsica


P.S

Saya menyadari terjemahan ini jauh dari kata sempurna, karena itu please … jangan sungkan untuk mengkritik saya … 😀

 

Subscribe, comment and upvote if you liked what you read 🙂
Follow me on Twitter here
©naichloride

Stop All The Pretend Things

Hallo guys!!!

Saya kembali … kembali di ranah kancah per-fanfict- terjemahan. Kali ini saya ingin menerjemahkan fic yang saya dapat dari asianfamfict dengan judul yang sama “Stop All The Pretend Things” oleh dua author yang kece abis echoleshyver and heartsica. Anyway … saya belum bilang ke mereka kalo saya menerjemahkan karya mereka. Semoga mereka ikhlas.

SATPT (apalah singkatannya ini) bercerita tentang seorang anak illegal yang kembali kepada keluarga yang telah membuangnya. Ia di paksa untuk tinggal beberapa tahun bersama keluarga tersebut. Meski tidak tahu maksud dan tujuan keluarganya, ia mencoba untuk tinggal dan fokus pada tujuannya. Hingga akhirnya sesuatu yang sejak dulu tidak ia dapatkan, sedikit banyak mengubah peringainya yang kasar, rebel dan stubborn, bertindak seenak jidat.

Yang saya suka dari fic ini adalah ide cerita juga cara author menggambarkan sifat dari tokoh utama. Fic ini membuat kita menyadari bahwasannya masa lalu mempengaruhi masa depan.

Selebihnya, kalian bisa baca di sini atau dengan sabar menunggu terjemahan saya.

See ya …

Maret 2015, Audrey, S.


Subscribe, comment and upvote if you liked what you read 🙂
Follow me on Twitter here
©naichloride

 

My Savior Hero – Chapter 1

My Savior Hero

Jonghyun

Chapter 1 – Dimana Bibi Lee

Ini adalah pagi yang indah di sebuah kota metropolitan bernama Seoul. Rutinitas khas di pagi hari sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Keluarga Jung salah satunya. Di Mansion besar mereka yang hanya di huni beberapa orang itu terlihat jelas bagaimana Nyonya rumah itu kerepotan menyiapkan sarapan juga keperluan anak dan suaminya.

“Sayang, kau belum menyiapkan setelan ku?”

“Ya ampun!” nyonya rumah itu menepuk jidatnya tersadar oleh sesuatu. Ia meletakkan susuk penggorengan di atas teflon, melepas celemek dan buru-buru menemui suaminya. Mendapati suaminya yang sudah bisa menghandel masalahnya, nyonya rumah beranjak menuju kamar putrinya.

“Jessica!!!!” nyonya rumah itu menarik kasar selimut yang menutupi tubuh putrinya.

“Wake up sleepy head”

“Euurrgrhhh” putrinya mengeliat panjang.

“Come on, come on. Kau sudah terlambat” Jessica, putri sang nyonya rumah berjalan ogah-ogahan menuju kamar mandi. Sementara putrinya mandi, sang ibu sibuk menyiapkan seragam juga keperluan sekolah yang lain. Selesai dengan putrinya, nyonya rumah kembali menengok suaminya.

“Sudah dapat?” tanyanya. Terlihat disana sang suami sudah rapi dengan setelan kemeja yang diambilnya secara acak dari wardrobe.

“Bantu aku pasang dasi ini”

Sang nyonya beranjak mendekati suaminya. Mengikat dasi dengan rapi dan sempurna seperti biasa.

“Bau apa ini?” suaminya mengendus. Mereka mencium bau terbakar dari arah dapur

“Ya ampun!” lagi, nyonya rumah itu menepuk keningnya, buru-buru lari ke arah dapur diikuti suami dan anaknya.

“Sepertinya tidak ada sarapan lagi pagi ini” kata sang nyonya rumah, memperlihatkan masakan hangus yang masih diatas teflon.

“Baiklah kita sarapan di luar” imbuh sang suami.

Sudah hampir dua minggu, keluarga kecil ini begitu diributkan dengan rutinitas pagi, tepatnya sejak pembantu rumah tangga mereka pamit untuk mengurus anaknya yang sakit di kampung. Mereka sudah berusaha mencari pembantu sementara namun belum mendapatkan yang sesuai.

“Jika terus seperti ini, akan sangat kacau” keluh sang nyonya.

“Bagaimana kabar anakmu, supir Lee?” si tuan rumah itu bertanya pada supir yang juga suami dari pembantu rumah tangganya yang cuti.

“Semalam baru saja keluar dari rumah sakit”

“Maafkan kami, kami belum sempat menjengguk anakmu”

“Tidak tuan, nyonya. Tuan dan nyonya sudah banyak membantu biaya pengobatan anak saya”

“Bagaimana jika nanti kami mengunjungi keluargamu di kampung”

“Tidak tuan, itu akan merepotkan tuan”

“Tidak supir Lee, ini kewajiban kami. Kau dan istrimu sudah lama bekerja pada keluarga kami”

Sore hari itu, pasangan suami-istri beserta anaknya datang berkunjung ke rumah supir dan pembantu rumah tangganya yang tinggal di Busan pinggir pantai. Supir Lee berhenti di depan rumah tua kecil yang sangat sederhana dengan cat yang sudah mengelupas hampir di semua bangunan.

“Silahkan masuk tuan, nyonya” supir Lee mempersilahkan

“Ibu … ibu …!” teriak supir Lee begitu masuk rumah

“Ada apa?” heran istri supir Lee

“Tuan dan Nyonya ada di sini” bisik supir Lee. Istri supir Lee tampak terkejut. Buru-buru ia merapikan rambut dan pakaiannya, berjalan cepat menuju ruang tamu untuk menyalami sang majikan.

“Tuan dan Nyonya, maaf merepotkan”

“Ya ampun, nona Jessica juga ada di sini”

“Ini rumah bibi Lee?” tanya gadis kecil itu

“Ne .. rumah bibi sangat kecil, tidak semewah rumah nona”

“Rumah bibi dekat pantai. Pasti menyenangkan bisa bermain di pantai setiap hari”

Bibi Lee tersenyum dengan celoteh polos nona muda itu.

“Maafkan saya nyonya. Saya belum bisa kembali bekerja”

“Tidak bibi Lee, kami mengerti”

“Anda tidak perlu datang kemari. Ini benar-benar merepotkan”

Pasangan suami istri itu hanya tersenyum.

“Ngomong-ngomong, dimana anakmu bibi Lee?” tanya nyonya Jung

“Dia ada di dalam” kata supir Lee bergegas memanggil anaknya. Tak berapa lama, supir Lee keluar bersamaan dengan anak laki-laki memakai masker dan berpakaian super tebal.

“Jonghyun-ah, ini Tuan dan Nyonya Jung”

“Annyeong haseo” sapa Jonghyun sedikit membungkuk

“Berapa umurmu sayang?” Nyonya Jung mensejajarkan tingginya dengan tinggi badan Jonghyun.

“10 tahun”

“Aigoo .. kau seumuran dengan Jessica”

“Jessica, kemari sayang!” panggil Tuan Jung

Jessica yang sedang bermain-main dengan papan catur yang tergeletak begitu saja di sudut ruangan beranjak menuju ayah dan ibunya

“Ini Jonghyun, anak bibi dan supir Lee” kata Nyonya Jung

“Hai .. aku Jessica”

“Jonghyun” katanya datar. Sorot matanya yang tenang dan tajam seolah mengintimidasi lawan bicaranya

Sementara kedua orang tua mereka sibuk dengan pembicaraan mereka, kedua anak ini hanya diam beradu pandang, sampai

“Itu milik mu?” Jessica menunjuk papan catur yang ia mainkan tadi.

“Hmm” Jonghyun mengangguk. Ia berjalan mengambil papan catur tersebut.

“Kau bisa memainkannya?”

“Tentu saja, aku hebat dalam permainan ini”

“Benarkah?” Jonghyun tersenyum meremehkan

“Kau tidak percaya? Baiklah. Ayo bertanding” tantang Jessica

“Okay” Jonghyun masih saja memasang senyum sinisnya. Ia meletakkan papan catur di meja kecil di dekatnya. Keduanya kemudian menata pion dan para prajurit tempur. Permainan dimulai dari Jessica setelah memenangkan suit. Ia mulai menjalankan pion-pion kecilnya sebagai umpan. Jonghyun-pun mampu menyeimbangkan dengan permainan santainya. Sejauh ini Jessica tampak mengusainya jalannya permainan. Ia banyak melucuti pion-pion milik Jonghyun. Dan saat ia sudah yakin akan memenangkan permainan ini, tiba-tiba

“Checkmate” kata Jonghyun

“APA!” Jessica terperangah tidak percaya

“Kau luput Jessica”

“Kau terlalu sibuk menyerang, membiarkan pertahananmu kosong”

“Aku beritahu satu hal, teknik bertahan yang paling baik adalah dengan menyerang”

Jessica hampir saja membalikkan papan catur jika ibunya tidak datang

“Hai sweetie!”

“Apa yang kalian lakukan?”

“Just a stupid game” kata Jessica dengan nada kesal.

Nyonya Jung yang tidak mengerti dengan jawaban putrinya pun bertanya pada Jonghyun melalui isyarat mata.

“Tidak ada Nyonya” kata Jonghyun tersenyum ramah. Senyum yang ia arahkan pada Jessica.

“Baiklah. Sepertinya kalian memainkan permainan yang seru tadi. Tapi maaf Jonghyun, kami harus pulang”

“Ne ….” Jonghyun mengangguk. Ia bersama ayah dan ibunya mengantar keluarga Jung sampai di depan rumah mereka.

“Terima kasih tuan, nyonya dan noona Jessica” kata ibu Jonghyun

Setelah berpamitan dengan keluarganya, supir Lee bergegas masuk mobil, kembali mengantar kelurga Jung ke Seoul.

Sementara Jonghyun masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, melihat kepergian keluarga Jung dan ayahnya sampai menghilang dari pandangannya.

My Savior Hero

 

My Savior Hero

 

Hallo guys.

My Savior Hero adalah sebuah kisah dari seorang Lee Jonghyun yang mengabdikan diri kepada keluarga Jung.

My Savior Hero menceritakan masa lalu Jonghyun dan keluarganya. Bagaimana mereka menjadi “Hero” bagi keluarga tersebut.

Cerita di fic ini tidak begitu berat. Saya mencoba untuk sedikit memainkan emosi. Karena saya masih tahap belajar dalam pembuatan cerita, menentukan alur, juga menempatkan konflik, jadi mohon bantuan dan bimbinganya.