Always

Lampu kota malam itu sangat terang. Juga hamparan bintang yang kelap-kelip, bertabur dalam langit gelap. Tidak seperti biasa. Malam di Seoul terasa sunyi, senyap. Tidak, bukan Seoul tapi sesuatu dalam diriku yang tidak aku mengerti.

Langit Seoul masih sama. Masih gemerlap layaknya kemeriahan panggung musik concert k-pop dengan sorot centerpiece beam angel dan efek lighting yang menjurus ke segala arah.

Aku mendesah panjang. Menutup jendela apartemen. Berangsur menuju workspace. Ada banyak PR yang harus aku selesaikan sebelum deadline.

Baru ketika aku hendak menyalakan laptop, sebuah panggilan masuk. Stephanie, My Besties.

“Jessie ….!!!!”

“Kim … Kim … kecelakaan”

“Kim, siapa?”

“Kim Taeng .. dia di rumah sakit sekarang. Ruang ICU” Jelas Steph, dengan nada panik.

“And?”

“Earth to world, Jessica!. Kim Taeng kecelakaan. KIM TAENG!!”

“Lantas kenapa?!”

“Ada banyak dokter dan perawat di sana. Plus, …” Aku menarik nafas sebelum melanjutkan

“Ada kau di sana. Dia akan baik-baik saja”

“Don’t ruin my day about him anymore!”

Aku mengakhiri panggilan dari Steph. Membuang ponsel ke sembarang sudut di tempat tidur. Kenapa harus ada kabar darinya setelah sekian lama.

 

***

Ini masih pukul 7 pagi di Seoul dan seseorang sudah mengacau my morning exercise. Siapapun itu aku pasti akan membunuhnya.

“Annyeong!!!”

Aku hendak menutup pintu kembali begitu mendapati senyum lebar tanpa dosa laki-laki dengan rambut blonde menyambut pagiku.

“Wwoo .. wwooo” dia menahan dengan tangannya, memaksa masuk. Aku mendesah pelan.

“Apa yang kau lakukan di sini, se pagi ini. Kau tahu, kau baru saja mengacau latihan pagiku”

“Latihan pagi? maksudmu tidur?”

“Aku membawa sarapan”

Lelaki itu memamerkan dua kantong plastik berisi bahan makanan yang baru saja di belinya dari supermarket sebelah. Ia mengeluarkan semua bahan makanan dan mulai berkreasi.

“Bangunkan aku jika sudah siap” aku merebahkan tubuhku di sofa tamu. Ini tidak seperti aku bisa kembali tidur. Ough! Lelaki ini sudah mengacau tidur pagi-ku.

“Ayolah Jess, kau bisa kemari membantuku”

“Come-on” lelaki ini mendekat,  memaksaku beranjak dari sofa empuk yang aku tiduri.

“I hate you!”

“Love you too”

“Come-on … aaa” Lelaki ini menyuapiku dengan nasi goreng Joen yang masih di atas teflon.

“It’s good!” rasa masakannya memang tidak perlu diragukan. Meskipun hanya masakan sederhana, tapi bagiku dia sangat special. Maksudku untuk seorang lelaki yang pandai memasak.

“Nah … pegang ini” aku mengambil alih nasi goreng. Mengoreknya sebentar, kemudian memindahkannya di atas piring. Sementara lelaki itu sudah sibuk dengan membuat menu yang lain.

Ini lucu. Dulu, aku pernah berharap untuk menikah dengan lelaki yang pandai memasak dan sepertinya harapanku akan menjadi kenyataan. Aku tanpa sadar tersenyum.

Aku mengaduh ketika jemarinya menyentik keningku.

“Ya!!!”

“Kau melamun” ujarnya datar.

“Nah … sarapan sudah siap”

Aku pura-pura cemberut. Bergabung bersamanya di meja makan.

 

***

Aku terbangun oleh mimpi yang sudah lama tidak pernah aku lihat. Kenapa tiba-tiba aku memimpikannya. Kenangan itu.

Phwwwhhh

Aku melirik jam tidur di samping tempat tidur. Ini masih pagi dan seseorang berani membangunkanku.

Ting Tong!

Bel apartement itu kembali berbunyi. Aku menyibak selimut. Turun dari ranjang dengan setengah kesal.

Aku mengintip dari lubang pintu, mendapati Steph berdiri tegap di depan sana.

“Jessie!!! Aku pikir kau masih tidur” Steph menghambur ke arahku.

“Well, seseorang membangunkanku dengan sangat baik” aku mempersilahkan dia masuk

“Apa yang membawamu kemari?”

“Ini tentang … Kim Taeng”

“Aku sudah bilang padamu, aku tidak ingin mendengar apapun tentangnya saat ini.” Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang lain.

“Dia sedang koma di rumah sakit. Dia membutuhkanmu”

“Kenapa dia membutuhkanku sementara ada kau yang selalu di sisinya”

“Karena aku berbeda denganmu”

“Tentu saja. Kau lebih baik dari aku.”

“Tidak, bukan itu maksudku, Jessie …”

“Dengar Steph, jika kau kemari karena ini, sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin terlibat apapun lagi dengannya.” Aku membukakan pintu, menyuruh Steph keluar dari apartementku.

“Dia membutuhkanmu.” Kata Steph sebelum akhirnya keluar. Aku menutup pintu, mengambil nafas panjang, sebelum akhirnya bersandar pada daun pintu dan sejenak menutup mata. Ada bulir halus yang mengalir dari sudut mataku.

***

Jam dinding kantor menunjukkan pukul 7 malam. Sudah waktunya pulang. Aku membereskan dokumen yang berserakan di meja. Memasukkan kembali dalam folder. Baru setelah semuanya rapi, aku mengambil tas slempang yang tersampir di kursi.

“Selamat malam sunbae” kataku sebelum keluar dari ruang kantor

“Hati-hati di jalan Jessica!”

“Ne!” aku mengangguk dengan seulas senyum.

Aku berjalan keluar kantor. Menyusuri jalan yang biasa ku lalui menuju halte bus.

“Phwwhhh!” Aku mendesah panjang. Untuk kesekian kalinya dalam hari ini, sosoknya terngiang dipikiranku.

***

“Sampai bertemu besok!” kata Ketua Tim, berlalu menuju dimana mobilnya terparkir.

“Ne!” jawab kami serempak. Aku dan teman-teman divisi berpisah di lobby kantor.

“Jessica!”

Aku berhenti ketika seseorang memanggil.

“Mau pulang bersama?” tawar salah seorang teman kantor. Belum sempat aku menolak, seseorang yang lain sudah menghampiriku.

“Hei”

Aku tersenyum.

“Ayo!” ia menawarkan telapak tangannya padaku.

“Permisi sunbae!” pamitku.

Aku melihat semburat kekecewaan dalam wajah sunbae, tapi siapa peduli.

“Bagaimana hari ini?” tanyanya.

“Great!!!!”

“Kau tahu, desaign yang aku lembur selama tiga hari. Ketua Tim memilih design ku untuk produk bulan depan. Kerja kerasku tidak sia-sia”

“Selamat!!!” ujar lelaki itu sembari bertepuk tangan mengitari wajahku.

“Ayo! Aku traktir makan.” Aku menggaitkan tanganku pada lengannya. Menuju tempat makan favorit kami.

Daging sapi Korea memang mahal untuk kelas kami. Ini bukan menu yang biasa kami pesan. Tapi kali ini, untuk merayakan moment istimewa sesekali tidak masalah, bukan?!

“Ya .. semoga kau sering mendapat promosi, jadi kita sering makan enak” celotehnya

“Terima kasih”

“Aaaa!” lelaki itu menyuapi daging yang baru saja matang.

“Panas!!!” aku mengipasi mulutku yang seperti terbakar

“Maaf … maaf”

“Coba yang ini” kali ini dia sudah mengipasi dengan tangan terebih dahulu.

Kami menikmati makan malam kami dengan obrolan santai. Sesekali dia melucu yang membuatku hampir tersendak.

“Jessica!” panggilnya. Kami sudah sampai di depan apartementku

“Ya …” kataku sibuk memeriksa sesuatu di dalam tas.

“Ada apa?!” lanjutku begitu sudah menemukan kunci apartement yang aku cari.

Lelaki ini menggenggam kedua tanganku erat. Matanya mengisyaratkanku untuk menatapnya lekat-lekat.

“Aku bukan lelaki sempurna. Aku bukan lelaki terbaik yang pernah bersanding denganmu. Tapi aku akan berusaha keras demi kebahagiaanmu. Untuk kita.”

Lelaki ini mengeluarkan box cincin dari dalam sakunya. Ia menarik nafas panjang sebelum berujar,

“Jessica, maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Membangun bahtera rumah tangga kita bersama. Mengarungi pahit-manis hidup bersama”

Untuk sesaat aku pikir apa yang dikatakan lelaki ini hanyalah bualan. Tapi ketika angin malam menerbangkan sebagian rambutku, dan ketika tangannya berusaha merapikan rambutku yang terbawa angin, aku tahu dia serius. Sangat serius.

Ketika aku hendak mengulurkan tangan kiriku. Mengisyaratkan dia untuk memasang cincin tersebut pada jari manis, cairan merah kental mengalir melalui hidung.

“Kim Taeng! Hidung mu berdarah” aku panik. Mencari tissue di dalam tas.

***

Langkah kakiku terhenti ketika mendapati sosok yang sudah tidak asing sedang berdiri di depan pintu apartement, menunggu kedatanganku.

“Jessie!”

Aku menarik nafas, sebelum berjalan melewatinya.

“Jessie, tunggu!!!” orang itu menarik pergelangan tanganku. Memaksaku berbalik.

“Dengarkan aku!”

“Aku lelah Steph, ku mohon” aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya.

“Dengarkan aku kali ini saja. Setelah itu aku akan pergi”

Aku menarik napas dalam sebelum akhirnya mempersilahkan Steph masuk.

 

***

“Jessie!!!!!” perempuan blonde itu melambaikan tangan dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Ini sudah hampir satu tahun kami tidak bertemu. Semenjak kepindahannya ke USA. Benar-benar membuatku iri.

“Steph!!! It’s been long time”

“I Miss You!!!” kami berpelukan

“Miss you too babe. How was New York?”

“It was great. Kau harus datang mengunjungiku sesekali.”

Aku mengangguk. Kami berjalan menuju tempat makan di depan taman kota, tempat biasa kami nongkrong dulu.

Aku dan Steph berkuliah di kampus yang sama. Aku mengambil Design dan Steph tertarik dengan dunia jurnalis. Kami tergabung dalam salah satu organisasi kampus yang bergerak dibidang sosial manajemen dan semenjak saat itu kami menjadi akrab.

“Kau menetap di sini?” tanyaku sembari mengaduk-aduk fruity lemon squash yang baru datang.

Steph menggoyangkan jari telunjuk ke kanan dan ke kiri, sementara mulutnya sibuk mengunyah pasta.

“Aku ke sini untuk mengunjungi sepupuku yang sakit”

“Sakit?”

“APS. Anti Phospolipid Syndrome”

“Dia masih muda. Satu tahun di atas kita. Aku tidak menyangka dia harus berjuang dengan penyakit ini” jelas Steph tertuduk dalam. Ada gurat kesedihan dalam wajahnya.

“Anyway Jessie, sepupu sangat tampan. Aku yakin kau akan jatuh cinta jika bertemu dengannya”

“Pphuuh!” aku sengaja mengejek Steph. Menghasilkan semburat senyum lebar dari wajahnya. Begitu pula denganku.

***

Steph dan aku duduk di sofa tamu. Aku menyilangkan tangan dan kaki, menunggu apa yang hendak diucapkan. Steph mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku.

“Ini buku diary Kim Taeng” katanya.

Aku melirik buku itu sekilas tanpa bermaksud untuk menyentuhnya.

“Kau tahu apa yang Kim Taeng tuliskan di dalam sini?”

Aku mengalihkan pandangan. Tidak ada keinginan menanggapi pertanyaan Steph.

“Semuanya, hanya namamu yang tertulis di buku ini. Hari-hari saat bersamamu.”

Bohong!

***

Hari itu kami hendak bertemu di taman kota kawasan Hongdae. Aku menunggu di sudut taman. Duduk di bangku di bawah pohon sembari memperhatikan sekitar. Sekumpulan muda-mudi sedang mengitari pusat taman. Melihat pertunjukan band Indie yang kebetulan sedang unjuk kebolehan. Tiga lagu sudah yang band Indie tersebut mainkan, namun orang yang aku tunggu belum juga nampak. Akhirnya tepat di lagu yang ke empat, sosok lelaki itu terlihat di antara keramaian. Aku melambaikan tangan.

“Hai” sapaku tersenyum.

Lelaki itu mendekat.

“Jessica, ”

Ia menarik napas panjang sebelum berucap,

“Kita hentikan sampai di sini”

Aku memiringkan kepalaku, mencoba mencerna apa yang baru saja lelaki ini katakan.

“Mari akhiri semuanya.” Tegasnya

Keningku mengkerut. Ada yang salah dengannya. Wajahnya membatu. Sorot matanya melihat entah kemana.

“Ada apa?” heranku

“Kim Taeng, ” Aku memaksa matanya untuk menatap mataku

“Katakan! Apa sebenarnya yang terjadi”

“Aku … hanya bosan denganmu” jelasnya mengalihkan pandangan ke arah yang lain

“Bohong! Kau baru saja melamarku kemarin”

“Aku mulai memikirkan kembali beberapa hari ini. Kau bukan orang tepat untuk menjadi pendamping hidupku.”

“Kim Taeng! Jangan bercanda!”

“Aku serius Jessica. Aku bosan denganmu. Kau tidak pantas menjadi istriku. Menjadi ibu dari anak-anak. Kau sama sekali tidak pantas.”

Ada hawa menusuk tajam dalam hatiku ketika lelaki ini mengakhir kalimatnya. Aku menggigit bibir bawahku, menahan air mata agar tidak jatuh. Perlahan genggaman tanganku pada lengannya melemas. Jatuh di udara.

“Ku harap kau mendapat lelaki yang baik. Semoga kau bahagia Jessica” ucapnya sebelum pergi.

Aku jatuh terduduk. Air mataku pelan-pelan mengalir. Tatapan mataku kosong. Kenapa tiba-tiba seperti ini. Aku memikirkan kembali apa yang salah pada diriku, pada hubungan kita. Hingga pada akhirnya aku masih tidak mengerti. Aku menangis di sana untuk waktu yang tidak singkat.

Tiga bulan berlalu. Lelaki itu benar-benar serius dengan ucapannya. Hubungan kami berakhir. Tidak ada yang tersisa. Hari itu adalah hari terakhir dia menemuiku.

***

Steph berlanjut mengeluarkan box dari tasnya lagi. Dia membuka box tersebut. Sebuah cincin dengan berlian putih kecil terpasang di atas.

“Kau ingat cincin ini?” kata Steph. Menunjukkan cincin berlian putih.

Bagaimana mungkin aku lupa. Cincin yang kau pakai saat memperkenalkan Kim Taeng sebagai tunanganmu. Cincin yang sama saat lelaki itu melamarku.

***

Bulan ke enam sejak lelaki itu pergi dari kehidupanku. Hari ini sunbae mengajakku jalan-jalan ke Everland Theme Park. Terus terang, semenjak hari itu, aku lebih sering menyendiri. Bekerja sampai lupa waktu. Menyibukkan diri. Menghabiskan hari libur dengan tidur. Berdiam diri di rumah.

“Kau harus keluar Jessica. Melihat sinar matahari, jika kau tidak ingin kulirmu cepat keriput” kata sunbae.

Meskipun ada banyak wahana bermain di Amusement Park ini, tapi hatiku masih tetap kosong. Aku tidak bisa tertawa lepas ketika melihat sirkus, atau berteriak ketakutan saat memasuki rumah hantu. Ekpressi wajahku datar. Tidak menunjukkan ketertarikan.

“Kau mau Ice Cream?” tawar sunbae. Aku tersadar dari lamunanku, lantas mengangguk. Sunbae segera menghilang dari hadapanku.

Aku duduk di bangku sampingku. Everland hari ini sangat ramai. Mungkin karena hari libur. Dari kejauhan aku melihat sosok yang sudah familiar bagiku. Aku berjalan mendekatinya.

“Steph!!!” Panggilku melambaikan tangan.

“O My God!!! Jessiiiee!!!!” teriaknya histeris menghambur ke arahku.

“Kau sendirian?” tanyanya

“Aku bersama temanku”

“Teman?” selidiknya menggoda

“Teman!” tegasku

“Kau?” balasku balik bertanya

“Aku bersama seseorang”

“Ya!!! Kau tidak pernah bilang padaku, kau sudah bertunangan” candaku saat melihat cincin berlian tersemat di jari manis sebelah kiri Steph. Cincin yang sepertinya tidak asing.

“Well, ini belum lama” katanya memamerkan cincin di jemarinya

“Oppa!!!!” Steph memanggil seseorang yang sedang asyik memotret di sekitar area wahana. Aku tersendak kaget ketika lelaki yang dipanggil Steph mendekat.

“Jessie .. kenalkan, dia …”

“Tunangan” potong lelaki itu menyodorkan tangan. Mengajakku berjabat tangan.

What?!!!! Aku pikir Steph bercanda dengan cincin tunangan tadi.

“Kim Taeng” imbuh Steph.

“Jee … Jessica” aku membungkuk memperkenalkan diri. Membiarkan tangan lelaki itu menggantung di udara.

“Well, Jessie .. sepertinya kita berpisah di sini”

“See ya” Steph memelukku sebelum pergi

“Senang bertemu denganmu, Jessica” Lelaki itu menepuk bahuku sebelum menyusul langkah Steph. Aku masih membatu di tempat. Tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Kim Taeng dan Steph. Tunangan.

“Hei, aku mencarimu kemana-mana” Sunbae datang dengan dua ice cream di tangannya.

“Ayo kita pulang” kataku, meninggalkan sunbae yang kebingungan.

 

***

“Semua yang hendak aku katakan ada di sini” kata Steph. Menyodorkan buku Diary Kim Taeng yang tergeletak di atas meja ke arah ku.

“Baca halaman yang sudah aku tandai”

“Sekarang semua terserah padamu Jessie”

“Kim Taeng … dia benar-benar membutuhkanmu, Jessica!” Steph melangkah keluar. Meninggalkan buku diary dan cincin berlian itu di atas meja.

Aku mengambil buku diary Kim Taeng. Membuka sampul halaman pertama. Foto kami berdua menyambut mataku. Foto yang di ambil saat kencan pertama kami di Lotte World.

“First date – with my beautiful princess”

Tertulis di bawah foto tersebut. Aku melanjutkan di halaman kedua. Kali ini foto saat kami mendaki gunung bersama sahabat kami. Wajah kelelahan setelah mendaki sepanjang 3676 meter dpl terabadikan di foto tersebut. Aku tanpa sadar tersenyum, menyentuh foto tersebut . Aku berangsur menuju halaman yang di maksud Steph. Hatiku tersentak saat membaca apa yang tertulis di dalamnya.

***

Sabtu, 15 November 2014

Hari ini aku pergi ke toko cincin. Melihat-melihat. Ada satu cincin berlian yang menarik perhatianku. Cincin dengan berlian putih mengitari lubang cincin tersebut. Cincin tersebut pasti akan bagus dipakainya. Aaah sayangnya uangku belum cukup.

 

Kamis, 11 Desember 2014

Aku pergi ke toko cincin yang sama di hari itu. Pemilik toko bilang cincin yang aku maksud baru saja terjual. Sial. Aku terlambat sedikit. Pemilik toko menawarkan cincin yang lain. Cincin yang lebih indah dari yang aku pilih kemarin. Cincin dengan berlian putih kecil di atasnya. Dan sekarang cincin tersebut ada di tanganku. Besok, aku akan melamarnya.

 

Sabtu, 13 Desember 2014

Aku tidak percaya aku mengatakannya. “Jessica, maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku. Menjadi ibu dari anak-anakku”. Ahhh kenapa hidungku harus berdarah di saat penting seperti tadi.

 

Senin, 15 Desember 2014

APS (Anti Phospolipid Syndrome) adalah ganguang pada sistem pembekuan darah yang dapat menyebabkan thrombosis pada arteri dan vena serta dapat mengakibatkan berbagai ganguan seperti stroke, lumpuh hingga kehilangan penglihatan.

Rasanya aku ingin menangis. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

 

Sabtu, 20 Desember 2014

Hari ini aku mengakhiri semuanya. Hari dimana dia akan memberikan jawaban atas lamaranku. Di taman Hongdae. Aku melihatnya menangis sampai malam datang.

Aku tidak boleh egois

Dia harus bahagia. Jika dia tetap bersamaku. Dia akan menghabiskan harinya untuk merawat manusia lumpuh dan penyakitan.

Selamat tinggal, kasihku

Selasa, 30 Desember 2014

Sepulangku dari taman Hongdae. Aku terjatuh saat turun dari bus. Beruntung orang-orang segera membawaku ke rumah sakit. Tiga hari aku tidak sadarkan diri. Dan saat terbangun, tangan dan kakiku tidak bisa bergerak. Mulutku kaku. Aku tidak bisa berbicara dengan jelas. Sepertinya penyakit ini mulai menyerangku.

 

Sabtu, 3 Januari 2015

Terapi pertamaku. Rasanya aku ingin menyerah saja. Kakiku benar-benar sakit jika aku paksakan berjalan. Berkali-kali aku terjatuh. Steph yang cerewet itu terus saja menyuruhku untuk melangkah. Hari ini aku berhasil berjalan 3 langkah.

 

Selasa. 2 Juni 2015

Steph berbaik hati membantuku mengepak barang-barang yang sudah tidak berguna. Di tengah keasyikanku mengepak buku bekas, Steph menemukan box cincin berlian. Cincin yang seharusnya sudah tersemat di jari manis tangan kirinya.

Steph meminta ijin untuk memakainya. Dia bilang, cincin seindah ini, sayang jika hanya tersimpan di laci meja.

Well, selama kau tidak menghilangkannya Steph.

 

Sabtu, 20 Juni 2015

Hari ini Steph mengajakkku jalan-jalan ke Amusement Park untuk merayakan hari dimana aku membuang kruk yang beberapa bulan terakhir ini selalu menemaniku. Enam bulan menjalani terapi. Akhirnya aku berhasil berjalan tanpa alat bantu. Proud of me.

Kami berkeliling mengitari hampir seluruh taman. Melelahkan.

Aku asyik mengambil gambar. Mencari objek yang menarik. Ketika aku sedang memotret seorang anak yang senang di belikan ice cream oleh ibunya, aku tanpa sengaja melihatnya. Dia yang aku rindu sedang berjalan bersama seseorang. Kalo tidak salah sunbaenya di tempat kerja. Wajahnya menunduk. Tatapan matanya kosong.

Jessica, bagaimana kabarmu?

Aku dan Steph beristirahat sembari menikmati ice cream. Tiba-tiba seorang pasangan datang, meminta tolong untuk di foto. Dan ketika aku sudah selesai. Steph tiba-tiba sudah bersama Jessica. Aku tidak tahu jika Jessica adalah sabahat Amerika yang selalu diceritakan. Sabahat yang selalu dia promosikan padaku.

Steph memanggilku. Memintaku bergabung. Aku … entah kenapa memperkenalkan diri sebagai tunangan Steph. Aku melihat gurat kesedihan, kemarahan, keterkejutan dan kekecewaan jadi satu dalam wajahnya.

Maaf Jessica.

***

Aku menghambur keluar setelah membaca pesan yang di tinggalkan Kim Taeng di halaman terakhir. Tanganku melambai di jalanan memanggil taxi yang lewat.

“Jessica, over here!!!!” Steph melambaikan tangan. Di sampingnya sudah ada taxi yang terparkir. Sepertinya sedari tadi dia menungguku di luar. Aku berlari ke arahnya. Bergegas masuk.

“Rumah Sakit” kataku cepat. Menyuruh supir taxi untuk ngebut. Secepatnya.

“Kondisinya tiba-tiba kritis” kata Steph di tengah huru-hara detak jantungku yang tak menentu.

“Tolong lebih cepat, ahjussi!!” seruku tidak sabar. Meskipun aku tahu ahjussi sudah berusaha ngebut secepat mungkin.

“Bagaimana dia bisa kecelakaan?” tanyaku

“Ada anak kecil yang berdiri di tengah trotoar saat lampu hijau. Kim Taeng berhasil menyelamatkan anak kecil itu, namun sayangnya ada mobil melaju dari arah yang lain.”

Mendengar penjelasan Steph membuatku semakin tidak tenang. Aku segera berlari menuju ruang operasi begitu taxi berhenti tepat di depan rumah sakit. Setelah membayar bill taxi, Steph lantas menyusulku.

Ada banyak orang yang menunggu di depan ruang operasi. Kedua orang tua Kim Taeng, adik Kim Taeng dan beberapa kerabat yang sebagian sudah ku kenal.

“Jessica!” Ibu Kim Taeng berhambur mendekatiku

“Bagaimana keadaannya?”

Ibu Kim Taeng menggeleng. Mata beliau berkaca-kaca.

“Dokter baru saja masuk” adik Kim Taeng menjawab pertanyaanku

Aku memeluk Ibu Kim Taeng. Mengelus pelan bahu beliau. Mencoba menguatkan. Meskipun sebenarnya hatiku sudah menangis.

Lima menit berlalu. Pintu ruang operasi terbuka. Kami berhambur mendekati sang dokter. Dokter menarik napas panjang, sebelum akhirnya menggeleng lemas.

“Kami minta maaf. Kami sudah berusaha sebisa kami” ucap dokter menyesal, sebelum akhirnya berlalu. Selang beberapa detik dua orang perawat keluar dengan kereta dorong. Membawa tubuh Kim Taeng yang tertutup selimut. Aku reflek menghentikan kereta dorong. Pelan-pelan membuka selimut. Air mataku menetes begitu mendapati wajah pucat Kim Taeng di balik selimut tersebut.

Perawat itu menyuruhku menjauh. Mereka berlalu membawa tubuh Kim Taeng entah kemana. Steph menarik tubuhku. Mengusap pelan lenganku. Aku menyandarkan kepalaku dalam pelukan Steph. Aku sesugukan. Menangis. Kami semua menangis.

***

Dear Jessica,

How are you?

Hari-hari bersama mu benar-benar menyenangkan. Aku tidak menyesal sedikitpun. Tidak terbesit dalam benakku aku harus pergi secepat ini.

Kau tidak sedang mengurung diri di dalam rumah, bukan?

Tidak Jessica. Tidak ada yang salah dengan hubungan kita. Hanya saja, aku terlalu egois jika memintamu untuk tetap bersama.

Aku bisa melihat kelak kau akan jadi istri yang baik juga ibu yang bertanggung jawab. Kau akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan hebat. Membesarkan mereka penuh kasih sayang.

Jadi Jessica, tersenyumlah. Tegakkan pandanganmu. Lihat dunia. Jangan menutup pintu, biarkan orang baru masuk.

Tidak ada alasan bagimu untuk menangisiku. Takdirmu adalah bahagia. Bersamaku atau tidak bersamaku.

Always, Kim Taeng

 

The End


Alhamdulillah, saya kembali bisa menulis setelah sekian lama vakum. Saya minta maaf buat para readers atas kekosongan yang cukup lama dalam blog ini. Semoga ke depannya saya bisa konsisten mengisi blog ini dengan cerita yang inspirative dan menghibur.

Salam,

Audrey, S.

Beidewei, segenap crew naichloride mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H

Taqobbalallahu Minna wa Minkum

Tinggalkan komentar