Stop All the Pretend Things – Chapter 6

Chapter 6

The Rooftop Bully

snsd-yoona-innisfree-2015

“Kita tidak bisa memaksa seseorang memiliki perasaan yang sama, juga kita bisa bahagia dengan pura-pura mereka memiliki perasaan yang sama seperti kita”

-Im Yoona-

“Jadi murid Jung, ada beberapa hal yang harus kamu ingat sebagai murid baru di sekolah ini.” Jessica melihat folder yang diberikan guru itu padanya. “Namamu Jung Sooyeon atau Jessica Jung, yang mana nama aslimu?”

“Keduanya.” kata Jessica, dan dia tidak ingin menjelaskan lebih atau akan jadi masalah besar.

“Oke Jessica, aku akan mengatakan padamu sesuatu yang sangat penting tentang sekolah ini!” Mrs. Ahn mengambil satu kertas dari folder Jessica yang tertulis dengan bahasa Korea dan satu lagi dengan bahasa Inggris. “Peraturan” Jessica mengintip kertas tersebut, sialnya dia benci peraturan. “SMA SM bukan hanya sekolah biasa di Korea.”

“Ya, aku tahu. Dengan biaya sekolah yang sangat mahal, sangat tidak mungkin hanya menjadi sekolah normal.” terang Jessica apa adanya, itu tidak seperti dia khawatir tentang biaya sekolahnya, keluarga itu sudah membayar untuknya, tapi bagi Jessica biaya sekolah adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dia bisa masuk Julliard dengan nilai uang ini.

Mrs. Ahn membelalakkan matanya, “Tidak sopan memotong gurumu, noona Jung. Kurasa kau harus mengambil tambahan kelas etika.” Dia menaikkan suaranya. “Ini adalah sekolah terkenal untuk keluarga chaebol, hampir dari semua orang kaya masuk sekolah ini dan kita menghasilkan siswa berpendidikan tinggi.”

“Lalu?” dia bahkan tidak tertarik dengan sekolah ini.

“Lalu? Wah, kami memiliki peraturan sekolah dan kamu sudah setidaknya melanggar satu peraturan.” Mrs. Ahn benar-benar ingin membanting tangannya ke meja. “Rambut pirang dilarang kecuali untuk siswa internasional, tapi kamu sepertinya orang Korea jadi tentunya kamu punya rambut hitam.”

“Anda mengatakan bahwa sekolah ini menghasilkan siswa berpendidikan tinggi, aku tidak berpikir warna rambut akan jadi masalah.” jawab Jessica santai. “Lagi pula aku dari London.” Baca lebih lanjut

Masterpiece

007124100_1425535729-jessica-jung-ysl-fusion-ink-foundation-commercial

Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur empuk yang selalu rapi saat aku kembali ke dorm. Dammit! hatiku mengumpat. Aku mengerang frustasi, memegangi kepalaku.

“Masterpiece” kata itu berkelit dalam pirikannku sejak tadi. Aku mengangkat tanganku seolah ingin menggapai langit-langit kamar.

“Oh … ini belum malam, bukan?” teman sekamarku baru saja pulang dari party dengan entah siapa. Aku tidak peduli.

“Kenapa kau masih terjaga?”

“Well, ada sesuatu yang harus aku kerjakan” aku melanjutkan draft design yang belum selesai.

“Apa?!” teriaknya dari ruang ganti.

“Tidak, bukan apa-apa”

“Hey … mau berbagi rahasia dengan teman sekamarmu?” tawarnya selesai berganti baju. Aku mendudukkan posisiku berhadapan dengannya.

“Come on, kau pikir kami tidak tahu kau diam-diam selalu bertemu laki-laki”

“Kau tahu?” Mataku membulat.

“Come-on Jung! Kita sudah tinggal bersama hampir 7 tahun. Kenapa kau tidak memberi tahu kami, atau setidaknya Taeyeon”

Aku menggeleng tidak jelas.

“Dia sedang banyak pikiran, aku tidak ingin menambah bebannya”

Sooyoung memincingkan matanya.

“Well, aku hanya tidak yakin akan sesuatu”

“Design-mu?”

“Aku pikir aku bisa membuat design yang lebih baik. Aku bisa melauchingkan brand-ku sendiri. Tapi nyatanya design yang ku hasilkan hanya kumpulan sampah. Aku tidak tahu. Aku frustasi.”

“Come-on Jung! Apa yang membuat Jessica yang biasanya percaya diri menjadi sekacau ini. Kau Jessica Jung. Kau yang paling berbakat di antara kami. Kau punya mata elang untuk melihat fashion yang baik. You are Almighty Jessica Jung. Yeah!!!!”

Aku bisa mencium bau alcohol keluar dari mulutnya saat berteriak. Dia mabuk. Tapi kalimatnya cukup memberiku sedikit semangat.

“Merasa lebih baik?”

Aku mengangguk kecil.

“Baiklah, ayo tidur. Kita ada latihan besok pagi.” Wanita itu menghambur ke arahku. Memelukku dan menciummiku.

“YAH!!!!! Get Away!!!!!”

.

Aku berlari ke lobby gedung agency dimana aku bekerja begitu keluar dari mobil. Seriously. I’m late. Aku menggerutu frustasi. Ini karena semalam lembur mengerjakan draft design yang hendak aku berikan pada tuan Investor.

“Tunggu!!!” teriakku saat melihat pintu lift yang hampir menutup. Aku menahan pintu lift dengan dokumen yang ada ditanganku.

“Phwhhh”

“Anyyeong sunbae!” sapa perempuan di dalam lift.

“Ne … anyyeong … emm …” aku mencoba mengingat siapa sosok yang ada dihadapanku saat ini. Salah seorang rookie di agency-ku.

“Wendy” katanya

“Ahh .. Toronto!” aku tertarik pada suaranya saat pertama mendengarnya. Aku hanya ingat daerah asalnya namun tidak cukup pintar untuk mengingat namanya.

TING!!!

Pintu lift terbuka.

“Bye Toronto!” lariku semakin cepat begitu keluar dari lift. Dammit. Aku akan kena marah lagi. Aku membuka pintu ruang latihan dengan suara berisik. My bad! Sekarang perhatian semua orang yang tadinya fokus latihan beralih pada ku.

Aku bisa merasakan tatapan tajam dari Kim Taeyeon. Ia berjalan mendekat, melipat tangan.

“Kau terlambat!” katanya dingin.

“Aku tahu .. aku min-“

“Kau tahu dan kau masih terlambat!”

“Pergi!” serunya

Aku terkejut dengan apa yang dikatakannya. Oke, aku salah, tapi tidak seharusnya dia mengusirku.

“Listen! Aku minta maaf Taeyeon, ada hal penting yang harus aku kerjakan”

“Apa yang lebih penting dari SNSD?! Hah! Kau pikir kami tidak tahu kau bertingkah aneh akhir-akhir ini” teriak Taeyeon

“Come-on Sica, katakan saja padanya sekarang!” kata Sooyoung.

“Apa? Kau merahasiakan sesuatu dari kita?”

“Hey! Listen up you guys! Aku tidak ingin kalian bertengkar. Kalian berdua paling tua dalam grup ini. Mari bicarakan ini baik-baik” Kata Stephanie menengahi.

“Okay. Akan aku katakan. Aku ingin membuat brand fashion-ku sendiri dan ada seorang investor dengan reputasi yang bagus berbaik hati ingin melihat desaign-ku. See, aku juga punya kehidupan yang lain.”

“Kenapa kau menyembunyikan dari kami”

“We are family unnie” maknae Joohyun ikut bersuara

“Karena kau terlalu sibuk memikirkan scandalmu dengan Baekhyun. Kalian semua sibuk memikirkan urusan kalian. Aku satu-satunya orang yang memikirkan hidupku setelah pensiun dari SNSD”

“Apa yang salah menjadi SNSD selamanya? Kita telah bersama selama 7 tahun.”

“Ya, kita tidak mungkin menjadi SNSD selamanya Almighty Leader Kim Taeyeon. Orang-orang tidak ingin melihat wanita tua menari dan menggunakan pakaian seksi. Agency akan mengganti kita dengan kelompok yang lebih muda dan menyegarkan. Kita harus memikirkan hidup setelahnya sebelum kita di tendang!”

“Oke. Kau menyembunyikan rencanamu dari kita selama hampir satu tahun. Dan sekarang saat rencanamu sempurna kau mau berhenti, sementara kita akan comeback dalam waktu dekat”

“Persetan dengan comeback! Aku pergi!”

“Kau pergi?!”

“Yeah, kau mengusirku, bukan?!”

“Jessica, Watch Out!!” Stephanie memperingatkan, namun terlambat. Aku terburu menabrak pintu yang tiba-tiba terbuka. Terpeleset dan jatuh tersungkur dengan punggung menghantam keras ke lantai.

“Ough!!” aku mendesah. Aku mencoba berdiri. Namun sepertinya ada yang tidak beres dengan tulang belakangku.

“Itu yang di sebut karma” kata Taeyeon

“Itu yang kau katakan saat temanmu terkena musibah?!”

“Friend? Setelah kau puas mengataiku sekarang kau berharap kita masih berteman?”

“Okay, aku minta maaf untuk tadi. Aku rasanya ingin mati. Sekarang bisa tolong bantu aku?!”

“Please?!” aku mengulurkan tangan. Taeyeon terpaksa menyambut tanganku, membantuku berdiri

“Pelan-pelan” ucapku. Taeyeon dan yang lainnya memapahku menuju sofa di ruang lain.

“Well, aku tahu kita tidak akan menjadi idol selamanya. Jadi aku mulai memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah pensiun. Aku mulai mencari passion-ku. Fashion. Tapi nyatanya itu tidak berjalan lancar. Aku pikir aku bisa melakukannya. Aku tidak ingin gagal. Aku harap aku bisa seperti kalian, melakukan semuanya dengan terkendali.”

“Ayolah unnie, kita semua pernah mengalami masa yang sama”

“Yeah, kau meletakkan banyak tekanan pada dirimu Jung”

“Kau lupa, kita selalu ada di sampingmu”

“SNSD, Forever!!” Taeyeon meletakkan tangannya di tengah, kami semua mengikuti.

“Forever!” teriak kami kemudian tertawa.

.

Aku menunggu dengan sabar kalimat yang akan terucap dari pria 30-an yang sedang melihat hasil design-ku. Calon investorku.

“Well,” ia melepas kacamatanya. Meletakkan draft ku di atas meja. Pandangannya serius menatap ke araku. Jantungku berdetak tidak karuan.

“Jadi kau ingin membuat brand fashion dengan ini?”

“Ya, aku membuatnya sendiri”

“Aku punya saran, sebaiknya kau belajar design dari awal. Sekolah di New York, mungkin. Ini draft yang cukup bagus, kau punya mata yang bagus, Jessica.”

“Well, aku harap kita bisa bekerja sama. Akan aku hubungi kau nanti!” katanya menjabat tanganku

“Good job Jung” serunya kemudian pergi.

Aku tidak bisa menyembunyikan senyum lebarku. Dammit! Pria itu akan menjadi investor-ku. Aku bersorak dalam hati. Thank God! I make it. Sebuah awal untuk masterpiece.

 


Hallo :p

Entah ini cerita macam apa. saya stress, jadi saya menuangkan luapan pikiran saya dalam bentuk tulisan, dan jadilah .. “Masterpiece” Haha.

Cerita ini terinspirasi dari salah satu scene dalam film Picth Perfect 2. Yeah!!! Film yang bagus. Bagi yang belum menonton film tersebut, silahkan kalo ada waktu luang dan kouta lebih download film tersebut ya .. sebelum situs film bajakannya di blokir. See ya ..

Salam,

Audrey, S

Who Will Be My Choice – Prolog

Choice Prolog

“Aku tidak melihat apa yang orang lain lihat. Aku tidak melihat apa yang ingin aku lihat. Aku melihat apa yang tidak mereka lihat. Aku melihat apa yang tidak ingin aku lihat.”

  • Jessica Jung

 

“Jessica Jung, artis yang juga pengusaha yang sukses menjalankan bisnisnya”

Begitulah judul headline majalah yang sedang dipegang Jessica. Ia membaca sekilas artikel yang memuat tentang dirinya di majalah tersebut. Ini sudah hampir lima tahun wanita itu bergelut di dunia bisnis dan dua tahun tepatnya menjadi debut menjadi penyanyi solo pasca keluarnya dia dari idol yang sudah membesarkan namanya, Girls’ Generation.

Jessica memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk. Dari Stephanie.

“Jessie, kau datang bukan?!”

Hari ini adalah perayaan 15 tahun debut mereka. Hampir setengah dari umur mereka. 15 tahun sudah mereka menjajaki dunia entertainer. Hitam putih panggung dunia yang penuh topeng dan drama.

Setelah memarkir mobilnya, Jessica memasuki mansion tempat dimana pesta mereka di adakan. Sudah lama rasanya ia tidak bertandang ke rumah mewah ini. Tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali foto putri pemilik mansion bersama tunangannya.

“Selamat malam, noona Jessica” salah seorang pelayan pemilik rumah menyapa.

“Malam, Kim Ahjussi. Mereka sudah di sana?”

“Ne! para wanita sudah di sana sejak tadi”

“Benarkah? Aku akan ke sana. Senang bertemu denganmu kembali, Kim Ahjussi”

“Ne!” Kim Ahjumma berlalu.

Jessica segera menuju halaman belakang dimana teman-temannya berkumpul. Lagu Girl’s Generation menyambut Jessica begitu ia bergabung bersama para wanita. Sebagian dari mereka sibuk menata meja dan sampanye. Sebagian yang lain asyik memanggang daging, hingga tidak menyadari kedatangannya.

“Hai guys!” serunya.

“Well, Well lihat siapa yang datang” kata sang pemilik mansion. Seluruh perhatian mendadak beralih pada Jessica.

“Wow! Direktur Jung ada di sini”

“Waaah, ini dia bintang malam ini”

“Selamat atas pertunanganmu Sooyoung-ah. Foto yang kau pasang di lobby, keren!” ujar Jessica memeluk singkat sahabatnya.

“Terima kasih”

“Jessie, kau datang” Stephanie menghambur ke arahnya.

“Ya! kau mengingatkanku hampir setiap jam”

Semua orang terkekeh.

“Dimana uri leader-nim” tanya Jessica. Hanya sang ketua yang tidak nampak kehadirannya di halaman belakang.

“Taeyeon unnie sedang menidurkan Kim Hana” jawab Seohyun, yang sedang membolak-balikan daging di pemanggang.

“Hei stupid! Apa kau tahu adikmu sedang hamil?” seru Hyoyeon

“Jinja? Kau sedang hamil Joohyun-ah?”

“Ani! Yoona unnie”

“Dammit! Kalian benar-benar”

“Ya! Adikku selamat!” katanya pada Yoona yang sibuk menata meja bersama Stephanie.

“Terima kasih unnie! Kau tidak memberiku hadiah?”

“Akan aku kirim ke rumahmu besok”

“Ya! Jung, kau bahkan tidak memberi hadiah di ulang tahunku”

Taeyeon datang bersama Sunny dengan 2 botol wine di tangan mereka.

“Aku menyumbang lagu untukmu, Kim Taeyeon” Jessica membela diri

“Kau juga tidak memberiku hadiah pertunangan Jung Sajangnim” anggota yang lain ikut menyeruak

“Kau tidak datang di hari ulang tahunku, Sica!”

“What the hell you guys! Guedae akan aku kirim ke rumah kalian satu-satu, araseo!!!”

Semuanya tertawa akan jawaban Jessica. Wanita ini masih sama. Sakartis. Diantara mereka hanya Jessica yang jarang berkumpul dengan sesama anggota. Kesibukannya sebagai CEO, designer juga penyanyi solo membuatnya jarang mempunyai waktu luang. Ia lebih sering hang-out dengan rekan bisnis, membangun relasi dan memperkuat perusahaan. Mereka pasti bertemu jika ada anggota yang menikah. Sesibuk apapun, ia akan meluangkan waktu untuk menghadiri pernikahan teman-temannya. Selain itu, jangan berharap banyak akan kedatangan Jessica Jung.

Setelah menghabiskan daging panggang dan makanan lainnya, para wanita duduk di rumput halaman belakang rumah Sooyoug beralaskan tikar. Di hadapan mereka tersaji beberapa camilan dan soft drink. Bukan wine, demi menghormati Yoona yang sedang hamil. Mereka menyanyikan lagu debut mereka sebagai Girls’ Generation diiringi petikan gitar dari Seohyun. Selesai bernyanyi, Hyoyeon mengajak Sooyoung dan Yuri untuk battle dance yang kemudian diikuti oleh semua member. Mereka bersenang-senang. Memparodikan lagu mereka. Bernostalgia. Berkumpul bersama membuat mengenang masa muda mereka.

“Guys, ayo bermain” seru Yuri

“What a game?” tanya Stephanie

“Truth or dare”

“Ya! Kwon Yuri, kita sudah dewasa”

“Kita masih pantas, Jessica Jung!”

“Siapa yang ikut?” Yuri mengangkat tangan, semunya mengikuti kecuali satu orang. Jessica memutar bola matanya.

“Ya ampun!” keluhnya.

Mereka duduk membentuk lingkaran. Seohyun mengambil botol soft drink yang sudah kosong. Meletakkan di tengah.

“Kita mulai” seru Taeyeon. Botol mulai berputar cepat berangsur memelan dan berhenti tepat dihadapan …

“TAEYEON!!!” teriak mereka. Mata Taeyeon membelalak tak percaya. Jessica dan yang lainnya tertawa.

“Truth or dare?” tanya Hyoyeon

“Dare!!!”

Mereka memikirkan hukuman apa yang tepat untuk mantan laeder mereka.

“Aku tahu” celetuk Sunny. Ia mengambil beer dan mencampurnya dengan soju. Para wanita hanya tertawa melihat apa yang dilakukan Soolkyu. Taeyeon sangat buruk dalam minum. Tubuhnya tidak bisa merespon dengan baik jika berhubungan dengan minuman.

“Yah! Lee Sunkyu, aku masih harus menyetir nanti” protes Taeyeon

“One-shoot” suruhnya

“One-shoot! One-shoot! One-shoot!” para member bertepuk tangan menyemangati Taeyeon. Tepuk tangan menjadi semakin keras saat Taeyeon berhasil menghabiskan Somaek (campuran Beer dan Soju) dalam satu tegukan.

“Ya! (haik) Lee Sunkyu kau harus (haik) bertanggung jawab (haik) nanti”

“Akan aku telpon suamimu, Taeyeon-ah”

“YA!!! (haik)”

Para wanita terkekeh. Satu gelas sudah cukup membuat otak mantan leader mereka berputar. Taeyeon memutar kembali botol soft drink tersebut dan kali ini berhenti tepat di depan …

“YOONA!!!” teriak mereka bersamaan. Yoona menepuk keningnya.

“Truth or Dare”

“Dare!” jawab Yoona cukup percaya diri. Para unnie tidak mungkin menyuruhnya meminum Somaek karena dia sedang hamil.

“AAh!” Seohyun menjentikkan jari. Ia bangkit mengambil sisa daging panggang yang gosong, membungkusnya dengan daun selada dan tidak lupa dengan taburan segenggam garam.

“Yah! Joohyun-ah!!! Aku kakakmu!”

“Maaf unnie!”

“Maknae JJjang!!!” Jessica memberi jempol.

Yoona menghela napas berat sebelum memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Ekpressi wajahnya langsung memucat begitu mengunyah makanan racun buatan adik kesayangannya. Mengabaikan rasa yang beradu padu di lidahnya. Yoona menelan Bulgogi asin-pahitnya dengan susah payah.

“It’s Delicius” katanya seusai makan. Teman-temannya hanya tertawa.

Yoona mengambil botol soft drink dan memutarnya. Mulut botol menunjuk pada tempat duduk Yoona lagi. Ia memutar botol kembali dan kali ini berhenti di depan …

“JESSICA!!!”

“Yeah!!! Direktur Jung!” Seru Yuri

“Truth or Dare”

“Truth!!!!” Yoona, Sooyoung dan Yuri mewakili jawaban Jessica.

“YA! Mana bisa seperti itu” protest Jessica

“Tentu saja bisa, Jessie dear!”

“YA!!”

“Truth hmm …” Taeyeon berpikir. Sebenarnya ada banyak yang mereka ingin tahu di kehidupan Jessica pasca perpisahan mereka.

“Mungkin kau bisa ceritakan tentang ini” Stephanie menunjukkan kotak cincin hitam.

“Ya! Stephanie Young Hwang!!!” teriak Jessica

“Dari mana kau menemukan ini?” Sooyoung merebut cincin tersebut dari tangan Stephanie

“Saat wanita itu menyuruhku mengambil polaroid di tasnya”

“Seriously, kau sudah hampir 30-an dan kalian masih usil”

“Ya! Sica! Kau tidak perlu marah” Taeyeon menengahi

“Come-on Sica, diantara kita hanya kau yang tertutup dengan kisah percintaanmu” keluh Sunny

“Kita sudah hampir 30 tahun unnie. Kita sudah bersahabat sejak lama” imbuh Joohyun

“Cincin yang bagus, dan mahal” kata Yoona

“Apa ini dari Choi Siwon?”

“Choi Seunghyun?”

“Atau jangan-jangan Wu Yifan”

“YA!!!” Jessica membentak teman-temannya yang mulai sok tahu. Para wanita hanya tertawa akan kegarangan Jessica.

Jessica menghela napas, menenangkan diri sebelum berujar

“Araseo! Ya! Berikan padaku”

Suasana menjadi tenang. Semuanya diam menanti Jessica membuka tabir kehidupan percintaannya. Meskipun sering terlibat scandal dengan selebritis pria yang tampan dan terkenal atau pengusaha muda dan kaya namun tidak pernah ada konfirmasi resmi dari pihaknya.

“Ini di mulai saat pesta perayaan pernikahan Taeyeon”

“Huh? Pernikahanku?”

Jessica menganggu dan mulai menceritakan kisah cintanya.

 


Hallo guys! ide dari cerita ide sudah lama sekali menggantung dalam pikiran saya. Dan kali ini saya menantang diri saya untuk menyelesaikan cerita ini secepatnya. Semoga bisa ya ..

Give me feedback 😀

Salam,

Audrey, S

Stop All the Pretend Things – Chapter 5

Chapter 5

Secret That Should Never Tell

Bs2ql3nCQAATAzo.jpg-large

“Terkadang aku terbangun dan merasa sangat hampa. Kemudian aku tersadar, kenapa tidak ada orang lain, selain diriku sendiri”

-Kris-

Luhan mempercepat langkahnya ketika melihat sosok familiar yang berdiri dekat jendela besar, mengobrol dengan Sehun, tunangan Yoona. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat hanya dengan melihatnya, dia sangat cantik. Seperti malaikat yang memilih berbicara dengan manusia biasa, dalam hal ini Oh Sehun.

Luhan mengerutkan kening. Kenapa Sehun berbicara dengan Seohyun? Oh ya. Mereka punya aktivitas extra yang sama, klub drama. Dia berjalan sedikit lebih cepat sebelum memanggil tunangannya, “Joohyun-ahh”

Seohyun berhenti berbicara dengan Sehun lantas melihat ke arah Luhan, dan tersenyum, “Luhan oppa!” dia melambaikan tangannya penuh semangat. Oh, dia sangat cantik, kulit putihnya bersinar, berpadu dengan rambut hitam dan bibir kecil kemerahan.

“Luhan!” Sehun samar-samar tersenyum padanya.

Seperti biasa, Luhan selalu berdiri di samping Seohyun, dan tersenyum penuh kasih sayang. “Sehun! Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanyanya setelah menyapa Sehun secara formal, sebenarnya Luhan dan Sehun tidak benar-benar dekat, mereka hanya berbicara satu sama lain karena Sehun tunangan Yoona.

“Sehun oppa menjelaskan tentang Shakespeare. Sehun oppa benar-benar tahu banyak tentang itu oppa, dia punya Hamlet, versi bahasa Inggris. Aku sangat ingin membacanya, tapi aku tidak mengerti bahasa Inggris dengan baik jadi Sehun oppa membantuku memahaminya dan kita mendiskusikan tentang literature.” Seohyun menjelaskannya secara detail.

Shakespeare? Luhan mengenalnya, tapi dia tidak pernah tertarik dengan ceritanya selain Romeo dan Juliet, yang paling terkenal. “Oh?”

“Ah…” Seohyun seakan teringat sesuatu. “Mianhae, oppa kau pasti bosan jika aku membicarakan hal itu.” kata Seohyun, dia sedikit merasa bersalah karena terlalu bersemangat.

“Tidak!” elak Luhan cepat. “Tidak masalah mengingat Sehun tahu banyak. Mungkin aku harus membaca Shakepeare lain kali” ujarnya pada Seohyun dan mengetuk kepalanya dengan lembut.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu oppa.” kata Seohyun, “Jika kau tidak suka, kau akan menemukan itu sangat membosankan.” jujur Seohyun. Sehun terkekeh. Baca lebih lanjut

Choice – Q n A (Jessica x Jonghyun)

Berikut adalah wawancara majalah Musik dan Fashion pada pasangan pengantin baru paling fenomenal tahun ini, Lee Jonghyun dan Jessica Jung.

b0dec3d0b8a89ad861df8074b896c1ddurl

 I : Interviewer

J: Lee Jonghyun

I:        Hello!

J:        Hai`!

I:        Selamat atas  pernikahanmu!

J:        Terima kasih (Tersenyum).

I:        Bagaimana perasaaanmu?

J:        Excited (Tersenyum lebar dengan mulut terbuka)

I:        (Ikut tersenyum) Bisa kau ceritakan bagaimana kisahmu di mulai?

J:      Itu saat festival musik, kami tidak sengaja bertemu. Salah seorang  temannya adalah teman dari temanku. Temannya mengenalkan pada temanku, dan temanku mengenalkan padaku. Karena kami sering terlibat bersama, kami jadi sering berkomunikasi. Dan begitulah.

I:         Cinlok ya?

J:        (Terkekeh)

I:    Apa yang membuatmu tertarik pada istrimu saat ini. Apa yang membuatmu akhirnya melamarnya?

J:        Hmm! Pertanyaan sulit (memegang dagu). Well, saat itu, ketika kami sedang break di tengah pengerjaan project, aku tidak sengaja melihatnya bermain dengan anak kecil. Putra salah satu karyawan perusahaan dimana kami bekerja. Awalnya dia agak kesulitan mengambil hati anak kecil tersebut, namun akhirnya berhasil. Bahkan sekarang mereka sangat akrab. Dan jika anak tersebut bermain di studio kami, dia akan langsung mencari Jessica.

            Juga aku pernah melihat bagaimana dia memperlakukan keluarganya. Jessica sangat menghormati orang tuanya dengan caranya. Dia juga sangat peduli dengan adiknya. Dari pengalaman itu aku yakin suatu saat nanti dia akan jadi istri yang baik dan ibu yang hebat.

I:        Aaah, jadi dia pribadi yang hangat.

J:        Hm! Mungkin dia terlihat dingin dan menakutkan, tapi sebenarnya dia sangat hangat dan penyayang. Dia juga straight-forward. Jika dia tidak suka dia akan bilang tidak.

I:        Lalu, apa ada pesan untuk para pencari jodoh di luar sana agar berhasil mengejar cinta mereka.

J:        Well, hmm! (berpikir). Menikah bukan hanya tentang kalian berdua. Menikah berarti kalian menjalin sebuah hubungan dua keluarga. Dan jika kalian memilih pasangan, pastikan dia akan menjadi ibu yang baik dan bertangggung jawab atas kita dan anak-anak kita kelak.

I:         Wah, pesan yang baik sekali.

J:        (Tersenyum, menunduk)

I:        Sekali lagi selamat atas pernikahanmu, Lee Jonghyun. Semoga kalian bisa membangun keluarga yang baik seperti yang inginkan.

J:        Terima kasih. (Salaman).

tumblr_m3oyayvnym1qdhf3po1_1280

 

Selanjutnya mereka pindah lokasi untuk mewawancari Jessica

jessica-soup-8s  tumblr_lzufkcj4F31qitdj1o1_r1_1280

 

 

 

 

 

 

I : Interviewer

J: Jessica

I:        Hai! Lama tidak bertemu.

J:        Iya, sudah … (berpikir) hampir satu tahun ya?

I:        Ne! Selamat atas pernikahanmu!

J:        Terima kasih.

I:        Kami baru saja selesai mewawancarai suamimu.

J:        Benarkah? (terkejut).

I:        Bisa kita mulai sekarang?

J:        Ne! (Mengangguk).

I:        Bagaimana perasaanmu saat ini?

J:       Hmm …! Fantastic! (tertawa).

I:        Fantastic?

J:    Ini berbeda saat kau masih sendiri. Setelah menikah kehidupanku banyak yang berubah. Ada seseorang yang menjadi tanggung jawabku. Ada seseorang yang aku harus selalu ada untuknya.

I:        Apakah perbedaan paling signifikan sebelum dan sesudah menikah?

J:        Bangun pagi. (tertawa kecil). Jadi waktu sebelum menikah kalo bangun menyesuaikan schedule kita. Kalo schedule-nya siang, bangunnya agak siangan. Kalo enggak ada schedule bangunnya semau kita. Tapi setelah menikah ada schedule atau tidak bangunnya tetap pagi.

            Iya, soalnya kan tadi, ada seseorang yang menjadi tanggung jawab kita. Seseorang yang kita harus selalu ada untuknya.

I:        Menarik ya.

I:       Ngomong-ngomong apa yang membuatmu memutuskan untuk menikah (dengan dia)?

J:        Hmm!!! Pertanyaan sulit! (berpikir)

I:        (Tidak sengaja tertawa)

J:        Wae? (bingung)

I:        Kami menanyai Jonghyun pertanyaan yang sama. Dan responnya sama sepertimu. “Hmm! Pertanyaan sulit!” (sambil menirukan gaya mereka).

J:        Aahh!! (Tersenyum)

J:      Entahlah. Mungkin karena dia satu-satunya yang melamarku. (Tertawa).

I:        Apakah jika ada orang lain kau akan menolak lamarannya?

J:        Tidak juga. (Tertawa). Aku tidak tahu. Sebenarnya aku tidak tahu. Kami bahkan tidak pacaran dan dia langsung melamarku.

I:        Dan kau langsung menerimanya?

J:      Ne! (Tertawa). Mungkin karena dia membuatku nyaman bersamanya. Dia membuatku bisa melihat masa depan kami berdua. Aku bisa melihat dia akan menjadi ayah yang baik dan pemimpin keluarga yang bertanggung jawab.

I:        Pribadi yang hangat?

J:     Ani! Dia sangat dingin. Dia bahkan tidak romantis. Mungkin kalian berpikir karena dia musisi dia romantis. Tapi sebenarnya tidak. Dia bukan sweet-talker. Dari pada romantic dia lebih ke gentleman. (Tersenyum malu).

I:        Baiklah, pertanyaan terakhir. Bisa kau berikan pesan sebagai orang yang sudah menikah.

J:    Menikah tidak sekedar “Aku mencintaimu” lalu hidup bahagia selamanya. Tidak. Menikah baru sebuah awal. Kehidupan baru yang lebih komplek dari yang kalian bayangkan. Pastikan kalian menghabiskannya dengan orang yang tepat. Orang menghargaimu dan mau bertanggung atasmu dan anak-anakmu kelak.

I:        Pesan yang dalam sekali.

J:        Terima kasih.

I:        Well, sekali lagi selamat atas pernikahanmu Jessica. Semoga kalian bisa menghadapi lika-liku kehidupan rumah tangga yang akan datang dengan bijak.

J:        Ne! (berpelukan).

 

snsdjessica-magazineshooting-8


Demi apa guys!!! Interview di atas tiba-tiba muncul dalam benak saat, ketika saya me re-run OnStyle – JeKry di episode yang cry a lot. Lantas teringatkan saya akan sebuah fic yang sudah jamuran yang tersimpan rapi di hardisk pc yang udah tewas. T_T.

Saya ingin membuat fic itu kembali sembari mengumpulkan kepingan-kepingan yang sudah usang. Semoga berhasil.

Salam,

Audrey, S

 

 

 

Stop All the Pretend Things – Chapter 4

Chapter 4

Who is That Girl

17884_434716443290047_1561434984_n

“Suatu hari saat kau terbangun di pagi hari,  berpikir semuanya sangat sempurna, namun jauh yang terdalam kau tahu kau tidak bisa menyangkalnya lagi, perasaan yang coba kau abaikan untuk waktu yang lama”

– Oh Sehun –

“Yah! Gadis itu benar-benar keren!” kata Chanyeol pada Baekhyun setelah mereka melihat apa yang terjadi di koridor.

Baekhyun mengangguk setuju, “Gadis itu! Wow, dia membuat Kris speechless.” Baekhyun bersandar pada dinding, sembari melihat Minseok melepas cengkramannya dari tangan Kris. Kris berjalan menjauh berlawan arah dari gadis itu. “Tidak ada yang bisa berbicara seperti itu pada Kris. Tidak ada!”

“Kau benar!” Chanyeol  menyentuh dadanya dengan expressi dramatis, “Baekhyun-ah …” dia memanggil nama sahabatnya.

“Mwo ya?” Baekhyun heran melihat ekspressi Chanyeol. “Kau? Kau berpikir ada sesuatu yang aneh, bukan?” tanyanya penasaran.

“Aku pikir aku sedang jatuh cinta! Sangat dalam.”

“Jatuh cinta?” Baekhyun mengetuk kepala Chanyeol, “Apa kau gila? Jatuh cinta setiap dua minggu dengan gadis yang berbeda!”

Changyeol balas mengetuk kepala Baekhyun, “Yah! Kali ini serius, apa kau pernah merasakan hatimu diam-diam dicuri di depan matamu …” Chanyeol mengulurkan tangannya ke arah Jessica yang bahkan tidak terlihat dihadapan mereka, “Dan kau rela memberikannya?”

“Eeuuk.” Baekhyun ingin muntah saat itu juga, “Yah! Itu sangat payah! Menjijikkan mendengar itu dari laki-laki ke laki-laki.”

Baekhyun gemeletak dan mengusap lengannya.

Chanyeol dan dia telah bersahabat sejak sekolah dasar, namun itu agak menjijikkan ketika sahabatmu mendiskripsikan sesuatu yang dramatis akan cinta barunya, bagaimanapun Chanyeol benar-benar mudah jatuh cinta, selama itu gadis dan cantik.

“Wae? Ini kenyataan!”

“Kurasa kau gila! Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada seorang gadis yang kau bahkan tidak tahu namanya?” tanya Baekhyun, menggeleng kepalanya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 3

Chapter 3

Unknow Question

seohyun snsd the best album (3)

“Hidupmu terlalu singkat jika hanya kau habiskan dengan air mata, dengan penyesalan, dan suara tangisan. Kau membuat kesalahan, kau terpuruk namun kau harus bangkit dan terus bergerak.”

-Seo Joohyun-

Jessica menghabiskan satu minggu dalam hidupnya dengan mengutuk, menjerit dan meneriaki hidup sialnya. Minggu yang lain untuk membujuk neneknya (meskipun lebih seperti pertengkaran seekor kucing dari pada argumentasi logis), tiga hari untuk mencoba mendapatkan tiket kembali ke London, dua hari untuk bertengkar dengan ayahnya, sehari untuk bersembunyi dari ibu tirinya. Dan sekarang dia akhirnya mengalah dan terpaksa tinggal di Korea dan mendaftar di sekolah barunya.

Dibutuhkan hampir dua minggu baginya untuk menyadari sesuatu yang lebih penting. Mengapa neneknya bersikeras dia harus tinggal di Korea sampai lulus? Itu sangat aneh bahkan bagi dirinya. Mereka membencinya, mengapa mereka tidak bertingkah seperti yang mereka lakukan sebelumnya? Mengapa mereka secara tiba-tiba inginkan dia untuk tinggal? Pasti ada suatu alasan.

Mereka tidak merasa menyesal, bukan? Karena  mengasingkan Jessica ketika dia masih bayi. Apa mereka mulai membina kasih sayang terhadapnya? Apa mereka kasihan karena kematian ibunya? Ooh. Itu tidak mungkin, dia pasti sudah gila jika benar-benar berpikir keluarganya menyesalinya? Dia harus bertemu psiater sesegera mungkin. Bahkan anak SD tahu keluarga Im tidak ingin melihat wajahnya lagi.

Pasti ada sesuatu, tapi Jessica tidak bisa memecahkannya. Aish, dia sudah tahu dari awal bahwa dia tidak benar-benar baik menganalisis sesuatu. Dia akan mengalami sakit kepala jika berpikir berlebihan, khususnya dengan masalah bodoh. Mengapa hidupnya tidak bisa simple? Mengapa selalu ada hal tak terduga?

Jessica menggerutu sembari mengenakan kaos kaki panjangnya. Mengapa dia tidak bisa hanya lulus dari sekolahnya di London kemudian segera masuk Julliard? Mengapa dia harus terjebak di tempat ini? Dia bahkan harus mendaftar di sekolah apalah namanya. Dia menyisir rambut pirangnya sebelum masuk mobil.

“Anda siap pergi ke sekolah, Noona?” supirnya bertanya dengan sopan.

“Jika aku bilang tidak, apa kau bisa melakukan sesuatu?” Jessica tidak berminat untuk basa-basi dengan orang asing. “Kau mungkin akan mengatakan pada wanita tua itu.”

“Ini kewajiban saya Noona Jessica untuk mengantar anda ke sekolah.”

Jessica memutar bola matanya, “Aku tidak ingat memintamu akan hal tersebut. Terserah!” Jessica mulai memainkan ponselnya, memasukkannya, dan mendengarkan musik favoritnya. Baca lebih lanjut

Emak dan Yanto

 gambarOleh: Alfi Syahriyani*)

Namanya Yanto. Umur 18 tahun. Lulusan SMP. Sehari-harinya mengamen di bus dan kereta api. Hobinya mendengarkan radio 107 FM jika sedang menunggu bus. Tahu kan? Itu lo, radio yang memutar lagu-lagu dangdut, yang penyiarnya sering pakai bahasa campur-campur. Kadang-kadang bahasa Indonesia, kadang juga bahasa daerah, sebentar-sebentar dipaksakan pakai bahasa Inggris. Yanto sering iseng menelepon sang penyiar dengan HP-nya (ah, biar pengamen begini, tapi Yanto punya “HP untuk rakyat”), bukan request lagu atau kirim salam, tapi mempromosikan diri. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 2

Chapter 2

Home bitter home, My house my hell

tumblr_m5nsl0uzXI1qitdj1o1_1280

“Menyayangi seseorang yang bahkan membenci keberadaanmu berarti kau cukup bodoh untuk terluka, cukup bodoh untuk menahan rasa sakit dan bahkan cukup bodoh untuk tidak menyayangi diri sendiri”

-Jessica Jung-

“Halmoni.” Im Luhan berteriak untuk pertama kalinya. Sejak gadis itu memasuki ruangan tersebut dia bahkan tidak mengatakan apapun tapi kali ini dia tidak akan tinggal diam. Dia membenci saudara tirinya setelah mendengar dari ayahnya. Dia tahu meskipun ayahnya bukan benar-benar suami yang baik tapi dia tidak menyangka mempunyai saudara tiri.

Gadis itu tidak punya tata karma, bermulut kotor, dan kasar. Dia tambah membencinya sekarang. Dia seperti tidak ada habisnya. Dia benar-benar membenci gadis itu. “Halmoni, anda tidak bisa meminta gadis kasar ini tinggal bersama kita.”

“Luhan benar! Halmoni, bisakah anda mempertimbangkan hal ini lagi?” saudaranya, Yoona mulai mengeluh di waktu yang sama.

Jessia juga terkejut, rahangnya menganga dan menatap kosong pada nenek Hanbok. Dia menggeleng kepalanya, “Oh, aku pikir mendapat serangan jantung. Cucu anda sangat benar. Aku pikir dia cukup pintar.”

Ha! Luhan setuju dengan gadis itu, sekali ini saja. Gadis ini masih punya otak di dalam kepala kecilnya. “Halmoni bisakah anda mempertimbangkan lagi?” pinta Luhan.

“Aku sudah mempertimbangkan itu ribuan kali, Luhan-ah.” Neneknya berdehem sebelum melanjutkan, “meskipun kita tidak bisa mengakui Sooyeon sebagai keluarga kita, kita tidak bisa karenanya. Dia harus menyelesaikan sekolahnya di sini, ibunya sudah meninggal dan dia masih di bawah umur.”

“Tapi Halmoni, anda tidak bisa membiarkan dia tinggal di rumah ini, bukan?” Luhan bertanya lagi, tidak yakin apakah dia bisa tetap tinggal di atap yang sama dengannya.

“Tunggu!” teriak Jessica. “Apa kau tidak tahu tindakanmu bisa menyebabkan kasus pembunuh?” Jessica melempar tangannya ke udara. “Jika kita tinggal di rumah yang sama tidak .. bahkan negara yang sama, hanya ada dua pilihan, apakah aku membunuh mereka atau ..” dia menunjuk Luhan dan Yoona, “Mereka membunuhku.”

Mata Luhan melebar bersamaan dengan ayah dan ibunya yang tersinggung dengan kata-kata Jessica. “Anakku tidak akan membunuhmu.” Kata ayahnya dengan nada tegas.

Jessica memutar matanya, “Ya aku bisa melihat betapa mereka menyayangiku.” katanya, sakartis. “Apa kalian tidak tahu langkah pertama membunuh seseorang adalah dengan membenci mereka??” Baca lebih lanjut