Stop All the Pretend Things – Chapter 9

Chapter 9 : My Love My Girl My Sunshine

“Terkadang dia terlihat cantik. Namun lebih sering terlihat mengagumkan… Mempersona”

-Byun Baekhyun-

60892_554990794515689_1835820459_n

Baekhyun tengkurap dan menatap wallpaper ponselnya, kenapa dia sangat cantik? Dengan senyum itu yang membuat hatinya berdetak sepuluh kali lebih cepat, sampai dia takut dia akan segera mendapat serangan jantung. Ya, Chanyeol jatuh cinta setiap dua minggu tapi Baekhyun jatuh cinta pada gadis yang sama lagi, lagi dan lagi selama dua tahun.

Tapi dia terlalu jauh di jangkau. Baekhyun mendesah, kenapa dia harus saaaangat sempurna, dengan rambut hitam panjang terkulai di wajah cantiknya. Dia pintar dan baik hati. Baekhyun bertemu dengannya untuk pertama kali ketika dia melihat gadis itu membantu gadis lain yang terjatuh dan memberinya tisu. Dia terlihat sangat cantik dan mempesona, dia mengalami love-struck yang membuatnya sekarat dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Sejak saat itu, dia akan selalu melihat gadis itu dari kejauhan dan tersenyum kapanpun gadis itu senang. Dia selalu pergi ke toilet ketika kelas matematika, karena dia tahu gadis itu akan melewti koridor karena urusan osisnya. Dia mencoba menyapa tapi tidak pernah berhasil, gadis itu akan tersenyum padanya dan memanggil namanya dengan suara lembutnya.

“Katakan padanya, Pabo!” sebuah suara memasuki lamunannya.

Baekhyun mendengus, “Bagaimana bisa aku menyatakannya? Apa yang akan aku lakukan jika dia menolakku?” dia bertanya pada suara yang memasuki lamunannya, tapi masih menatap foto dalam layar ponselnya. Sebenarnya Baekhyun pikir itu hanya teman imajinasinya yang lain yang menjawabnya.

“Kau tidak akan pernah tahu sampai mencobanya, pabo! Kau seorang pengecut. Kau harus berjuang untuk seseorang yang kau cintai.” Suara berat penuh kekuatan dan nada dramatis.

“Cinta?”

“Mm! Itu namanya kau harus berjuang, kau akan bilang kau kalah dari si bakpao itu. Dia hanya seorang ketua Osis, dan kau murid terimut di sekolah, kau akan menang!” Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 8

The Girl who Never Back-off

“Aku tidak akan menyesali sesuatu. Meskipun jika aku sangat menyakiti Karena inilah hidupku”

-Jessica Jung-

tumblr_liv1r4vjIl1qcgyaa

Seohyun hendak melahap makanannya di kantin ketika seorang murid laki-laki mengatakan padanya bahwa kakaknya saat ini sedang membully seseorang, dia berhenti dan buru-buru melangkah menuju atap. Oh, tidak. Kakaknya tidak dalam mood yang baik, lupakan! Kris masih marah pagi ini, dia akan melakukan sesuatu yang mungkin akan dia sesali di masa depan, dan murid itu akan dipukulinya.

Seohyun melewati beberapa murid dengan cepat, ketika sebuah tangan menangkap sikunya. “Seohyun-ah…” dia menengadah dan melihat Luhan mengerutkan kening karena dia terlihat sangat terburu-buru. “Ada apa?”

“Oppa kita harus segera ke atap.” Seohyun mendesaknya, “Kris oppa…” tanpa penjelasan lebih Luhan mengangguk dan memegang tangan Seohyun dan berjalan cepat menuju atap. Seohyun merasa sangat lega mengetahui Luhan tidak meminta penjelasan lebih padanya. Prioritas utama mereka menyelamatkan lelaki itu dari amukan Kris.

Luhan menyamakan langkahnya dengan Seohyun terlebih dulu, ya, meskipun mereka harus segera sampai ke atap, dia lebih peduli pada Seohyun dari pada lelaki itu. Dan juga, dia jarang memegang tangan Seohyun seerat ini, biasanya Seohyun enggan dengan kontak fisik. Oke, sebut dia brengsek atau egois apapun itu, tapi Luhan suka memegang tangan Seohyun meskipun mereka dalam keramaian.

Semua gadis sepanjang koridor melihat mereka dengan cemburu di mata mereka, pasangan paling serasi di sekolah berjalan bergandengan tangan erat, dan hampir berlari di koridor. Mereka tidak tahu alasan sebenarnya mereka terburu-buru, mereka hanya peduli dengan atmosfer yang saaaaangat pink mengitari pasangan itu. Setidaknya dari Luhan.

Mereka sampai di atas atap dan melihat pintu terbuka lebar dengan Minseok di depan mereka sementara dari sisi yang lain Taeyeon dan Yuri dating terburu-buru. “Minseok-oppa.” Seohyun meneriakkan nama Minseok, tapi Minseok hanya melirik sekilas dan masuk ke atap.

Mata mereka dengan cepat mencari sosok Kris. Mereka menemukan lelaki yang dihajar terbaring di lantai, mengkerut dan merintih kesakitan. Sementara Kris sekarang mencengkeram erat si blonde dan kemarahannya tampak jelas di wajah tampannya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 7

Chapter 7

Brave or reckless

“Kadang melihatnya tersenyum sudah cukup bagiku. Tawanya bagian dari kebahagianku. Tapi aku tidak bisa menerimanya jika dia tersenyum untuk orang lain. Kebahagiannya adalah segala sesuatu yang berhubungan denganku”
-Im Luhan

EXO-M-image-exo-m-36304307-1000-1500

Kelas matematika membunuh semua orang. Itu adalah yang terakhir Jessica pikirkan saat dia menuju ke atap dan memutuskan untuk tidur di sana. Dia kehilangan nafsu makan siangnya setelah menerima detensi. Hebat. Baru hari pertama sekolah dan dia mendapat detensi hanya karena dia tidur di kelas matematika.

Lagi pula siapa yang butuh matematika? Matematika tidak ada hubungannya dengan hidupnya selama dia bisa menghitung uang yang di akun bank-nya lebih dari cukup. Terlebih siapa yang butuh kelas etika? Menuang teh? Kau tidak butuh kemampuan itu untuk bermain violin. Semuanya tidak berguna.

Jessica mengabaikan teriakan lelaki itu ketika lelaki yang lain membullinya, yeah, dimanapun bullying masalah utama di sekolah. Tapi bukan urusannya. Dia tidak peduli sama sekali. Jessica mengeluarkan mp3-nya dan memasang headphone bersiap menuju alam mimpi. Dia meletakkan tangannya untuk menutupi sinar matahari dari matanya.

Dia merasakan sesuatu di depannya, menghalanginya dari sinar matahari, bayangan menjadi lebih gelap. Sayangnya Jessica terlalu malas membuka matanya untuk mencari tahu siapa orang baik yang membantunya. Dia hanya berpikir dia beruntung sinar matahari tidak terlalu terang yang bisa merusak matanya.

Tiba-tiba, headphone-nya ditarik kasar, membuat Jessica membuka matanya, “Yah! Kau ingin mati?” dia berteriak pada orang menyebalkan itu. Menatap tajam pada lelaki sangaaat tinggi yang berdiri di hadapannya, bermain dengan headphone-nya di salah satu tangannya. Jessica tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi siapapun itu, dia memilih untuk mati. Bagaimana bisa dia mengganggu tidur orang? “Apa kau sudah bosan dengan hidupmu?” Jessica tiba-tiba berdiri. Lelaki itu dengan santai melangkah mundur. Lelaki jangkung itu hanya menaikkan salah satu alisnya dan menatap tajam dengan mata dinginnya, “Kau satu-satu orang yang ingin mati.” kata lelaki itu dingin dan datar. Baca lebih lanjut

One Afternoon – Bagian 2

1209638_1366908293263_full

Seoul, 2015

Kebodohan yang masih aku sesali hingga hari ini adalah aku, seorang Kim Taeyeon begitu mudah diatur oleh orang-orang berkepentingan yang mengambil keuntungan atas diriku. Kebodohan selanjutnya, karena hal tersebut aku kehilangan temanku.

Ini tidak seperti aku bisa berjalan sendiri. Mereka adalah bayang-bayang yang melekat dan selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Dan kami muak akan hal tersebut. Kami – aku dan teman-teman satu grupku. Tapi memang begitu jika ingin sukses dalam bidang ini. Kau harus mengikuti, mematuhi aturan si pemilik kendali atau kau akan tersingkir dan semuanya menjadi sia-sia. Nah, lupakan itu semua karena aku tidak ingin membahas konspirasi dalam pekerjaanku.

Jadi, siang setelah kami keluar dari restoran tersebut, Jessica masih saja berjibaku dengan ponsel sialannya. Aku tidak peduli lagi dan setelah mengantarkannya ke rumah, aku kembali ke dorm, seharusnya. Namun laju mobilku tiba-tiba memelan begitu melewati kawasan taman kota dan entah kenapa aku justru memarkirkan mobil di sekitar tempat tersebut. Mengambil masker dan kacamata hitam dari dashboard mobil, mengganti high heel dengan sepatu kets, aku keluar bergumul dengan orang-orang yang sedang jalan-jalan dan bersantai di sana. Baca lebih lanjut

One Afternoon – Bagian Pertama

tumblr_n4jlc7qZQM1qkiilno2_250

Aku terbangun oleh suara berisik dari ponsel. Jemariku mencari-cari dimana aku terakhir  meletakkan ponsel, lalu mematikan bunyi alarm yang selalu berbunyi pukul 9 pagi. Kendati demikian aku tak lantas bangun dan bergegas mandi. Aku kembali menenggelamkan diri dalam balutan selimut, memejamkan mata lantas meminta pada tuhan untuk dibangunkan lima menit lagi.

Tuhan memang Maha Mendengar. Lima menit kemudian mataku benar-benar terbuka. Jantungku berdetak tidak karuan, napasku tersengal. Otakku masih berputar-putar, berusaha mengingat kembali mimpi barusan, meski tidak mendapati apapun pada akhirnya.

“Haaaah,” aku mendesah panjang, lantas beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Seusai mencuci muka dan menggosok gigi, aku berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil air mineral lalu meneguknya.

Aku lalu berkeliling dorm, membuka kamar member satu persatu. Padahal ini masih jam sembilan, tapi semuanya sudah menghilang. Aku mendesis, beranjak duduk di beranda dorm yang berhadapan langsung dengan jalanan Seoul. Dari lantai 14 di gedung ini, orang-orang tidak akan tahu seorang Kim Taeyeon sedang duduk-duduk santai mengamati jalanan Seoul dan masih mengenakan baju tidur.

Aku baru saja menyelesaikan jadwalku untuk dua hari ke depan. Sengaja aku kebut rekaman album solo yang harusnya take 3-4 hari, aku cukupkan dua hari agar bisa menikmati waktu libur agak panjang. Ada beberapa hal yang harus aku urus, aku perbaiki dan aku  selesaikan dan jika tidak hari ini, maka aku tidak punya kesempatan lagi.

Puas memperhatikan hiruk pikuk orang-orang di bawah sana, aku masuk ke dalam dorm, lurus sampai kamar mandi. Tak sampai setengah jam aku sudah keluar dari kamar mandi, memilah-milah baju yang hendak aku kenakan. Pilihan aku jatuhkan pada kemeja biru laut dan skiny jeans putih. Memakai make-up sekenanya, aku menyambar kunci mobil lalu berjalan menuruni lift menuju basement.

BMW putih itu terpakir rapi diantara rentetan mobil-mobil mewah di sekitarnya. Aku masuk begitu bunyi beep dua kali terdengar. Menyambungkan ponsel pada mobil lalu memutar lagu-lagu favoritku, aku membawa keluar mobil ini menikmati jalanan Seoul. Cuaca hari ini sangat pas untuk jalan-jalan. Langit sedang cerah. Tapi bukan itu tujuanku saat ini. Aku membelokkan mobil pada kawasan elit di daerah Gangnam. Sudah lama aku tidak bertandang ke rumah ini. Rumah besar berlantai dua yang terlihat sederhana bersamaan dengan rumah-rumah elit mengitarinya. Ada taman kecil di depan rumah ini dan masih tumbuh subur dengan bunga-bunga berwarna-warni berjejeran rapi akur dengan rumput, kaktus dan tanaman lainnya. Aku tidak sengaja tersenyum mendapati bunga anyelir putih melambai menyambutku diantara taman bunga kecil itu.

Bel pintu rumah aku bunyikan. Tiga sampai empat kali, namun si pemilik rumah ini tidak kunjung keluar. Aku membunyikan lagi, lagi dan lagi sengaja membuat suara gaduh. Aku yakin pemilik rumah ada di dalam, tapi kenapa tidak lantas keluar itu yang menjadi pertanyaan. Ketika hendak menghubungi si pemilik rumah, tiba-tiba pintu terbuka.

What the hell!Baca lebih lanjut