MOLESKINE

bb301acaa386670334fafc97e38a9142

Prolog

 

Lee Taeyong, tidak pernah menyangka bahwa yang dia rasakan terhadap gadis itu akan melebihi kekaguman. Lelaki itu jelas yakin bahwa sebelumnya tidak ada hasratapapun dalam perasaan tersebut.

Hampir setiap waktu luang yang dia punya adalah untuk menonton video terbaru dari gadis tersebut, terlepas apakah itu penampilan sederhana dalam sebuah event, variety show atau sekadar jokes di Youtube yang dibuat oleh fans-nya. Taeyong bahkan tergabung dalam fancafe resmi gadis itu di Daum demi mendapat update perihal tentangnya. Apapun. Tidak peduli jika itu sekadar Hi!

Akan tetapi Taeyong bukan lelaki yang akan menghampiri gadis tersebut saat itu juga, karena faktanya meskipun dipertemukan dalam event yang sama tidak hanya sekali dua, Taeyong tidak pernah menyapanya secara langsung, senyum pun tidak, mata beningnya belum berani untuk menatapnya. Kejantanannya menciut di sini. Sungguh payah dan memalukan. Taeyong hanya berani melihat dari jauh, seperti seorang pengangum rahasia dan jika boleh, Taeyong ingin menjadi The Dark Knight bagi gadis itu. Kesatria pelindung yang tidak diketahui identitasnya. Selalu bisa diandalkan saat gadisnya dalam keadaan terjepit. Taeyong terkikik sendiri membayangkan dirinya berubah konyol.

Taeyong-ssi, ada apa?” salah seorang senior memergokinya melamun dan tertawa seperti idiot di backstage sambil melipat tangan. Matanya memandangi serius pada panggung. Dua idol pengisi acara tahunan yang sama dengannya sedang berlatih untuk penampilan kolaborasi besok. Tentu saja salah satunya grup di mana gadis itu berada.

“Tidak ada,” Taeyong menyimpulkan, tersenyum jail kemudian pergi dari tempatnya berdiri meninggalkan seniornya yang kebingungan.

He’s stupid,” salah satu teman seniornya tadi berkomentar ketika Taeyong sudah agak jauh dari tempat mereka berdiri. Tetapi Taeyong masih bisa mendengarnya. Dia tidak marah atau menyimpan dendam untuk sebutan itu. Teman satu kamarnya, Doyoung bahkan menganggapnya sudah gila. Baca lebih lanjut

SLICE LIFE OF KIM SOJUNG

cyjfqdduuaevcykSebuah One-Shoot

Aku sudah berkecimpung di dunia ini cukup lama dan menghabiskan waktu dan tenaga yang tidak sedikit itu bukan untuk disebut tidak berguna, tidak ada skill bahkan jelek.

*

Kenapa orang begitu senang menggunjing masa lalu demi menemukan celah untuk dihujamkan kembali pada inti bumi?

Aku membuang tablet di atas kasur. Jika ada yang mengatakan membaca komentar buruk benar-benar merusak otak dan membikin cepat mati, maka aku setuju.

Apa mereka tidak ada kerjaan lain selain memberikan komentar buruk pada wajah kami ketimbang penampilan atau bahkan lagu kami.

Dasar sampah!

Aku beranjak ke dapur. Tidak ada orang di dorm. Sinb dan Yewon masih di sekolah. Yuna dan Eunha masih berlatih vokal untuk project baru kami dan Yerin ada jadwal sendiri. Aku baru saja pulang dari kelas akting, memakai bus untuk sampai ke dorm karena para manager terjadwal penuh menemani member dengan jadwal individu masing-masing.

“Tidak ada yang mengenaliku.” Aku bilang ketika mereka sedang mendiskusikan bagaimana aku sampai di tempat kursus.

“Kalaupun ada toh tidak akan terjadi kegemparan sebagaimana jika mereka bertemu Sinb atau Yuju.” Aku meyakinkan lagi. Mereka akhirnya setuju untuk membiarkanku pergi sendiri dengan public transportasi.

Sudah sangat lama aku tidak naik bus. Terakhir adalah ketika aku masih dalam trainee. Atmosfer bus yang membawaku kembali pada masa-masa sulit sebelum debut. Aku merindukannya. Melihat ke luar jendela. Melihat orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing dan yang paling aku kagumi, panorama temaram dari gedung-gedung bertingkat sepanjang perjalanan. Menyenangkan sekaligus melankolis.

“Permisi, boleh aku duduk di sini?” seorang perempuan yang ku kira masih SMA meminta ijin untuk duduk di sebelahku. Maksudku kenapa harus minta ijin pada fasilitas publik. Tetapi demi sopan santun, aku mengangguk, mempersilahkan. Dia tersenyum manis kemudian duduk dan bermain ponsel sementara aku lebih senang memandangi panorama di luar jendela.

Klik!

Aku mendengar suara jepretan kamera tepat di samping telingaku. Seketika aku memutar kepala dan mendapati gadis itu menatap layar kameranya puas dengan hasil jepretannya.

Apa dia barusan memotretku? Baca lebih lanjut