GRAVITY

 

 

 

 

BRING BACK MY HOME

Nezumi Minatozai

 

Something always bring me back to you

And never takes too long

No matter what I say or do

I’ll still feel you here ‘til the moment I’m gone

 

Aku setuju jika Yuju didaulat the next Taeyeon dalam lima tahun ke depan. Dia punya kualitas yang mumpuni. Suaranya mampu menyampaikan pesan sebuah lagu, juga teknik mengolah vocalnya mengangumkan. Dia bisa menempatkan nada tinggi di tempat yang seharusnya tanpa harus melebih-lebihkan, begitu halus dan merdu, seolah sedang mengejek “Hey lihat, CEO-nim yang dulu menolakku, aku bisa mencapai nada tinggi dengan sempurna.” dengan senyum sinis yang begitu senang dia perlihatan ketika bertingkah kejam.

Aku sedang mendengarkan Gravity yang di cover Yuju di sebuah radio dua tahun silam ketika kami baru saja debut. Aku tidak tahu, entah karena kebetulan atau memang Yuju seorang genius, aku larut dalam melody tersebut, jiwaku melayang, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Yuju, penuh penghayatan.

Something always bring me back to you

Aku terus teringat bagian itu.

Always

Always

Aku mendesah pendek, ekor mataku melirik perempuan yang duduk dua kursi di depanku. Dia sedang mengambil selfie, berpose semanis yang dia bisa lalu tersenyum puas melihat hasilnya. Dia kemudian melakukan sesuatu dengan ponselnya, tenggelam di sana. Aku beralih melihat ke luar jendela. Hujan di luar lumayan lebat. Sinb di sampingku sudah terlelap sejak kami masuk mobil begitu pula Yuju dan Yerin. Yewon menikmati The Martian, novel hadiah dari fans-nya ketika dia rawat di rumah sakit. Aku sendiri, sungguh lelah tetapi tidak bisa tidur. Mataku tertutup, tetapi otakku terjaga. Dan saat hujan seperti ini, aku lebih suka mendengarkan lagu ritme kesedihaan dan kehampaan. Persis apa yang terjadi padaku. Baca lebih lanjut

MOLESKIN CHAPTER VI – JR

Jr Moleskin chapter 6

Tepuk tangan riuh terdengar ketika NCT selesai membawakan Fire Truck dan bergegas turun panggung. Taeyong mengelap keringatnya dengan handuk yang disodorkan oleh staff. Penampilan NCT malam itu cukup bagus. Taeyong tidak jadi mengacau. Bagaimanapun karir NCT lebih penting dari apapun. Apalagi dibandingkan skandal Jin dan gadis itu yang ternyata memang benar adanya. Mengingat-ingat perkara itu membikin kepala Taeyong pusing tidak karuan. Segera Taeyong menegak air dalam botol sekaligus menyisakan setengahnya.

“Astaga! Calm down dude!” kata Jhonny.

Taeyong hanya bisa memincingkan mata berharap bisa mengeluarkan api dari sana.

“Gadismu itu tidak akan kemana-mana!” Jhonny menggoda. Dia tahu. Entah bagaimana meski Taeyong jarang bercerita sedang Doyoung jelas bukan tipe ember. Tetapi Jhonny memang pandai melihat gelagat orang dan jangan lupa mereka tinggal satu kamar.

“Mind your own business, dude!” balas Taeyong, melempar handuk bekas keringatnya pada Jhonny. Dia pergi dari backstage mencari toilet terdekat. Setelah urusannya dengan toilet selesai, Taeyong mampir untuk mengambil ponsel di ruang tunggu. Saat itu dia tidak sengaja melihat gadis itu sedang mengobrol dengan seseorang. Taeyong, seperti biasa mengintip di balik tembok sambil menguping.

“Kau mengikuti saranku. Memasak tanpa melihat resep!” ungkap lelaki itu antusias. Wajah gadis itu juga terlihat senang tanpa beban.

“Yah, tidak tahu kenapa, aku selalu gagal kalau mengikuti resep!” terang si gadis. Tangannya terlipat di dada tetapi masih menunjukkan ketertarikan pada lawan jenisnya.

“Aku baru saja mencoba resep baru. Bulgogi dengan daging babi dan kecambah, kau harus mencobanya.”

“Sepertinya mudah.” Sorot matanya mulai terbayang bagaimana rupa menu tersebut ketika disajikan.

“Mudah sekali. Kau pasti bisa tanpa meniru resep.”

“Benarkah?” gadis itu seolah meremehkan tebakan lawan bicaranya. Baca lebih lanjut

THE TRUE PLAYER

00123834

WonHa, SanHa, SoJu, 97Line, TomxJerry, EunbiLine, 2jung

Who the player?

*

“Eunha-ya!!!!!!!!” Sana berteriak dari koridor, berlari menghambur ke arahku, merentangkan tangan, bersiap memelukku.

“I miss youuuuuuuu!” Sana mengunciku dalam jerat peluknya, seakan tidak membiarkanku lepas.

“Anyyeonghaseo!” aku membungkuk pada member Twice yang melewat kami. Mina, Daehyun, Nayeon, Momo, Jungyeon.

“Hai!!!” Sowon keluar dari tenda demi menyambut Twice. Dia berhigh-five dengan Nayeon, Jungyeon, juga sempat menaikkan alisnya, menyapa Sana dengan senyum tulus. Sinb juga ikut keluar, merangkul Daehyun, bertukar tinju dan tiba-tiba terbahak bersama, keras sekali.

“Apa yang kau lakukan saat liburan?” Sana bertanya dengan suaranya yang imut.

“Aku pulang,”

Dia melenguh semakin mempererat pelukannya.

“Aku tidak bisa pulang,” keluhnya sambil mencium puncak kepalaku. Kenapa orang suka sekali dengan puncak kepalaku. Yerin, Sowon dan Sana, selalu seperti itu setiap ada kesempatan.

“Momo dan Mina juga. Jadi kami berempat selalu di dorm.” Sana merengek bak anak kecil.

“Berempat?” aku menaikkan alis, mencoba mencari wajahnya yang bersembunyi di balik punggungku.

“Tzuyu,”

Oh!

“Kau pasti merindukan orang tuamu,” aku mengguman pelan. Sana mengangguk sambil merengek lalu meletakkan kepalanya di atas pundakku. Aku sempat melihat Sowon melirik ke arah kami sebelum beralih pada Nayeon dan Jungyeon dan tertawa bersama mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi Sowon tampak menikmatinya, dia bahkan terang-terangan bermain tangan dengan Nayeon, merangkul pundaknya, sesekali aku perhatikan tangan Sowon melingkari pada pinggang Nayeon dan wanita itu sama sekali tidak keberatan diperlakukan seperti demikian. Baca lebih lanjut

MOLESKIN CHAPTER V – JIN

MOLESKINE CHAPTER V

Kim S. Jin

Kim S. Jin

Taeyong bertanya-tanya siapa gerangan pemilik nama itu.

Kim S. Jin

Bagaimana pula nasib hubungan mereka setelahnya. Apakah mereka berdua masih berhubungan.

Sayangnya Taeyong tidak menemukan apapun clue dalam moleskin tersebut. P.B tidak menggambarkan dengan jelas bagaimana rupa mantannya, membikin Taeyong penasaran.

“Cepatlah!” kata manager mereka. Sudah setengah jam menunggu di depan drom. Grup NCT bersiap untuk perform dalam acara nasional Korean Wave Dream Concert, di mana banyak idol turut diundang demi meramaikan acara. Sebuah kesempatan bagi Taeyong untuk menyerahkan cincinnya kembali dan mulai aksi.

NCT bukan satu-satunya grup yang tiba lebih awal. Sudah ada grup lain di lokasi, termasuk grup gadis itu. Bahkan mereka sedang gladiresik di atas panggung. Taeyong mendengar bahwa grup gadis itu akan berkolaborasi dengan BTS, salah satu idol yang sedang hot saat ini.

Apa yang membikin Taeyong kesal lantaran skandal gadis itu berkencan dengan salah satu personil BTS dan sekarang mereka bahkan satu panggung. Meskipun Taeyong jelas mengingkari adanya hubungan spesial diantara mereka tetapi fans pasti sangat bergembira atas kolaborasi ini, terlebih mereka yang membikin rumor pada akhirnya menemukan bukti konkret tentang hal tersebut.

“Ugggh!!!” Taeyong mendesah sebal. Hatinya mendadak gelisah.

“Kau kenapa?” heran Doyoung. Kepalanya mengikuti kemana arah mata Taeyong bergerak.

“Astaga! Jangan bilang kau termakan skandal murahan itu!” keluh Doyoung. Di sana. Taeyong sedang memandangi panggung di mana Gfriend dan BTS sedang berlatih untuk spesial perform nanti.

“Ya ampun, jarak mereka bahkan sangat dekat!” keluh Taeyong melihat posisi menari gadis itu dengan Jin yang kebetulan berdekatan. Doyoung mendesah frustasi. Baca lebih lanjut

MOLESKINE – CHAPTER IV – P.B

MOLESKINE GFRIEND SOWON

“What the hell!!!” Taeyong berseru sambil melempar tabletnya kasar, membuat Doyoung yang sedang santai di ranjang tingkat terpaksa mengintip dari atas.

“Kau kenapa?”

“Lihat!” Taeyong menunjukkan sebuah berita yang ada di internet pada Doyoung. Pemuda itu membacanya sekilas tetapi masih tidak mengerti apa yang membuat Taeyong marah.

“Fans temukan bukti lain Jin BTS dan Sowon Gfriend berpacaran” Doyoung membaca judul di berita tersebut.

“Lihat! Sangat mengada-ngada bukan?” Taeyong menunjukkan bukti-bukti yang terlampir dalam berita tersebut.

“Sangat memaksa!” tandas Taeyong. Yah, hanya karena mereka kedapatan bertatapan muka atau kebetulan memakai baju dengan motif yang hampir sama bukan berarti berkencan. Doyoung mengerti itu, tetapi yang tidak dipahaminya adalah kenapa Taeyong harus sewot?

“Astaga, kau berisik sekali!” Jhonny, rekan satu roomates mereka yang baru selesai mandi melempar handuknya tepat mengenai muka Taeyong.

“YA!!!!” seketika lelaki itu melupakan kemarahannya. Mengejarnya Jhonny yang sudah berlari ke luar kamar, bertekad membalas perbuatannya.

“Dia kenapa?” Mark datang untuk bergabung setelah dari kamar lain.

Doyoung menganggkat bahu lalu kembali sibuk di atas ranjangnya, bermain tablet. Mark membaca berita yang kebetulan masih terbuka pada tablet Taeyong.

“Ei! Sejak kapan dia peduli dengan gossip!” kata Mark kemudian berlalu keluar kamar. Saat itu Taeyong sudah kembali setelah memutilasi Jhonny di ruang tengah dorm mereka.

“Astaga! Ini hal terlucu yang pernah aku baca!” komentar Taeyong lagi sakartism, membuat Doyoung jengah. Baca lebih lanjut

MOLESKINE CHAPTER III – SKENARIO TERBAIK

rollingw__47065_std

 

Taeyong sedang memikirkan skenario terbaik untuk mengembalikan jurnal P.B. Dia dan grupnya comeback di acara musik sejak minggu kemarin dan kebetulan Taeyong bersama rekan satu grupnya menjadi MC dalam acara musik tersebut. Ini akan jadi kesempatan bagi Taeyong untuk bertukar sapa secara resmi dengan gadis itu.

“Hai, aku ingin mengembalikan buku ini,”

“Oh, bukuku? Jadi kau yang selama ini mengambilnya?” *plak sebuah tamparan tepat mengenai pipinya. Taeyong menggeleng keras.

“Hai, aku Taeyong, ini bukumu,”

“Astaga, kau temukan bukuku. Tapi itu udah sangat usang. Kau boleh menyimpannya.” P.B pergi begitu saja dengan bersama teman-temannya.

Taeyong menggeleng. Terlalu drama. Tidak asyik.

“Hai, P.B, aku ingin tahu, apa kau masih ingat buku ini?”

“P.B? Kau membaca jurnalku?!” diikuti tamparan keras dengan bantuan jurnal.

Benar juga, dia pasti curiga jika aku memanggilnya P.B, pikir Taeyong serius. Begitu seterusnya sampai hari itu. Taeyong masih belum berani menghampiri gadis itu. Dia masih menyimpan hutang yang harus segera dilunasi, tetapi Taeyong tidak berani mengungkapnya.

Tetapi skenario terbaik itu datang tidak diduga. Kesempatan memang harus ditangkap atau jika  perlu diciptakan, begitu kata orang bijak. Lepas perform di acara musik, Taeyong melihat gadis itu masih di ruang tunggu, sendirian, mondar-mandir seolah mencari sesuatu.

Taeyong ragu haruskah dia mendekatinya, tetapi Doyoung yang jelas tahu gelagat Taeyong sedari tadi menyenggol-nyenggol bahu belakang Taeyong, menyuruh lelaki itu bersikap jantan. Taeyong memincingkan mata seolah hendak memutilasi Doyoung, tetapi lelaki itu justru mengetuk pintu ruang tunggu gadis itu dan meninggalkan Taeyong begitu saja.

“Ya!” gadis itu menoleh cepat dan mendapati Taeyong berdiri di sana, kikuk. Baca lebih lanjut

MOLESKINE CHAPTER II – MOLESKINE

MOLESKINE CHAPTER II - MOLESKINE

 

Taeyong berhasil menemukannya. Terselip di antara tumpukan buku sekolah yang sudah masuk gudang atas ulah ibunya. Astaga!

Moleskine itu kini berada di tangannya. Taeyong membuka lembar pertama. Hanya ada dua huruf latin yang terpisahkan dengan titik. P.B. Taeyong membuka lembar berikutnya. Ada tulisan di sana dengan huruf kanji. Taeyong membuka lagi lembar berikutnya, berikutnya dan berikutnya sampai halaman terakhir. Hampir semuanya didominasi huruf kanji dan sejenis gambar komik. Taeyong mencoba membaca isi moleskine itu. Bergaul dengan Mark, salah satu roomates-nya selain Doyoung yang berasal dari Jepang, membuatnya sedikit tahu cara membaca kanji.

Page 1 – Moleskine

Aku baru saja putus dengan Kim S. Jin. Tidak benar-benar putus, toh kita tidak pernah memulai. Ketika suatu hari dia mengatakan menyukaiku, aku mencoba memberinya kesempatan. Tetapi lelaki itu memahaminya berbeda. Dia sesumbar bahwa akulah yang mengejarnya, mengais cintanya. Jadi ketika aku tidak sengaja melihatnya menggoda gadis lain di sekolah dan beberapa kali teman dekatku mengatakan melihatnya berkencan dengan gadis lain di luar sekolah, aku tahu, aku hanya bagian dari eksperimentnya. Jadi, aku biarkan saja dia berbuat sekehendaknya. Akupun demikian. Sejak itu aku putuskan sudah berakhir.

Dan buku ini adalah hadiah darinya di ulang tahunku. Aku tidak ingin membencinya seperti orang-orang yang membenci mantan mereka dengan mengembalikan barang-barang yang pernah diberikan si mantan itu. Buku ini, akan aku isi dengan cerita-cerita menarik dan menyenangkan. Lagi pula, kata guru ekonomiku, ide terciptanya AirBnB oleh Brian Chesky bersama sahabatnya Joe Gebbia berkat moleskine ini. Hmm, siapa tahu aku menciptakan gagasan dalam catatan ini. Menarikkan? Baca lebih lanjut

MOLESKINE CHAPTER I – SUBWAY

gfriend-rough-7

Semua ini bermula tepatnya tiga tahun lalu –yeah, Taeyong bahkan tidak menyangka sudah menyimpannya begitu lama, ketika dia masih berada di dunia trainee. Dulu, sepulang sekolah Taeyong harus menghabiskan sisa hari di sebuah gedung tempat dia berlatih menari. Untuk sampai ke sana, Taeyong lebih senang menggunakan subway, yang tarifnya lebih murah dan aksesnya mudah dijangkau dari rumahnya.

Dalam satu perjalanan, Taeyong pernah satu gerbong dengan gadis itu, berdiri menghadap ke arahnya. Mungkin karena bosan dan kereta tidak begitu ramai, gadis itu mengeluarkan moleskine dan mulai menulis. Taeyong iseng membaca apa yang ditulisnya, naas, dia malah menulis dengan kanji. Taeyong beralih pada jendela dan melihat bayangannya sendiri di sana, berdiri bergelantungan, mengenakan hoodie dengan headset di kuping dan masker yang menutupi mulutnya. Dia tidak memikirkan apa-apa kecuali berharap kereta ini bisa melaju lebih cepat agar bisa sampai di rumah segera. Taeyong tidak sadar sudah menguap lebar dan matanya mengerjap cepat. Masih sekitar lima belas menit untuk sampai di stasiun yang dia tuju. Tetapi dia sudah sangat mengantuk. Ketika matanya sedang berjuang agar tetap terjaga sementara lengannya harus menahan berat tubuhnya, masinis kereta agaknya sedang ingin bercanda. Kereta direm mendadak, menyebabkan tubuh Taeyong yang nyaris tidak ada tenaga goyah dan hampir-hampir jatuh menindih si gadis jika tidak dengan reflek ditahan oleh tangan mungilnya. Taeyong bisa melihat mata gadis itu melebar terkejut, dadanya sedikit tegang akibat menahan nafas.Moleskine-nya jatuh dari pangkuan.

“Maaf,” ucap Taeyong, mengambil buku gadis itu dan mengembalikannya. Si gadis hanya mengangguk singkat lalu berdiri, bersiap keluar karena kereta sudah sampai stasiun.

Hari berikutnya Taeyong kembali satu gerbong dengan gadis itu. Kali ini Taeyong duduk berhadapan dengannya. Tentu saja gadis itu tidak menyadari Taeyong adalah lelaki yang hampir menindihnya kemarin malam karena dia mengenakan hoodie dan masker dan ada berapa penumpang yang bergaya seperti dia di gerbong kemarin?

Gadis itu masih sama. Mengeluarkan moleskine dan asyik di sana. Dia terlihat serius dan begitu konsentrasi. Keningnya bahkan ikut berkerut sementara jari tangannya mencorat-coret halaman kosong moleskine. Taeyong bahkan bisa mendengar goresan pensilnya beradu dengan kertas. Ketika sedang asyik memperhatikan pemandangan itu, objek yang diobservasi mendadak mendongak menatap ke depan, seakan tahu sedang diperhatikan. Taeyong hampir-hampir salah tingkah dan segera membuang muka, pura-pura bermain ponsel. Taeyong bisa merasakan gadis itu berdiri, sebagaimana hendak menghampirinya. Tetapi kaki jenjangnya melangkah ke arah lain, terburu-buru bersama serentetan rombongan menuju pintu keluar. Mata Taeyong membuntuti kemana gadis itu akan melangkah, tetapi gadis itu tidak pergi, dia masih berdiri di sana, melihat serius jendela di mana Taeyong duduk dibaliknya sampai kereta kembali melaju. Dia tahu? pikir Taeyong. Baca lebih lanjut