GRAVITY

 

 

 

 

BRING BACK MY HOME

Nezumi Minatozai

 

Something always bring me back to you

And never takes too long

No matter what I say or do

I’ll still feel you here ‘til the moment I’m gone

 

Aku setuju jika Yuju didaulat the next Taeyeon dalam lima tahun ke depan. Dia punya kualitas yang mumpuni. Suaranya mampu menyampaikan pesan sebuah lagu, juga teknik mengolah vocalnya mengangumkan. Dia bisa menempatkan nada tinggi di tempat yang seharusnya tanpa harus melebih-lebihkan, begitu halus dan merdu, seolah sedang mengejek “Hey lihat, CEO-nim yang dulu menolakku, aku bisa mencapai nada tinggi dengan sempurna.” dengan senyum sinis yang begitu senang dia perlihatan ketika bertingkah kejam.

Aku sedang mendengarkan Gravity yang di cover Yuju di sebuah radio dua tahun silam ketika kami baru saja debut. Aku tidak tahu, entah karena kebetulan atau memang Yuju seorang genius, aku larut dalam melody tersebut, jiwaku melayang, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Yuju, penuh penghayatan.

Something always bring me back to you

Aku terus teringat bagian itu.

Always

Always

Aku mendesah pendek, ekor mataku melirik perempuan yang duduk dua kursi di depanku. Dia sedang mengambil selfie, berpose semanis yang dia bisa lalu tersenyum puas melihat hasilnya. Dia kemudian melakukan sesuatu dengan ponselnya, tenggelam di sana. Aku beralih melihat ke luar jendela. Hujan di luar lumayan lebat. Sinb di sampingku sudah terlelap sejak kami masuk mobil begitu pula Yuju dan Yerin. Yewon menikmati The Martian, novel hadiah dari fans-nya ketika dia rawat di rumah sakit. Aku sendiri, sungguh lelah tetapi tidak bisa tidur. Mataku tertutup, tetapi otakku terjaga. Dan saat hujan seperti ini, aku lebih suka mendengarkan lagu ritme kesedihaan dan kehampaan. Persis apa yang terjadi padaku.

No matter what I say or do,

I’ll still feel you here, til the moment I’m gone

Lagi-lagi aku mendesah pendek. Jiwaku rasanya berantakan. Rough. Seolah ada badai salju, berkelebat, meluluhlantahkan kepingan perasaan. Kenapa aku menyedihkan seperti ini?

*

“Here my girlfriend!”

Aku ingat betul moment ketika Sana memperkenalkan sebagai “girlfriend” di depan ribuan fans mereka. Hatiku meledak tidak karuan, pipiku merona malu. Kenapa dia bertingkah demikian.

Hubunganku dengan Sana sudah berjalan satu bulan dan memang hanya orang-orang tertentu yang tahu, termasuk memberku sendiri. Apa yang mereka tahu hanyalah kami berteman baik, tidak lebih dan ketika Sana bilang seperti itu secara mengejutkan di depan publik tanpa memberitahuku terlebih dahulu, para member menjadi heboh, terutama Yerin, dia merasa terkhianati dan tidak terima. Well, dia menyukai seseorang dan tidak berani terbuka karena takut kalau-kalau kami memprotesnya.

“Seharusnya kau bilang lebih awal!” Sowon berujar. Aku tercenung sesaat. Kenapa?

“Jadi kau bisa mentraktir kami, begitukan?”

Oh. Kupikir dia akan bilang sebaliknya.

Sinb dan Umji melompat kegirangan sambil berkoor “traktir-traktir-traktir” begitu keras, memekakkan telinga. Karena kebetulan kami libur setelah jadwal panjang akhir tahun, aku membawa mereka ke restoran sebrang jalan dekat dorm dan mentraktir babi panggang, menu favorit kami saat sedang kere.

“Eunha, selamat!” Yerin berkata sambil mengacungkan satu potong daging babi ke tengah mengajak yang lain untuk cheer.

“Untuk Eunha dan Sana!”  kata Sinb dan semua orang mengulangi dengan kalimat yang sama, termasuk dia, tanpa beban.

Lepas membayar tagihan yang menghabiskan seperempat dari gajiku bulan ini, astaga, mereka serius merampokku secara halus, kami mampir ke karaoke. Mereka sungguh bersenang-senang hari ini. Sowon memesan beer meski tahu Sinb dan Yewon belum boleh menyentuh minuman itu.

Apa yang kalian bayangkan ketika sekumpulan perempuan usia 20-an yang begitu aktif masuk ruang karaoke. Well, itu yang terjadi. Sinb dan Yewon bernyanyi sambil berteriak dan melompat-lompat mengabaikan nada dan kunci lagu. Yuju sama sekali tidak ingin bergabung. Dia memilih untuk mengistirahatkan suaranya. Tetapi dia sungguh liar dalam menari, beradu  dengan Yerin dan Sowon, senang sekali menikmati beer-nya sambil melihat member dari pojok ruangan. Satu jam kemudian keadaan berubah menjadi chaos. Ruangan memanas, tidak ada tanda-tanda hendak berhenti, seolah pesta baru saja di mulai. Aku keluar untuk mengambil camilan lagi.

“Unnie!” aku melihat Sowon keluar dari kamar mandi.

“Hai,” dia menyapa sambil cegukan. Aku tertawa kecil.

“Padahal *hick aku hanya minum *hick satu gelas *hick”

Kami berjalan ke luar, di lobby karaoke, duduk sebentar di kursi panjang yang tersedia. Aku mengambilkan air mineral dari kulkas, menyodorkan padanya. Kami diam bergeming, tidak melakukan apa-apa.

“Selamat!” dia berujar usai meneguk seperdelapan dari isi botol.

Eh!

“Seharusnya kau bilang dari awal!”

“Eh!”

“Setidaknya aku bisa memberikan kado.”

Oh!

“Tidak perlu repot-repot.” Aku bilang. Dia tersenyum kecil, memandang lurus ke depan tanpa sedikitpun menoleh padaku.

“Sana baik. Dia pasti memperlakukanmu penuh cinta!” dia melirik sekilas, aku menoleh padanya.

“Semoga kau bahagia!” dia bangkit dari kursi.

“Ayo!” katanya mengajakku masuk kembali. Di ruang karaoke, suasananya tidak chaos sebelumnya. Yerin yang memegang mike memilih menyanyikan lagu ballad favoritnya. Yang lain terduduk lemas di sofa, patuh mendengarkan.

Begitu kami masuk, Sowon menghambur ke arah Yuju yang kebetulan sebelahnya kosong dan menjatuhkan kepalanya pada bahu Yuju. Yang bersangkutan sama sekali tidak keberatan. Dia menepuk kepala Sowon pelan penuh rasa sayang meskipun kepalanya sibuk bergoyang mengikuti irama nada lagu Yerin. Aku berjalan ke sisi yang lain, bergabung dengan Sinb dan Umji.

*

Tidak ada yang berubah setelah hari itu. Hubungan ku dengan Sana terlampau baik-baik saja. Member tidak keberatan jika aku tiba-tiba menghilang setelah event bersama Twice, mereka mengerti sekali tentang tabiat orang jatuh cinta.

Aku mengalami hal-hal menakjubkan dengan Sana. Dia memperkenalkanku pada kehidupannya, pada Jepang, negara yang aku kagumi sejak lama dan memujiku dengan baik di depan teman-teman. Seolah memilikiku adalah bagian terbaik dalam hidupnya.

Cara memperlakukanku juga penuh cinta, tidak pernah bisa aku tolak. Sesekali dia akan menyuapiku jika kami kebetulan makan bersama, menggandeng tanganku di depan publik, memperlihatkan keromantisan, dan aku harus kena imbas mendapat tatapan iri diperlakuan demikian. Sana, manusia penuh cinta yang sedang dicintai banyak warga Korea dan aku menjadi orang beruntung yang mendapat perhatiannya. Seharusnya. Ya, seharusnya.

*

Ketika aku bilang tidak ada yang berubah, seharusnya memang begitu, atau aku saja yang terlampau bodoh untuk tidak menyadarinya. Aku tidak tahu kapan tepatnya, tetapi ketika aku pulang setelah kencan dengan Sana, aku melihatnya, Sowon menjatuhkan kepala dipangkuan Yuju.

Yuju? Yeah, aku tidak salah melihatnya. Perempuan paling sulit untuk ditaklukkan itu, luluh begitu saja di hadapan Sowon. Sudah lama sekali aku mengejarnya, tetapi dia sangat kokoh dan dingin, membuatku lelah dan sekarang dia bahkan mengusap pelan rambut Sowon sementara matanya fokus melihat TV dan Sowon, dia sedang selfie dengan kamera smartphone.

Apa mereka berkencan? Aku perhatikan member lain sama sekai tidak keberatan, malah menganggapnya hal biasa. Bagaimana itu bisa menjadi sangat biasa bagi mereka jika biasanya Sowon melakukan itu hanya padaku, dipangkuanku!

Aku tidak sadar membanting pintu kamar kasar. Aku bisa membayangkan Sowon terlonjak dari pose tidurnya dan Yuju beralih menatap kamar kami bertanya-tanya. Yerin akan mengintip dari dapur, sebelah tangannya masih memegang spatula kayu, menatap Yuju dan Sowon bergantian. Sinb dan Yewon berhenti sejenak dari makan mereka, saling bersitatap.

“Kenapa dia?” Yerin datang ke ruang tengah.

“Mungkin bertengkar dengan Sana!” suara dingin Sowon terdengar menanggapi.

Sial!

*

Hari berikutnya berikutnya dan berikutnya, aku melihat mereka lagi. Sowon sungguh keterlaluan. Dia memperhatikan Yuju begitu intesif dan akan tersenyum bangga jika Yuju melakukan sesuatu, yang sebenarnya bukan hal besar. Dia hanya menyanyi, strike nyaris tanpa kesalahan, dan itu hal yang biasanya baginya. Tetapi Sowon segera menghampur padanya, memberikan dukungan.

“Kau melakukannya dengan sangat baik, Yuju-ya!” dia bilang sambil menatapnya intensif penuh rasa sayang, yang dulu sering dia lakukan padaku. Dulu. Dan aku akan menjatuhkan kepalaku di dadanya, menyembunyikan wajahku, tersenyum malu, tetapi itu Yuju, bukan aku. Yuju cukup tersenyum simple dan berbalas menatapnya.

Itu terjadi berulang-ulang dan aku tidak tahan melihatnya. Mereka seolah sedang menunjukkan pada dunia, bahwa mereka sedang jatuh cinta. Eh?

*

Haaaaaaaaaaah!

Aku mendesah panjang sekali sampai-sampai orang tahu kalau aku sedang depresi.

“Eunha wae?” Sana menatapku bingung. Kami sedang makan siang di restoran bintang lima. Tempat yang jarang aku datangi. Berapa sih gaji idol dengan agency kecil seperti kami, terlebih jika harus memenuhi kebutuhan gaya hidup yang tidak bisa dikompromi, berganti baju setiap musim, misalnya dan itu sungguh membikin bengkak pengeluaran bulanan.

“Makanannya tidak enak?”

Aku menggeleng. Makanan di depanku sama sekali belum tersentuh, itu pasti yang membuatnya berpikir demikian.

“Tidak, bukan itu.”

“Lalu, kau tidak biasa dengan makanan Jepang? Kau ingin mengganti menu?”

Aku menggeleng lagi.

“Kurasa aku hanya lelah,” ujarku lemas. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku begitu tidak bersemangat hari ini.

“Ah!” Sana mengangguk paham.

“Maaf, mengajakmu keluar, harusnya kau tadi istirahat saja!” dia turut menyesal.

Aku menggeleng. Justru jika terus di dorm, aku akan sekarat tidak tahan. Sowon dan Yuju semakin tidak terkendali. Ketika aku tidak sengaja lewat depan kamar Sowon dan Yerin, aku melihat mereka saling memeluk, diam khusyuk menatap layar laptop Sowon yang sedang memutar film.

Asal kalian tahu, Sowon biasanya menolak dipelakukan demikian, dia geli jika ada anggota tubuhnya yang disentuh, terlalu sensitive, dia akan menjerit protes meskipun dia juga sangat suka menggoda kami dengan cara itu, tetapi tidak jika dia menjadi korban. Dan yang aku lihat saat itu, dia mudah saja takluk dalam pelukan Yuju, lama sekali, sampai film selesai bahkan setelahnya. Mereka masih dalam posisi sama. Yuju bahkan menautkan tangannya pada Sowon erat dan mengecup keningnya singkat.

What the hell! Aku bahkan tidak pernah bisa mencium keningnya!

*Eunha-ya?”  Sana melambaikan tangannya di depan wajahku. Usai makan tadi, kami berjalan sebentar di taman dekat sungai Han. Sana menceritakan banyak hal tetapi aku tidak mendengarkan secara intesif dan sekarang dia pasti menagihnya.

“Ya?” aku menaikkan satu alisku. Dia mendesah pendek.

“Sepertinya kau benar-benar kelelahan. Aku akan mengantarkanmu pulang!” dia berkata pendek.

“Maaf!”

Dia menggeleng, tidak masalah.

“Kesehatanmu lebih penting!” Sana menggandeng lenganku, mencegat taxi untukku dan membayarkan tarifnya.

“Tolong antarkan dia dengan selamat,” dia berpesan pada supir taxi sebelum menutup pintu. Aku tersenyum, membalas lambaian tangannya sebelum taxi melaju. Dia sangat baik, penuh perhatian dan romantis.

*

Angin musim dingin meniup kencang begitu aku membuka pintu. Dingin, menusuk pada setiap jaringan kulit yang terbuka. Aku mengencangkan jaket dan melepas sepatu boot berbulu sambil berseru kedinginan. Dorm sepi. Member sudah terlelap. Ketika aku membuka kamar, Yerin ada di ranjang Yuju, sedang memeluk Sinb dan Yewon terlelap sendirian di ranjangnya. Aku mengintip ke atas. Kosong. Di mana Yuju?

Aku keluar menuju kamar sebelah. Pintunya tidak dikunci jadi aku membukanya sedikit. Biasanya saat dingin seperti ini, aku akan pergi ke kamar Sowon dan tidur di sana. Sowon serta merta akan memelukku erat, menyalurkan kehangatan. Aku tidak tahu, tetapi tubuh Sowon benar-benar sangat hangat dan nyaman seperti selimut berbulu tebal, terutama saat musim dingin seperti ini.

Aku tertahan sejenak begitu membuka pintu. Sungguh, seharusnya aku tidak perlu membukanya. Aku melihat Yuju di sana. Tidur, tenang, dengan nafas teratur dan di sampingnya, berbaring pula Sowon, tidak kalah tenang. Mereka berbagi selimut di atas kasur single bed yang sempit.

Ya ampun. Aku menekan bibirku dalam-dalam. Kenyataan apa ini? aku kembali ke kamarku, melihat Yewon berbaring rapi di kasur sempitnya sendirian. Aku menghampirinya, menyempilkan tubuhku dalam satu selimutnya. Yewon melenguh sesaat, bergeser ke samping, seolah memberiku ruang. Aku tersenyum kecil, berbalik membelakanginya. Jika itu Sowon, dia pasti akan memelukku, mencium kepalaku sekaligus, tanpa dia sadari.

Aku mendesah lagi. Betapa aku merindukannya.

*

Musim telah berganti. Tumpukan salju putih berganti mekarnya daun dan bunga di sepanjang jalan. Angin dingin berubah menyejukkan. Sinar matahari bahagia menyapa wajah-wajah ceria, menghangatkan. Musim semi telah tiba. Pesona cinta tumbuh, bermekaran menyebarkan aroma harum pengharapan pada hati-hati yang begitu kesepian di musim sebelumnya. Orang-orang begitu semangat menyambut semi, percaya bahwa musim ini adalah musim terbaik menemukan cinta. Benarkah?

Aku sedang berdiri di atas gedung acara musik. Masih ada satu jam sebelum acara di mulai. Aku bisa saja di dalam, melakukan recording, behind the scene atau tidur di sofa seperti yang lain. Tetapi aku memilih berada di sini, menikmati aroma musim semi.

Seharusnya aku sudah mengganti playlist musik ku dengan lagu yang ceria, menggambarkan kebahagian, keindahan cinta, bukan lagu menyedihkan seperti Gravity yang dicover Yuju dua tahun lalu.

Yuju.

Aku tersenyum simpul. Wanita itu sekarang menikmati apa yang pernah aku alami dalam tiga tahun terakhir. Perhatian dan kasih sayang Sowon. Manusia itu sungguh pandai memperlakukan seorang wanita, menyanjungnya dengan hormat dan membenamkan dirinya, kehadirannya pada otak bawah sadar perempuan. Aku tidak tahu bagaimana tetapi tiba-tiba saja dia menjadi bagian dari kehidupanku. Bahkan Sana tidak bisa menggantikannya meskipun dengan perhatian yang sama.

Dengan Sowon aku menemukan ketulusan, kenyamanan, kehangatan dan keteduhan. Aku melihat ketulusannya ketika dia menyuapi kami. Merasakan kenyamanan ketika dia memelukku, kehangatan ketika dia mencium keningku, dan keteduhan ketika dia menatapku face-to-face dan semuanya tidak aku rasakan ketika bersama Sana.

Sana memang menyuapiku, memelukku, menciumku dan menatapku, memberikan perhatian terbaiknya. Tetapi bersama Sana, aku hanya merasakan kesenangan, aku berusaha mengimbanginya, demi terlihat sempurna tanpa cacat. Aku tidak pernah berbagi kesedihan, ketakutan, kekecewaan. Aku hanya berbagi kesenangan.

Dan Sowon, dia ibarat rumah, menerimaku secara terbuka dan aku tidak perlu menyembunyikan apapun karena dia tahu, dia seolah tahu semuanya. Dia membuat diriku menjadi sempurna, dia melengkapi, bukan mendominasi. Dan aku, aku telah melepas semua itu demi sebuah perasaan yang hanya sementara.

Sederhananya, jika Sana adalah hot girl, kapten cheers yang begitu mempesona dan semua orang memperebutkannya di sekolahmu maka Sowon sama dengan sahabat terbaik yang pernah kau miliki, yang justru akan berkorban apapun demi kau, termasuk perasaannya.

Aku mendesah pendek. Angin musim semi meniup pelan menggerakkan daun-daun yang baru tumbuh menimbulkan bunyi kemresek lembut. Aku merasakan seseorang memeluk pinggangku dari belakang, menjatuhkan dagunya pada bahuku. Aku tersenyum, menyentuh jari-jari tangan yang melingkar di sekitar pinggangku.

“Unnie?” Aku memanggilnya. Tangan itu terlepas, begitu juga dengan dagunya terangkat ragu.

“Unnie?” dia balik bertanya. Aku menggigit bibir bawahku, menutup mata, meruntukki kebodohanku.

“Sana?” aku menyapa dengan senyum termanis yang aku punya.

“Unnie siapa? Kau sedang memikirkan siapa?” dia bertanya curiga.

“Bukan siapa-siapa. Aku sedang … sedang menghafal kosa kata …..” mataku melirik ke atas, melihat langit.

“Sunny .. iya … sunny, kau salah dengar!” jelasku meyakinkan lagi.

“Benarkah?” matanya mendelik masih curiga tetapi sebentar saja sebelum kembali normal.

“Kau sedang apa?” aku bertanya, mengalihkan fokus.

“Oh, aku datang untuk mendukungmu!” dia memberikan sebuket bunga matahari, persis dengan tema comeback kami.

“Oh, terima kasih!” aku menerimanya senang hati, menciumnya sekilas.

“Sowon bilang kau ada di atap, memangnya apa yang kau lakukan?” dia bertanya. Mata bulatnya mengarah tepat menatapku lembut.

“Tidak ada, aku hanya sedikit gugup!”

Dia mengangguk pendek.

“Aku juga kadang seperti itu.”

“Ayo turun.” Aku menggandeng lengannnya, turun tangan menuju studio di mana seharusnya aku berada. Sudah ada teman-temanku di sana sedang melakukan Vapps. Sinb melambai menyuruhu bergabung, bersama Sana.

“Nah, teman-teman kita kedatangan tamu spesial …..” Yerin mengarahkan kamera ke koridor, menyambut kedatangan kami.

“Apa yang kalian lakukan barusan?” Yerin usil bertanya.

“Kami … kami berkencan,” Sana menjawab sambil bercanda. Member menanggapinya serius, pura-pura terkejut, marah, tidak percaya. Aku tertawa saja, mengikuti permainan. Ketika kamera fokus pada Sinb dan Yewon, Yuju menyenggol lenganku.

“Sowon sejak tadi menelponmu, tidak kau angkat?” dia berbisik. Aku mengambil ponselku. Ada 8 miscall dari Sowon. Aku menautkan alis, berpikir. Bukankah dia tahu aku di atap gedung. Aku beralih meliriknya yang sedang bercanda dengan Sana dan Yerin. Sama sekali tidak ada tindakan mencurigakan.

*

Pukul 03.00 AM. Aku melirik jam di ponselku dan beringsut bangun, bergegas ke kamar mandi. Rasanya seolah aku sudah menahan pipis berjam-jam. Ketika aku hendak kembali ke kamar, aku melihat kamar Sowon dan Yerin sedikit terbuka. Tidak tahu apa yang mendorongku sehingga iseng berjalan mendekati kamar itu dan melihat Sowon terbaring lelap di sana. Sangat tenang, nyaris tanpa suara. Aku pelan-pelan masuk. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Dengan hati-hati aku mendudukan pantatku di tepi ranjangnya. Aku bisa menatapnya dengan sempurna. Wajah yang sudah lama sekali aku rindukan, terlepas fakta bahwa kami bertemu setiap hari bahkan tinggal satu atap. Aku menyingkap anak rambutnya ke samping menampakkan seluruh wajahnya.

Bagaimana bisa ada manusia secantik ini? Sophrodite? Aku tersenyum kecil. Sophrodite. Tiba-tiba saja, secara sadar aku mendekatkan wajahku, menyentuh hidungnya dengan hidungku, lalu mengecup bibirnya dalam. Ketika mengangkat kepala, aku melihat dia membuka mata terkejut. Aku menahan napas, susah payah menelan ludah.

You wake up?

[]


26 Januari – 17.30 PM

Cause I’m sick of Wonha

Not Edited

Tinggalkan komentar