
Kembang api meluncur bebas menghias hitam langit. Kemepyar, kertip-kertip*. Balon warna-warni diterbangkan ke udara. Suara terompet menghambur bersahutan. Ini adalah puncak malam tahun baru. Mereka, seluruh panitia penyelenggara acara, artis pengisi acara bersama para fans, bersama-sama menghadap langit, tersenyum, tertawa, bergembira, memeriahkan perayaan tahun baru. Beberapa diantara kerumunan manusia itu menyelipkan harapan-harapan untuk kehidupan lebih baik di tahun selanjutnya, membuat resolusi, begitu yang mereka sebut.
Taeyong menoleh ke samping sejenak, matanya tidak sengaja menangkap sosok gadis berparas cantik dengan ponytail, sedang memandang langit penuh takjub sambil memberikan back-hug pada gadis berambut bob, masih satu grup dengannya. Dari caranya bersikap, bagaimana dia memperlakukan member-nya, Taeyong bisa melihat, dia perempuan penuh kasih sayang. Sosok yang cukup berbicara seperlunya, lugas dan tidak berbelit-belit.
“Kau tidak menghampirinya?” heran Doyoung. Mereka sudah kembali ke dalam studio. Suibu bercanda dengan sesama artis pengisi acara di depan ruang tunggu, bercampur jadi satu. Gadis itu jelas-jelas sedang sendirian di depan ruang tunggu, masih mengenakan kostum panggung, bermain dengan ponsel.
“Aku sudah melupakannya,” ungkap Taeyong.
“Wha-?” Baca lebih lanjut



Nezumi Minatozai




