Secangkir Coklat Panas dan Air Mancur Spektrum Warna

68747470733a2f2f69312e736e6463646e2e636f6d2f617274776f726b732d3030303131303039373832372d686967376c702d74353030783530302e6a7067

Ketika aku dalam perjalanan pulang dari sebuah event bersama para member, secara kebetulan musik dalam van kami memutar lagu Gravity, salah satu playlist favoritku atas rekomendasi Jessica, dulu sebelum semua menjadi seperti ini. Kalau boleh jujur, aku lebih menyukai cover milik Jessica diantara yang lain bahkan dari penyanyi aslinya. Mungkin karena ikatan yang terjalin diantara kami atau mungkin aku memang menyukai segala hal dari Jessica.

Aku penasaran apa yang dilakukannya saat ini di tengah hujan gerimis. Semenjak kepergiannya tanpa status yang jelas, hubungan kami, khususnya aku, tidak lebih baik. Hampir diantara kami semua kesulitan untuk menghubunginya, bahkan Tiffany dan Hyoyeon sekalipun. Dia menolak segala bentuk komunikasi terhadap kami.

Aku bisa mengerti jika dia butuh waktu untuk menenangkan pikiran demi memahami apa yang terjadi, tetapi bukan berarti satu tahun dia sama sekali tidak berbicara dengan kami. Krystal, adiknya juga memilih bungkam dan menghindari kami. Ketika ada event SMTown bersama, Krystal tidak pernah bergaul dengan kami lagi. Aku mengerti akan sikapnya yang bingung harus bagaimana. Apakah berada di kubu kakaknya atau perusahaan yang menaunginya. Andai Krystal mau membuka diri sedikit saja, kurasa kami bisa membantu. Akan tetapi itu jelas tidak mungkin. Kita tahu bagaimana gen Jung itu membentuk kharakter mereka. Beku dan keras.

“Aku merindukan Jessica,” Baca lebih lanjut

THIS IS HOW STEP(H) SOLVE THE PROBLEM – BAB I

Bab I –Sebuah Rahasia (yang Aku Tidak -Boleh- Tahu)

snsd tiffany sure magazine

Dorm sore itu mendadak ramai. Ada teman lama kami yang berkunjung. Stella Kim. Dia seharusnya ikut debut bersama kami, menjadi salah satu member SNSD, namun orang tuanya tidak setuju dan menyuruhnya sekolah bisnis di USA. Dan karena sedang liburan, dia menyempatkan diri mengunjungi kami. Benar-benar teman baik.

Stella sibuk membagi oleh-oleh dari USA dan tentu saja meskipun aku dan Jessie sering membawa souvenir dari tempat kelahiran kami, masih saja teman-teman yang lain berebut. Tapi Stella sepertinya sudah biasa dengan tingkah kami. Jadi begitu dia meletakkan tas oleh-oleh, dia cepat-cepat menyingkir.

“Hm!” aku menoleh begitu mendengar suara dari samping, lantas tersenyum.

“Hai!” aku menyapanya, memeluknya.

“Kau terlihat lebih cantik setiap kali ke sini,”

“Kau berlebihan Steph!” ujarnya. Aku mengedikkan kepala. Sekalipun aku mengatakan yang sebenarnya, dia akan menganggapnya angin lalu. Hal yang tidak musti dibahas lama-lama. Baca lebih lanjut

THIS IS HOW STEP(H) SOLVE THE PROBLEM

tumblr_m3u7dfpQVs1rpnu77o1_500

STEPH’S DIARY

Alasan aku menuliskan ini, karena setiap hari, setiap kali aku melihat mereka, pikiranku semakin tercerabut dan kepalaku seolah tertusuk jarum-jarum kecil menggantikan setiap helai rambut. Sakit. Pening. Memikirkan masalah ini rasanya seperti benang ruwet yang dipaksa untuk diurai. Tidak ada habisnya. Rumitkan?

Nah, jadi aku ingin meminta pendapat kalian mengenai persoalan ini. Oh atau mungkin begini, “Apa yang akan kau lakukan jika berada di posisiku?”

Pertama aku kenalkan pelaku utama di sini. Sahabatku Kim Taeyeon. Dia agak tertutup, namun aktif menghasilkan uang. Yah, kupikir orang harus cerewet sana-sini agar orang-orang menyadari keberadaanmu. Ternyata dia tidak. Dia cukup mengembangkan potensinya dan bertemu dengan orang yang tepat lalu jadilah ‘superstar’. Tidak hanya kalangan anak muda, Taeyeon juga menjadi favorit pria dewasa. Dia memiliki wajah imut, kulit putih pucat dengan rambut panjang tergerai dan body ‘S’. Hanya satu kekurangannya. Jika kami semua berdiri sejajar, dia paling pendek. Aku sempat berpikir gen pertumbuhannya itu berkaitan dengan hormone imut dalam wajahya. Aku pernah mendengar pepatah mengatakan “wajah sering kali menipu.” Jadi meskipun Taeyeon terlihat seperti anak kecil, dia anggota paling tua diantara kami. Namun juga aku mendengar lagi “usia tidak menunjukkan kedewasaan seseorang.” Dah yaaah, untuk beberapa hal Taeyeon bisa berlaku bijak, namun lebih sering berlaku konyol. Baca lebih lanjut

In Simple Terms

tumblr_nkwn4jrObg1t484jfo1_500

 

Jessica bersiap duduk tenang untuk waktu yang lama, santai sore membaca buku di sofa, mungkin diikuti dengan tidur satu atau dua jam, ketika bel pintu rumahnya berbunyi.

Dia berniat untuk mengabaikannya, tapi hanya ada segelintir orang yang sungguh menggunakan bel itu – Krystal mengeluh ketika itu tidak sepenuhnya berfungsi waktu itu jadi dia tidak mencobanya lagi, Tiffany mengetuk sangat keras Jessica merasa dia melakukan hal yang tepat terhadap bakatnya dan Sooyoung cukup berteriak – dan dia punya feeling dia tahu siapa orang ini.

Menghela napas berat, dia beranjak dari sofa, meletakkan novelnya di meja kopi dan menyeret kakinya menuju pintu dalam sandalnya, berjalan agak limpung karena dia memakainya terbalik tanpa sadar.

“Hi.” Tamunya tersenyum gugup ketika dia membuka pintu dengan ekspressi bagaimana-bisa-aku-tidak-tahan-menghadapimu.

“Sorry, apa aku mengganggumu?”

Jessica melempar tatapan rindu pada sofanya. “Tidak.”

“Kau yakin? Aku bisa kembali.” Taeyeon menggigit bibirnya dan menarik ujung lengannya, tampak seperti seorang anak yang dikirim ke tahanan.

Dan itu membuat Jessica melunak. “Tidak, kau sudah di sini, jadi kau mungkin akan menggangguku sepanjang hari.” Baca lebih lanjut

Dear Jessica – I Miss You

Sudah hampir dua tahun sejak hari itu. Masihkah kau ingat, di malam hujan deras, aku terpaksa mengetuk pintu rumahmu. “Errg … mobilku mogok,” aku menjelaskan ragu-ragu. Kau dengan bodohnya hanya berdiri memperhatikan kecanggunganku. Padahal dalam otakku sudah penuh kalimat umpatan. Membodoh-bodohkan diriku sendiri. Kau bodoh Kim Taeyeon! atau sejenisnya. Hingga akhirnya kau menyuruh aku masuk.

Aku mengganti slip dengan sandal fuzzy yang kau sodorkan. Aku terpaksa menatap lama sandal itu. Teringat sebuah lelucon ringan tentang kacang polong yang entah kenapa begitu mirip dengan sandal ini.

Kau dan aku lantas duduk di satu-satunya sofa dalam ruangan tersebut. Berkali-kali aku merubah posisi, menyamankan pantat lalu melipat kaki. Kau berdehem, sekadar mencairkan suasana hatimu.

“Bagaimana kabarmu?” kau bertanya canggung.

“Aku baik,”

“Kau sendiri?” aku balik bertanya. Kau mengangkat bahu, tanganmu menari-nari di udara. Seolah mengatakan aku-begini-begini-saja.

“Apa aku menggangumu?” tanyaku melihat kau yang tidak sengaja menuap. “Jika kau keberatan aku bisa menunggu di luar,” kataku cepat-cepat berdiri. Kau menahan lenganku. Aku sedikit terkejut, bola mataku membesar. Rasanya sudah lama kita tidak saling bersentuhan. Aku menatapmu, menelisik bola matamu yang bergerak tidak teratur, begitu salah tingkah.

“Hmm!” lagi, kau berdehem. Kau melepas canggung cengkramanmu, lantas kembali duduk. Keadaan hening itu datang. Kau mungkin bertanya-tanya apa yang membuatku datang kemari. Tentu saja selain fakta mobilku mogok dan di luar hujan deras, sedangkan taksi yang aku pesan tidak kunjung datang. Bahkan manager oppa terlalu malas untuk menjemputku di tengah hujan badai seperti ini. Kenapa aku harus mengetuk pintu rumahmu sementara aku bisa menunggu di café, di sebrang jalan ini.

“Kau ingin minum sesuatu?” kau bertanya, memecah kebisuan. Baca lebih lanjut

Dear Jessica – I Love You

Sudah hampir dua tahun sejak hari itu. Masihkah kau ingat, di malam hujan deras, kau terpaksa mengetuk pintu apartementku. “Errg … mobilku mogok,” kau menjelaskan ragu-ragu. Aku dengan bodohnya hanya berdiri memperhatikan kecanggunganmu. Aku yakin dalam otakmu sudah penuh kalimat umpatan. Membodoh-bodohkan dirimu sendiri. How stupid I’m! mungkin seperti itu, atau sejenisnya. Hingga akhirnya aku menyuruhmu masuk.

Kau mengganti slip-mu dengan sandal fuzzy yang aku sodorkan. Kau menatap lama sandal itu. Aku bisa melihat bola matamu hendak memutar jengah, namun sengaja kau tahan. Seolah kau tidak dalam posisi tepat untuk melakukannya.

Kau lantas duduk di satu-satunya sofa dalam ruangan tersebut. Berkali-kali merubah posisi, menyamankan pantat lalu melipat kaki. Kau berdehem, sekadar mencairkan suasana hatimu.

“Bagaimana kabarmu?” kau agak terkejut dengan pertanyaanku, seolah kita tidak bertemu sekian tahun.

“Aku baik,” jawabmu mengalihkan muka, menatap jendela samping, yang seketika memunculkan cahaya kilat diikut gelegar guntur.

“Kau sendiri?” kau balik bertanya.

“Aku tidak baik-baik saja,” aku menjawab lirih. Kepalamu terputar demi melihat mata senduku.

“Jika kau keberatan aku bisa menunggu di luar,” katamu cepat-cepat berdiri. Aku menahan lenganmu. Kau sedikit terkejut, bola matamu membesar. Rasanya sudah lama kita tidak saling bersentuhan. Aku menatapmu, menelisik bola matamu yang bergerak tidak teratur, begitu salah tingkah. Baca lebih lanjut

One Afternoon – Bagian 3

936d73bce9121e08036f40f29d1aeed1

Seoul, 2015

Bel pintu rumah itu sudah ku tekan berkali-kali namun Almighty Jessica Jung belum juga membukakan pintu. Aku yakin dia ada di dalam. Sialnya, telpon dari ku tidak di angkat.

“JESSICA!!!” aku berteriak lagi, entah sudah ke berapa kali mengetuk pintu kayu lebih keras, mengintip dari sela-sela tirai jendela yang tersingkap. Tidak kelihatan apa-apa.

Mungkin dia memang tidak sedang di rumah. Aku terduduk lesu di teras rumah mereka. Semuanya sia-sia. Hari libur, kencan, bahkan topeng ini. Tidak ada yang berjalan dengan baik. Topeng dalam genggaman ini aku letakkan di atas meja teras rumah, membiarkan tergeletak di sana. Aku beranjak pergi meninggalkan rumah tersebut setelah menendang kesal pada udara hampa.

*

Seoul, akhir 2008

Ruang latihan itu sudah penuh dengan makanan yang di bawa oleh Manager oppa. Mereka sedang break setelah hampir dua jam latihan tanpa jeda. Jessica sibuk mengobrol dengan Yuri ketika Taeyeon memasuki ruang latihan. Ekor matanya tertuju pada gadis itu yang sibuk menjelaskan pada Yuri bagaimana kehidupan orang-orang di USA.

“Di Amerika jika kau menatap orang atau menoleh padanya, mereka menganggap kau tertarik pada padanya.”

“Benarkah?” Yuri terkejut. Jessica mengangguk lalu melanjutkan, “Ketika aku di L.A, ada laki-laki yang wajahnya tidak asing lalu aku menoleh untuk memastikan, tapi laki-laki itu justru tersenyum dan menganggap aku menyukainya.”

“Daebak!” Yuri terkagum sembari tertawa. Jessica memasukkan snack ke dalam mulutnya. Pandangannya tidak sengaja bertatapan dengan Taeyeon yang sejak tadi sudah memperhatikannya. Taeyeon buru-buru membuang muka dan pura-pura bergabung dengan obrolan Yoona dan Sooyoung di sampingnya. Jessica melihatnya hanya mengangkat bahu lalu kembali pada Yuri.

“Lalu …” terang Jessica lagi. Suaranya sudah bercampur dengan keriuhan beberapa orang dalam ruangan tersebut. Taeyeon tidak bisa mendengarnya lagi. Meski begitu ia masih bisa melihat dari jarak yang tidak bergitu jauh, memperhatikan bagaimana gadis itu begitu menikmati obrolannya dengan Yuri. Saling bertatapan, memainkan tangan, bercanda dan tertawa bersama. Oh, betapa Taeyeon berharap berada di posisi Yuri sekarang.

Latihan sudah selesai. Semua member SNSD berbondong-bondong menuju ruang ganti, kecuali Taeyeon, si kid leader masih betah di ruang latihan.

“Kim Taeyeon, ayo!” Jessica menyeru. Langkah kakinya sudah di ujung pintu, namun kepalanya masih tertinggal di dalam ruangan.

“Kau duluan, aku masih ingin di sini.”

“Wae?” Jessica kembali melangkah ke dalam, menghampiri Taeyeon.

“Ani, pasti mengantri.”

Jessica tersadar akan sesuatu, wajahnya mengatakan oh-ya-kau-benar dan ikut duduk di samping Taeyeon. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 9

Chapter 9 : My Love My Girl My Sunshine

“Terkadang dia terlihat cantik. Namun lebih sering terlihat mengagumkan… Mempersona”

-Byun Baekhyun-

60892_554990794515689_1835820459_n

Baekhyun tengkurap dan menatap wallpaper ponselnya, kenapa dia sangat cantik? Dengan senyum itu yang membuat hatinya berdetak sepuluh kali lebih cepat, sampai dia takut dia akan segera mendapat serangan jantung. Ya, Chanyeol jatuh cinta setiap dua minggu tapi Baekhyun jatuh cinta pada gadis yang sama lagi, lagi dan lagi selama dua tahun.

Tapi dia terlalu jauh di jangkau. Baekhyun mendesah, kenapa dia harus saaaangat sempurna, dengan rambut hitam panjang terkulai di wajah cantiknya. Dia pintar dan baik hati. Baekhyun bertemu dengannya untuk pertama kali ketika dia melihat gadis itu membantu gadis lain yang terjatuh dan memberinya tisu. Dia terlihat sangat cantik dan mempesona, dia mengalami love-struck yang membuatnya sekarat dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Sejak saat itu, dia akan selalu melihat gadis itu dari kejauhan dan tersenyum kapanpun gadis itu senang. Dia selalu pergi ke toilet ketika kelas matematika, karena dia tahu gadis itu akan melewti koridor karena urusan osisnya. Dia mencoba menyapa tapi tidak pernah berhasil, gadis itu akan tersenyum padanya dan memanggil namanya dengan suara lembutnya.

“Katakan padanya, Pabo!” sebuah suara memasuki lamunannya.

Baekhyun mendengus, “Bagaimana bisa aku menyatakannya? Apa yang akan aku lakukan jika dia menolakku?” dia bertanya pada suara yang memasuki lamunannya, tapi masih menatap foto dalam layar ponselnya. Sebenarnya Baekhyun pikir itu hanya teman imajinasinya yang lain yang menjawabnya.

“Kau tidak akan pernah tahu sampai mencobanya, pabo! Kau seorang pengecut. Kau harus berjuang untuk seseorang yang kau cintai.” Suara berat penuh kekuatan dan nada dramatis.

“Cinta?”

“Mm! Itu namanya kau harus berjuang, kau akan bilang kau kalah dari si bakpao itu. Dia hanya seorang ketua Osis, dan kau murid terimut di sekolah, kau akan menang!” Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 8

The Girl who Never Back-off

“Aku tidak akan menyesali sesuatu. Meskipun jika aku sangat menyakiti Karena inilah hidupku”

-Jessica Jung-

tumblr_liv1r4vjIl1qcgyaa

Seohyun hendak melahap makanannya di kantin ketika seorang murid laki-laki mengatakan padanya bahwa kakaknya saat ini sedang membully seseorang, dia berhenti dan buru-buru melangkah menuju atap. Oh, tidak. Kakaknya tidak dalam mood yang baik, lupakan! Kris masih marah pagi ini, dia akan melakukan sesuatu yang mungkin akan dia sesali di masa depan, dan murid itu akan dipukulinya.

Seohyun melewati beberapa murid dengan cepat, ketika sebuah tangan menangkap sikunya. “Seohyun-ah…” dia menengadah dan melihat Luhan mengerutkan kening karena dia terlihat sangat terburu-buru. “Ada apa?”

“Oppa kita harus segera ke atap.” Seohyun mendesaknya, “Kris oppa…” tanpa penjelasan lebih Luhan mengangguk dan memegang tangan Seohyun dan berjalan cepat menuju atap. Seohyun merasa sangat lega mengetahui Luhan tidak meminta penjelasan lebih padanya. Prioritas utama mereka menyelamatkan lelaki itu dari amukan Kris.

Luhan menyamakan langkahnya dengan Seohyun terlebih dulu, ya, meskipun mereka harus segera sampai ke atap, dia lebih peduli pada Seohyun dari pada lelaki itu. Dan juga, dia jarang memegang tangan Seohyun seerat ini, biasanya Seohyun enggan dengan kontak fisik. Oke, sebut dia brengsek atau egois apapun itu, tapi Luhan suka memegang tangan Seohyun meskipun mereka dalam keramaian.

Semua gadis sepanjang koridor melihat mereka dengan cemburu di mata mereka, pasangan paling serasi di sekolah berjalan bergandengan tangan erat, dan hampir berlari di koridor. Mereka tidak tahu alasan sebenarnya mereka terburu-buru, mereka hanya peduli dengan atmosfer yang saaaaangat pink mengitari pasangan itu. Setidaknya dari Luhan.

Mereka sampai di atas atap dan melihat pintu terbuka lebar dengan Minseok di depan mereka sementara dari sisi yang lain Taeyeon dan Yuri dating terburu-buru. “Minseok-oppa.” Seohyun meneriakkan nama Minseok, tapi Minseok hanya melirik sekilas dan masuk ke atap.

Mata mereka dengan cepat mencari sosok Kris. Mereka menemukan lelaki yang dihajar terbaring di lantai, mengkerut dan merintih kesakitan. Sementara Kris sekarang mencengkeram erat si blonde dan kemarahannya tampak jelas di wajah tampannya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 7

Chapter 7

Brave or reckless

“Kadang melihatnya tersenyum sudah cukup bagiku. Tawanya bagian dari kebahagianku. Tapi aku tidak bisa menerimanya jika dia tersenyum untuk orang lain. Kebahagiannya adalah segala sesuatu yang berhubungan denganku”
-Im Luhan

EXO-M-image-exo-m-36304307-1000-1500

Kelas matematika membunuh semua orang. Itu adalah yang terakhir Jessica pikirkan saat dia menuju ke atap dan memutuskan untuk tidur di sana. Dia kehilangan nafsu makan siangnya setelah menerima detensi. Hebat. Baru hari pertama sekolah dan dia mendapat detensi hanya karena dia tidur di kelas matematika.

Lagi pula siapa yang butuh matematika? Matematika tidak ada hubungannya dengan hidupnya selama dia bisa menghitung uang yang di akun bank-nya lebih dari cukup. Terlebih siapa yang butuh kelas etika? Menuang teh? Kau tidak butuh kemampuan itu untuk bermain violin. Semuanya tidak berguna.

Jessica mengabaikan teriakan lelaki itu ketika lelaki yang lain membullinya, yeah, dimanapun bullying masalah utama di sekolah. Tapi bukan urusannya. Dia tidak peduli sama sekali. Jessica mengeluarkan mp3-nya dan memasang headphone bersiap menuju alam mimpi. Dia meletakkan tangannya untuk menutupi sinar matahari dari matanya.

Dia merasakan sesuatu di depannya, menghalanginya dari sinar matahari, bayangan menjadi lebih gelap. Sayangnya Jessica terlalu malas membuka matanya untuk mencari tahu siapa orang baik yang membantunya. Dia hanya berpikir dia beruntung sinar matahari tidak terlalu terang yang bisa merusak matanya.

Tiba-tiba, headphone-nya ditarik kasar, membuat Jessica membuka matanya, “Yah! Kau ingin mati?” dia berteriak pada orang menyebalkan itu. Menatap tajam pada lelaki sangaaat tinggi yang berdiri di hadapannya, bermain dengan headphone-nya di salah satu tangannya. Jessica tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi siapapun itu, dia memilih untuk mati. Bagaimana bisa dia mengganggu tidur orang? “Apa kau sudah bosan dengan hidupmu?” Jessica tiba-tiba berdiri. Lelaki itu dengan santai melangkah mundur. Lelaki jangkung itu hanya menaikkan salah satu alisnya dan menatap tajam dengan mata dinginnya, “Kau satu-satu orang yang ingin mati.” kata lelaki itu dingin dan datar. Baca lebih lanjut