One Afternoon – Bagian 2

1209638_1366908293263_full

Seoul, 2015

Kebodohan yang masih aku sesali hingga hari ini adalah aku, seorang Kim Taeyeon begitu mudah diatur oleh orang-orang berkepentingan yang mengambil keuntungan atas diriku. Kebodohan selanjutnya, karena hal tersebut aku kehilangan temanku.

Ini tidak seperti aku bisa berjalan sendiri. Mereka adalah bayang-bayang yang melekat dan selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Dan kami muak akan hal tersebut. Kami – aku dan teman-teman satu grupku. Tapi memang begitu jika ingin sukses dalam bidang ini. Kau harus mengikuti, mematuhi aturan si pemilik kendali atau kau akan tersingkir dan semuanya menjadi sia-sia. Nah, lupakan itu semua karena aku tidak ingin membahas konspirasi dalam pekerjaanku.

Jadi, siang setelah kami keluar dari restoran tersebut, Jessica masih saja berjibaku dengan ponsel sialannya. Aku tidak peduli lagi dan setelah mengantarkannya ke rumah, aku kembali ke dorm, seharusnya. Namun laju mobilku tiba-tiba memelan begitu melewati kawasan taman kota dan entah kenapa aku justru memarkirkan mobil di sekitar tempat tersebut. Mengambil masker dan kacamata hitam dari dashboard mobil, mengganti high heel dengan sepatu kets, aku keluar bergumul dengan orang-orang yang sedang jalan-jalan dan bersantai di sana. Baca lebih lanjut

One Afternoon – Bagian Pertama

tumblr_n4jlc7qZQM1qkiilno2_250

Aku terbangun oleh suara berisik dari ponsel. Jemariku mencari-cari dimana aku terakhir  meletakkan ponsel, lalu mematikan bunyi alarm yang selalu berbunyi pukul 9 pagi. Kendati demikian aku tak lantas bangun dan bergegas mandi. Aku kembali menenggelamkan diri dalam balutan selimut, memejamkan mata lantas meminta pada tuhan untuk dibangunkan lima menit lagi.

Tuhan memang Maha Mendengar. Lima menit kemudian mataku benar-benar terbuka. Jantungku berdetak tidak karuan, napasku tersengal. Otakku masih berputar-putar, berusaha mengingat kembali mimpi barusan, meski tidak mendapati apapun pada akhirnya.

“Haaaah,” aku mendesah panjang, lantas beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Seusai mencuci muka dan menggosok gigi, aku berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil air mineral lalu meneguknya.

Aku lalu berkeliling dorm, membuka kamar member satu persatu. Padahal ini masih jam sembilan, tapi semuanya sudah menghilang. Aku mendesis, beranjak duduk di beranda dorm yang berhadapan langsung dengan jalanan Seoul. Dari lantai 14 di gedung ini, orang-orang tidak akan tahu seorang Kim Taeyeon sedang duduk-duduk santai mengamati jalanan Seoul dan masih mengenakan baju tidur.

Aku baru saja menyelesaikan jadwalku untuk dua hari ke depan. Sengaja aku kebut rekaman album solo yang harusnya take 3-4 hari, aku cukupkan dua hari agar bisa menikmati waktu libur agak panjang. Ada beberapa hal yang harus aku urus, aku perbaiki dan aku  selesaikan dan jika tidak hari ini, maka aku tidak punya kesempatan lagi.

Puas memperhatikan hiruk pikuk orang-orang di bawah sana, aku masuk ke dalam dorm, lurus sampai kamar mandi. Tak sampai setengah jam aku sudah keluar dari kamar mandi, memilah-milah baju yang hendak aku kenakan. Pilihan aku jatuhkan pada kemeja biru laut dan skiny jeans putih. Memakai make-up sekenanya, aku menyambar kunci mobil lalu berjalan menuruni lift menuju basement.

BMW putih itu terpakir rapi diantara rentetan mobil-mobil mewah di sekitarnya. Aku masuk begitu bunyi beep dua kali terdengar. Menyambungkan ponsel pada mobil lalu memutar lagu-lagu favoritku, aku membawa keluar mobil ini menikmati jalanan Seoul. Cuaca hari ini sangat pas untuk jalan-jalan. Langit sedang cerah. Tapi bukan itu tujuanku saat ini. Aku membelokkan mobil pada kawasan elit di daerah Gangnam. Sudah lama aku tidak bertandang ke rumah ini. Rumah besar berlantai dua yang terlihat sederhana bersamaan dengan rumah-rumah elit mengitarinya. Ada taman kecil di depan rumah ini dan masih tumbuh subur dengan bunga-bunga berwarna-warni berjejeran rapi akur dengan rumput, kaktus dan tanaman lainnya. Aku tidak sengaja tersenyum mendapati bunga anyelir putih melambai menyambutku diantara taman bunga kecil itu.

Bel pintu rumah aku bunyikan. Tiga sampai empat kali, namun si pemilik rumah ini tidak kunjung keluar. Aku membunyikan lagi, lagi dan lagi sengaja membuat suara gaduh. Aku yakin pemilik rumah ada di dalam, tapi kenapa tidak lantas keluar itu yang menjadi pertanyaan. Ketika hendak menghubungi si pemilik rumah, tiba-tiba pintu terbuka.

What the hell!Baca lebih lanjut

Run Jessie Run

Jessica Run

Jessica benci berlari, tidak peduli setelat apapun itu, Jessica lebih memilih berjalan santai dari pada tergesa-gesa. Jessica bukan pula pribadi yang senang bergerak kecuali saat bekerja. Di waktu libur sering ia habiskan di dalam kamar. Berguling-guling, menghabiskan waktu seharian penuh bersamanya. Mungkin karena ia tidak menghabiskan banyak waktu dengan kamar tidurnya, ia merasa perlu berbalas dendam. Namun itu dulu, sebelum ia bertemu seseorang yang kelak mungkin saja merubah presepsinya.

Orang itu bernama Kim Taeyeon. Wanita muda yang sering menghabiskan keseluruhan harinya duduk di café dekat jendela di mana Jessica bekeja. Ia akan memesan berbagai varian rasa minuman, memandangi jendela cukup lama, lalu sibuk dengan laptop dan buku catatan di hadapannya. Terkadang ia mengundang kawan lamanya untuk bercakap atau beberapa koleganya, mendiskusikan sebuah bisnis. Namun lebih sering dia mampir di meja order saat café tidak sibuk, mengajak ngobrol pelayan café yang kebetulan selalu dengan Jessica. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 6

Chapter 6

The Rooftop Bully

snsd-yoona-innisfree-2015

“Kita tidak bisa memaksa seseorang memiliki perasaan yang sama, juga kita bisa bahagia dengan pura-pura mereka memiliki perasaan yang sama seperti kita”

-Im Yoona-

“Jadi murid Jung, ada beberapa hal yang harus kamu ingat sebagai murid baru di sekolah ini.” Jessica melihat folder yang diberikan guru itu padanya. “Namamu Jung Sooyeon atau Jessica Jung, yang mana nama aslimu?”

“Keduanya.” kata Jessica, dan dia tidak ingin menjelaskan lebih atau akan jadi masalah besar.

“Oke Jessica, aku akan mengatakan padamu sesuatu yang sangat penting tentang sekolah ini!” Mrs. Ahn mengambil satu kertas dari folder Jessica yang tertulis dengan bahasa Korea dan satu lagi dengan bahasa Inggris. “Peraturan” Jessica mengintip kertas tersebut, sialnya dia benci peraturan. “SMA SM bukan hanya sekolah biasa di Korea.”

“Ya, aku tahu. Dengan biaya sekolah yang sangat mahal, sangat tidak mungkin hanya menjadi sekolah normal.” terang Jessica apa adanya, itu tidak seperti dia khawatir tentang biaya sekolahnya, keluarga itu sudah membayar untuknya, tapi bagi Jessica biaya sekolah adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dia bisa masuk Julliard dengan nilai uang ini.

Mrs. Ahn membelalakkan matanya, “Tidak sopan memotong gurumu, noona Jung. Kurasa kau harus mengambil tambahan kelas etika.” Dia menaikkan suaranya. “Ini adalah sekolah terkenal untuk keluarga chaebol, hampir dari semua orang kaya masuk sekolah ini dan kita menghasilkan siswa berpendidikan tinggi.”

“Lalu?” dia bahkan tidak tertarik dengan sekolah ini.

“Lalu? Wah, kami memiliki peraturan sekolah dan kamu sudah setidaknya melanggar satu peraturan.” Mrs. Ahn benar-benar ingin membanting tangannya ke meja. “Rambut pirang dilarang kecuali untuk siswa internasional, tapi kamu sepertinya orang Korea jadi tentunya kamu punya rambut hitam.”

“Anda mengatakan bahwa sekolah ini menghasilkan siswa berpendidikan tinggi, aku tidak berpikir warna rambut akan jadi masalah.” jawab Jessica santai. “Lagi pula aku dari London.” Baca lebih lanjut

Masterpiece

007124100_1425535729-jessica-jung-ysl-fusion-ink-foundation-commercial

Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur empuk yang selalu rapi saat aku kembali ke dorm. Dammit! hatiku mengumpat. Aku mengerang frustasi, memegangi kepalaku.

“Masterpiece” kata itu berkelit dalam pirikannku sejak tadi. Aku mengangkat tanganku seolah ingin menggapai langit-langit kamar.

“Oh … ini belum malam, bukan?” teman sekamarku baru saja pulang dari party dengan entah siapa. Aku tidak peduli.

“Kenapa kau masih terjaga?”

“Well, ada sesuatu yang harus aku kerjakan” aku melanjutkan draft design yang belum selesai.

“Apa?!” teriaknya dari ruang ganti.

“Tidak, bukan apa-apa”

“Hey … mau berbagi rahasia dengan teman sekamarmu?” tawarnya selesai berganti baju. Aku mendudukkan posisiku berhadapan dengannya.

“Come on, kau pikir kami tidak tahu kau diam-diam selalu bertemu laki-laki”

“Kau tahu?” Mataku membulat.

“Come-on Jung! Kita sudah tinggal bersama hampir 7 tahun. Kenapa kau tidak memberi tahu kami, atau setidaknya Taeyeon”

Aku menggeleng tidak jelas.

“Dia sedang banyak pikiran, aku tidak ingin menambah bebannya”

Sooyoung memincingkan matanya.

“Well, aku hanya tidak yakin akan sesuatu”

“Design-mu?”

“Aku pikir aku bisa membuat design yang lebih baik. Aku bisa melauchingkan brand-ku sendiri. Tapi nyatanya design yang ku hasilkan hanya kumpulan sampah. Aku tidak tahu. Aku frustasi.”

“Come-on Jung! Apa yang membuat Jessica yang biasanya percaya diri menjadi sekacau ini. Kau Jessica Jung. Kau yang paling berbakat di antara kami. Kau punya mata elang untuk melihat fashion yang baik. You are Almighty Jessica Jung. Yeah!!!!”

Aku bisa mencium bau alcohol keluar dari mulutnya saat berteriak. Dia mabuk. Tapi kalimatnya cukup memberiku sedikit semangat.

“Merasa lebih baik?”

Aku mengangguk kecil.

“Baiklah, ayo tidur. Kita ada latihan besok pagi.” Wanita itu menghambur ke arahku. Memelukku dan menciummiku.

“YAH!!!!! Get Away!!!!!”

.

Aku berlari ke lobby gedung agency dimana aku bekerja begitu keluar dari mobil. Seriously. I’m late. Aku menggerutu frustasi. Ini karena semalam lembur mengerjakan draft design yang hendak aku berikan pada tuan Investor.

“Tunggu!!!” teriakku saat melihat pintu lift yang hampir menutup. Aku menahan pintu lift dengan dokumen yang ada ditanganku.

“Phwhhh”

“Anyyeong sunbae!” sapa perempuan di dalam lift.

“Ne … anyyeong … emm …” aku mencoba mengingat siapa sosok yang ada dihadapanku saat ini. Salah seorang rookie di agency-ku.

“Wendy” katanya

“Ahh .. Toronto!” aku tertarik pada suaranya saat pertama mendengarnya. Aku hanya ingat daerah asalnya namun tidak cukup pintar untuk mengingat namanya.

TING!!!

Pintu lift terbuka.

“Bye Toronto!” lariku semakin cepat begitu keluar dari lift. Dammit. Aku akan kena marah lagi. Aku membuka pintu ruang latihan dengan suara berisik. My bad! Sekarang perhatian semua orang yang tadinya fokus latihan beralih pada ku.

Aku bisa merasakan tatapan tajam dari Kim Taeyeon. Ia berjalan mendekat, melipat tangan.

“Kau terlambat!” katanya dingin.

“Aku tahu .. aku min-“

“Kau tahu dan kau masih terlambat!”

“Pergi!” serunya

Aku terkejut dengan apa yang dikatakannya. Oke, aku salah, tapi tidak seharusnya dia mengusirku.

“Listen! Aku minta maaf Taeyeon, ada hal penting yang harus aku kerjakan”

“Apa yang lebih penting dari SNSD?! Hah! Kau pikir kami tidak tahu kau bertingkah aneh akhir-akhir ini” teriak Taeyeon

“Come-on Sica, katakan saja padanya sekarang!” kata Sooyoung.

“Apa? Kau merahasiakan sesuatu dari kita?”

“Hey! Listen up you guys! Aku tidak ingin kalian bertengkar. Kalian berdua paling tua dalam grup ini. Mari bicarakan ini baik-baik” Kata Stephanie menengahi.

“Okay. Akan aku katakan. Aku ingin membuat brand fashion-ku sendiri dan ada seorang investor dengan reputasi yang bagus berbaik hati ingin melihat desaign-ku. See, aku juga punya kehidupan yang lain.”

“Kenapa kau menyembunyikan dari kami”

“We are family unnie” maknae Joohyun ikut bersuara

“Karena kau terlalu sibuk memikirkan scandalmu dengan Baekhyun. Kalian semua sibuk memikirkan urusan kalian. Aku satu-satunya orang yang memikirkan hidupku setelah pensiun dari SNSD”

“Apa yang salah menjadi SNSD selamanya? Kita telah bersama selama 7 tahun.”

“Ya, kita tidak mungkin menjadi SNSD selamanya Almighty Leader Kim Taeyeon. Orang-orang tidak ingin melihat wanita tua menari dan menggunakan pakaian seksi. Agency akan mengganti kita dengan kelompok yang lebih muda dan menyegarkan. Kita harus memikirkan hidup setelahnya sebelum kita di tendang!”

“Oke. Kau menyembunyikan rencanamu dari kita selama hampir satu tahun. Dan sekarang saat rencanamu sempurna kau mau berhenti, sementara kita akan comeback dalam waktu dekat”

“Persetan dengan comeback! Aku pergi!”

“Kau pergi?!”

“Yeah, kau mengusirku, bukan?!”

“Jessica, Watch Out!!” Stephanie memperingatkan, namun terlambat. Aku terburu menabrak pintu yang tiba-tiba terbuka. Terpeleset dan jatuh tersungkur dengan punggung menghantam keras ke lantai.

“Ough!!” aku mendesah. Aku mencoba berdiri. Namun sepertinya ada yang tidak beres dengan tulang belakangku.

“Itu yang di sebut karma” kata Taeyeon

“Itu yang kau katakan saat temanmu terkena musibah?!”

“Friend? Setelah kau puas mengataiku sekarang kau berharap kita masih berteman?”

“Okay, aku minta maaf untuk tadi. Aku rasanya ingin mati. Sekarang bisa tolong bantu aku?!”

“Please?!” aku mengulurkan tangan. Taeyeon terpaksa menyambut tanganku, membantuku berdiri

“Pelan-pelan” ucapku. Taeyeon dan yang lainnya memapahku menuju sofa di ruang lain.

“Well, aku tahu kita tidak akan menjadi idol selamanya. Jadi aku mulai memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah pensiun. Aku mulai mencari passion-ku. Fashion. Tapi nyatanya itu tidak berjalan lancar. Aku pikir aku bisa melakukannya. Aku tidak ingin gagal. Aku harap aku bisa seperti kalian, melakukan semuanya dengan terkendali.”

“Ayolah unnie, kita semua pernah mengalami masa yang sama”

“Yeah, kau meletakkan banyak tekanan pada dirimu Jung”

“Kau lupa, kita selalu ada di sampingmu”

“SNSD, Forever!!” Taeyeon meletakkan tangannya di tengah, kami semua mengikuti.

“Forever!” teriak kami kemudian tertawa.

.

Aku menunggu dengan sabar kalimat yang akan terucap dari pria 30-an yang sedang melihat hasil design-ku. Calon investorku.

“Well,” ia melepas kacamatanya. Meletakkan draft ku di atas meja. Pandangannya serius menatap ke araku. Jantungku berdetak tidak karuan.

“Jadi kau ingin membuat brand fashion dengan ini?”

“Ya, aku membuatnya sendiri”

“Aku punya saran, sebaiknya kau belajar design dari awal. Sekolah di New York, mungkin. Ini draft yang cukup bagus, kau punya mata yang bagus, Jessica.”

“Well, aku harap kita bisa bekerja sama. Akan aku hubungi kau nanti!” katanya menjabat tanganku

“Good job Jung” serunya kemudian pergi.

Aku tidak bisa menyembunyikan senyum lebarku. Dammit! Pria itu akan menjadi investor-ku. Aku bersorak dalam hati. Thank God! I make it. Sebuah awal untuk masterpiece.

 


Hallo :p

Entah ini cerita macam apa. saya stress, jadi saya menuangkan luapan pikiran saya dalam bentuk tulisan, dan jadilah .. “Masterpiece” Haha.

Cerita ini terinspirasi dari salah satu scene dalam film Picth Perfect 2. Yeah!!! Film yang bagus. Bagi yang belum menonton film tersebut, silahkan kalo ada waktu luang dan kouta lebih download film tersebut ya .. sebelum situs film bajakannya di blokir. See ya ..

Salam,

Audrey, S

Stop All the Pretend Things – Chapter 5

Chapter 5

Secret That Should Never Tell

Bs2ql3nCQAATAzo.jpg-large

“Terkadang aku terbangun dan merasa sangat hampa. Kemudian aku tersadar, kenapa tidak ada orang lain, selain diriku sendiri”

-Kris-

Luhan mempercepat langkahnya ketika melihat sosok familiar yang berdiri dekat jendela besar, mengobrol dengan Sehun, tunangan Yoona. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat hanya dengan melihatnya, dia sangat cantik. Seperti malaikat yang memilih berbicara dengan manusia biasa, dalam hal ini Oh Sehun.

Luhan mengerutkan kening. Kenapa Sehun berbicara dengan Seohyun? Oh ya. Mereka punya aktivitas extra yang sama, klub drama. Dia berjalan sedikit lebih cepat sebelum memanggil tunangannya, “Joohyun-ahh”

Seohyun berhenti berbicara dengan Sehun lantas melihat ke arah Luhan, dan tersenyum, “Luhan oppa!” dia melambaikan tangannya penuh semangat. Oh, dia sangat cantik, kulit putihnya bersinar, berpadu dengan rambut hitam dan bibir kecil kemerahan.

“Luhan!” Sehun samar-samar tersenyum padanya.

Seperti biasa, Luhan selalu berdiri di samping Seohyun, dan tersenyum penuh kasih sayang. “Sehun! Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanyanya setelah menyapa Sehun secara formal, sebenarnya Luhan dan Sehun tidak benar-benar dekat, mereka hanya berbicara satu sama lain karena Sehun tunangan Yoona.

“Sehun oppa menjelaskan tentang Shakespeare. Sehun oppa benar-benar tahu banyak tentang itu oppa, dia punya Hamlet, versi bahasa Inggris. Aku sangat ingin membacanya, tapi aku tidak mengerti bahasa Inggris dengan baik jadi Sehun oppa membantuku memahaminya dan kita mendiskusikan tentang literature.” Seohyun menjelaskannya secara detail.

Shakespeare? Luhan mengenalnya, tapi dia tidak pernah tertarik dengan ceritanya selain Romeo dan Juliet, yang paling terkenal. “Oh?”

“Ah…” Seohyun seakan teringat sesuatu. “Mianhae, oppa kau pasti bosan jika aku membicarakan hal itu.” kata Seohyun, dia sedikit merasa bersalah karena terlalu bersemangat.

“Tidak!” elak Luhan cepat. “Tidak masalah mengingat Sehun tahu banyak. Mungkin aku harus membaca Shakepeare lain kali” ujarnya pada Seohyun dan mengetuk kepalanya dengan lembut.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu oppa.” kata Seohyun, “Jika kau tidak suka, kau akan menemukan itu sangat membosankan.” jujur Seohyun. Sehun terkekeh. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 4

Chapter 4

Who is That Girl

17884_434716443290047_1561434984_n

“Suatu hari saat kau terbangun di pagi hari,  berpikir semuanya sangat sempurna, namun jauh yang terdalam kau tahu kau tidak bisa menyangkalnya lagi, perasaan yang coba kau abaikan untuk waktu yang lama”

– Oh Sehun –

“Yah! Gadis itu benar-benar keren!” kata Chanyeol pada Baekhyun setelah mereka melihat apa yang terjadi di koridor.

Baekhyun mengangguk setuju, “Gadis itu! Wow, dia membuat Kris speechless.” Baekhyun bersandar pada dinding, sembari melihat Minseok melepas cengkramannya dari tangan Kris. Kris berjalan menjauh berlawan arah dari gadis itu. “Tidak ada yang bisa berbicara seperti itu pada Kris. Tidak ada!”

“Kau benar!” Chanyeol  menyentuh dadanya dengan expressi dramatis, “Baekhyun-ah …” dia memanggil nama sahabatnya.

“Mwo ya?” Baekhyun heran melihat ekspressi Chanyeol. “Kau? Kau berpikir ada sesuatu yang aneh, bukan?” tanyanya penasaran.

“Aku pikir aku sedang jatuh cinta! Sangat dalam.”

“Jatuh cinta?” Baekhyun mengetuk kepala Chanyeol, “Apa kau gila? Jatuh cinta setiap dua minggu dengan gadis yang berbeda!”

Changyeol balas mengetuk kepala Baekhyun, “Yah! Kali ini serius, apa kau pernah merasakan hatimu diam-diam dicuri di depan matamu …” Chanyeol mengulurkan tangannya ke arah Jessica yang bahkan tidak terlihat dihadapan mereka, “Dan kau rela memberikannya?”

“Eeuuk.” Baekhyun ingin muntah saat itu juga, “Yah! Itu sangat payah! Menjijikkan mendengar itu dari laki-laki ke laki-laki.”

Baekhyun gemeletak dan mengusap lengannya.

Chanyeol dan dia telah bersahabat sejak sekolah dasar, namun itu agak menjijikkan ketika sahabatmu mendiskripsikan sesuatu yang dramatis akan cinta barunya, bagaimanapun Chanyeol benar-benar mudah jatuh cinta, selama itu gadis dan cantik.

“Wae? Ini kenyataan!”

“Kurasa kau gila! Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada seorang gadis yang kau bahkan tidak tahu namanya?” tanya Baekhyun, menggeleng kepalanya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 3

Chapter 3

Unknow Question

seohyun snsd the best album (3)

“Hidupmu terlalu singkat jika hanya kau habiskan dengan air mata, dengan penyesalan, dan suara tangisan. Kau membuat kesalahan, kau terpuruk namun kau harus bangkit dan terus bergerak.”

-Seo Joohyun-

Jessica menghabiskan satu minggu dalam hidupnya dengan mengutuk, menjerit dan meneriaki hidup sialnya. Minggu yang lain untuk membujuk neneknya (meskipun lebih seperti pertengkaran seekor kucing dari pada argumentasi logis), tiga hari untuk mencoba mendapatkan tiket kembali ke London, dua hari untuk bertengkar dengan ayahnya, sehari untuk bersembunyi dari ibu tirinya. Dan sekarang dia akhirnya mengalah dan terpaksa tinggal di Korea dan mendaftar di sekolah barunya.

Dibutuhkan hampir dua minggu baginya untuk menyadari sesuatu yang lebih penting. Mengapa neneknya bersikeras dia harus tinggal di Korea sampai lulus? Itu sangat aneh bahkan bagi dirinya. Mereka membencinya, mengapa mereka tidak bertingkah seperti yang mereka lakukan sebelumnya? Mengapa mereka secara tiba-tiba inginkan dia untuk tinggal? Pasti ada suatu alasan.

Mereka tidak merasa menyesal, bukan? Karena  mengasingkan Jessica ketika dia masih bayi. Apa mereka mulai membina kasih sayang terhadapnya? Apa mereka kasihan karena kematian ibunya? Ooh. Itu tidak mungkin, dia pasti sudah gila jika benar-benar berpikir keluarganya menyesalinya? Dia harus bertemu psiater sesegera mungkin. Bahkan anak SD tahu keluarga Im tidak ingin melihat wajahnya lagi.

Pasti ada sesuatu, tapi Jessica tidak bisa memecahkannya. Aish, dia sudah tahu dari awal bahwa dia tidak benar-benar baik menganalisis sesuatu. Dia akan mengalami sakit kepala jika berpikir berlebihan, khususnya dengan masalah bodoh. Mengapa hidupnya tidak bisa simple? Mengapa selalu ada hal tak terduga?

Jessica menggerutu sembari mengenakan kaos kaki panjangnya. Mengapa dia tidak bisa hanya lulus dari sekolahnya di London kemudian segera masuk Julliard? Mengapa dia harus terjebak di tempat ini? Dia bahkan harus mendaftar di sekolah apalah namanya. Dia menyisir rambut pirangnya sebelum masuk mobil.

“Anda siap pergi ke sekolah, Noona?” supirnya bertanya dengan sopan.

“Jika aku bilang tidak, apa kau bisa melakukan sesuatu?” Jessica tidak berminat untuk basa-basi dengan orang asing. “Kau mungkin akan mengatakan pada wanita tua itu.”

“Ini kewajiban saya Noona Jessica untuk mengantar anda ke sekolah.”

Jessica memutar bola matanya, “Aku tidak ingat memintamu akan hal tersebut. Terserah!” Jessica mulai memainkan ponselnya, memasukkannya, dan mendengarkan musik favoritnya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 2

Chapter 2

Home bitter home, My house my hell

tumblr_m5nsl0uzXI1qitdj1o1_1280

“Menyayangi seseorang yang bahkan membenci keberadaanmu berarti kau cukup bodoh untuk terluka, cukup bodoh untuk menahan rasa sakit dan bahkan cukup bodoh untuk tidak menyayangi diri sendiri”

-Jessica Jung-

“Halmoni.” Im Luhan berteriak untuk pertama kalinya. Sejak gadis itu memasuki ruangan tersebut dia bahkan tidak mengatakan apapun tapi kali ini dia tidak akan tinggal diam. Dia membenci saudara tirinya setelah mendengar dari ayahnya. Dia tahu meskipun ayahnya bukan benar-benar suami yang baik tapi dia tidak menyangka mempunyai saudara tiri.

Gadis itu tidak punya tata karma, bermulut kotor, dan kasar. Dia tambah membencinya sekarang. Dia seperti tidak ada habisnya. Dia benar-benar membenci gadis itu. “Halmoni, anda tidak bisa meminta gadis kasar ini tinggal bersama kita.”

“Luhan benar! Halmoni, bisakah anda mempertimbangkan hal ini lagi?” saudaranya, Yoona mulai mengeluh di waktu yang sama.

Jessia juga terkejut, rahangnya menganga dan menatap kosong pada nenek Hanbok. Dia menggeleng kepalanya, “Oh, aku pikir mendapat serangan jantung. Cucu anda sangat benar. Aku pikir dia cukup pintar.”

Ha! Luhan setuju dengan gadis itu, sekali ini saja. Gadis ini masih punya otak di dalam kepala kecilnya. “Halmoni bisakah anda mempertimbangkan lagi?” pinta Luhan.

“Aku sudah mempertimbangkan itu ribuan kali, Luhan-ah.” Neneknya berdehem sebelum melanjutkan, “meskipun kita tidak bisa mengakui Sooyeon sebagai keluarga kita, kita tidak bisa karenanya. Dia harus menyelesaikan sekolahnya di sini, ibunya sudah meninggal dan dia masih di bawah umur.”

“Tapi Halmoni, anda tidak bisa membiarkan dia tinggal di rumah ini, bukan?” Luhan bertanya lagi, tidak yakin apakah dia bisa tetap tinggal di atap yang sama dengannya.

“Tunggu!” teriak Jessica. “Apa kau tidak tahu tindakanmu bisa menyebabkan kasus pembunuh?” Jessica melempar tangannya ke udara. “Jika kita tinggal di rumah yang sama tidak .. bahkan negara yang sama, hanya ada dua pilihan, apakah aku membunuh mereka atau ..” dia menunjuk Luhan dan Yoona, “Mereka membunuhku.”

Mata Luhan melebar bersamaan dengan ayah dan ibunya yang tersinggung dengan kata-kata Jessica. “Anakku tidak akan membunuhmu.” Kata ayahnya dengan nada tegas.

Jessica memutar matanya, “Ya aku bisa melihat betapa mereka menyayangiku.” katanya, sakartis. “Apa kalian tidak tahu langkah pertama membunuh seseorang adalah dengan membenci mereka??” Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 1

Chapter 1

Encounter with Jung Jessica

large

“Untuk beberapa alasan, orang mencoba menyenangkan satu sama lain, bahkan jika mereka tidak tahu bagaimana itu, bahkan jika itu berarti menyakiti diri mereka sendiri, bahkan jika itu adalah untuk mengorbankan kebahagiaan mereka sendiri”

Jessica Jung

Seorang gadis blonde berdiri di depan sebuah rumah besar juga mansion, dengan pandangan dingin memberi nilai. Delapan dari sepuluh, pikirnya. Dia melihat sekelilingnya. Beberapa orang lewat tampak sedang memperhatikannya. Orang-orang pasti berpikir mengapa ada gadis asing berdiri tanpa malu di depan rumah keluarga kaya. Apa yang mereka tidak tahu adalah ini bukan salahnya jika dia berdiri di sini. Dia telah diundang oleh seorang keluarga yang dia pikir tidak-pernah-ada, khususnya neneknya. Nenek yang tidak pernah ia temui seumur hidupnya. Nenek yang tidak pernah peduli dan bahkan mengganggunya sejak dia dilahirkan.

Well, dia tidak bisa menyalahkannya. Karena bahkan ayahnya sendiri melakukan hal sama. Yeah, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginanmu tapi setidaknya keluarganya masih peduli padanya, secara finansial.

Setelah beberapa saat berdiri di depan pintu gerbang besar, gadis blonde merapikan bajunya dan masuk ke dalam rumah. Pintunya sangat besar dengan design modern seperti kediamannya di London. Well, keluarga ini tampaknya memiliki banyak penghuni dari yang dia pikir, mereka bisa memberikan rumah besar pada anggota sah keluarga. Sangat lucu.

“Noona muda Jessica, silahkan ke arah sini” salah seorang pelayan berkata dan memandunya menuju ruangan paling besar, ruang keluarga, pikirnya. Dia melihat sekitar ruangan dan melihat ruang tersebut telah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak familiar baginya. Seorang wanita tua duduk di sofa paling besar sendirian, memakai pakaian Hanbok tradisional. Dia heran bahwa masih ada orang yang menggunakan pakaian tradisonal di negara ini.

Dia mungkin berdarah Korea penuh namun dia menghabiskan seluruh hidupnya di London. Dia bahkan mewarnai rambut coklatnya menjadi blonde agar nampak seperti orang asing dari pada orang Asia. “Nyonya, noona muda Jessica sudah tiba,” pelayan memberitahu dan kontras semua perhatian menuju ke arahnya. Ada sekitar enam orang dalam ruangan tersebut, dan kebanyakan dari mereka menatapnya dengan geram dan kemarahan memanaskan suasana di ruangan tersebut.

Gadis itu hanya mengangkat bahu dan berjalan anggun ke dalam ruangan. Dia melihat mereka satu persatu. Lelaki berumur yang duduk di dekat nenek Hanbok, tampak seperti ayahnya dan di sampingnya mungkin istrinya. Dan sisanya? Well, dia belum sempat mengamati mereka semua setelah mendengar sebuah suara memanggil namanya, “Sooyeon.” Baca lebih lanjut