MOLESKINE CHAPTER I – SUBWAY

gfriend-rough-7

Semua ini bermula tepatnya tiga tahun lalu –yeah, Taeyong bahkan tidak menyangka sudah menyimpannya begitu lama, ketika dia masih berada di dunia trainee. Dulu, sepulang sekolah Taeyong harus menghabiskan sisa hari di sebuah gedung tempat dia berlatih menari. Untuk sampai ke sana, Taeyong lebih senang menggunakan subway, yang tarifnya lebih murah dan aksesnya mudah dijangkau dari rumahnya.

Dalam satu perjalanan, Taeyong pernah satu gerbong dengan gadis itu, berdiri menghadap ke arahnya. Mungkin karena bosan dan kereta tidak begitu ramai, gadis itu mengeluarkan moleskine dan mulai menulis. Taeyong iseng membaca apa yang ditulisnya, naas, dia malah menulis dengan kanji. Taeyong beralih pada jendela dan melihat bayangannya sendiri di sana, berdiri bergelantungan, mengenakan hoodie dengan headset di kuping dan masker yang menutupi mulutnya. Dia tidak memikirkan apa-apa kecuali berharap kereta ini bisa melaju lebih cepat agar bisa sampai di rumah segera. Taeyong tidak sadar sudah menguap lebar dan matanya mengerjap cepat. Masih sekitar lima belas menit untuk sampai di stasiun yang dia tuju. Tetapi dia sudah sangat mengantuk. Ketika matanya sedang berjuang agar tetap terjaga sementara lengannya harus menahan berat tubuhnya, masinis kereta agaknya sedang ingin bercanda. Kereta direm mendadak, menyebabkan tubuh Taeyong yang nyaris tidak ada tenaga goyah dan hampir-hampir jatuh menindih si gadis jika tidak dengan reflek ditahan oleh tangan mungilnya. Taeyong bisa melihat mata gadis itu melebar terkejut, dadanya sedikit tegang akibat menahan nafas.Moleskine-nya jatuh dari pangkuan.

“Maaf,” ucap Taeyong, mengambil buku gadis itu dan mengembalikannya. Si gadis hanya mengangguk singkat lalu berdiri, bersiap keluar karena kereta sudah sampai stasiun.

Hari berikutnya Taeyong kembali satu gerbong dengan gadis itu. Kali ini Taeyong duduk berhadapan dengannya. Tentu saja gadis itu tidak menyadari Taeyong adalah lelaki yang hampir menindihnya kemarin malam karena dia mengenakan hoodie dan masker dan ada berapa penumpang yang bergaya seperti dia di gerbong kemarin?

Gadis itu masih sama. Mengeluarkan moleskine dan asyik di sana. Dia terlihat serius dan begitu konsentrasi. Keningnya bahkan ikut berkerut sementara jari tangannya mencorat-coret halaman kosong moleskine. Taeyong bahkan bisa mendengar goresan pensilnya beradu dengan kertas. Ketika sedang asyik memperhatikan pemandangan itu, objek yang diobservasi mendadak mendongak menatap ke depan, seakan tahu sedang diperhatikan. Taeyong hampir-hampir salah tingkah dan segera membuang muka, pura-pura bermain ponsel. Taeyong bisa merasakan gadis itu berdiri, sebagaimana hendak menghampirinya. Tetapi kaki jenjangnya melangkah ke arah lain, terburu-buru bersama serentetan rombongan menuju pintu keluar. Mata Taeyong membuntuti kemana gadis itu akan melangkah, tetapi gadis itu tidak pergi, dia masih berdiri di sana, melihat serius jendela di mana Taeyong duduk dibaliknya sampai kereta kembali melaju. Dia tahu? pikir Taeyong. Baca lebih lanjut

MOLESKINE

bb301acaa386670334fafc97e38a9142

Prolog

 

Lee Taeyong, tidak pernah menyangka bahwa yang dia rasakan terhadap gadis itu akan melebihi kekaguman. Lelaki itu jelas yakin bahwa sebelumnya tidak ada hasratapapun dalam perasaan tersebut.

Hampir setiap waktu luang yang dia punya adalah untuk menonton video terbaru dari gadis tersebut, terlepas apakah itu penampilan sederhana dalam sebuah event, variety show atau sekadar jokes di Youtube yang dibuat oleh fans-nya. Taeyong bahkan tergabung dalam fancafe resmi gadis itu di Daum demi mendapat update perihal tentangnya. Apapun. Tidak peduli jika itu sekadar Hi!

Akan tetapi Taeyong bukan lelaki yang akan menghampiri gadis tersebut saat itu juga, karena faktanya meskipun dipertemukan dalam event yang sama tidak hanya sekali dua, Taeyong tidak pernah menyapanya secara langsung, senyum pun tidak, mata beningnya belum berani untuk menatapnya. Kejantanannya menciut di sini. Sungguh payah dan memalukan. Taeyong hanya berani melihat dari jauh, seperti seorang pengangum rahasia dan jika boleh, Taeyong ingin menjadi The Dark Knight bagi gadis itu. Kesatria pelindung yang tidak diketahui identitasnya. Selalu bisa diandalkan saat gadisnya dalam keadaan terjepit. Taeyong terkikik sendiri membayangkan dirinya berubah konyol.

Taeyong-ssi, ada apa?” salah seorang senior memergokinya melamun dan tertawa seperti idiot di backstage sambil melipat tangan. Matanya memandangi serius pada panggung. Dua idol pengisi acara tahunan yang sama dengannya sedang berlatih untuk penampilan kolaborasi besok. Tentu saja salah satunya grup di mana gadis itu berada.

“Tidak ada,” Taeyong menyimpulkan, tersenyum jail kemudian pergi dari tempatnya berdiri meninggalkan seniornya yang kebingungan.

He’s stupid,” salah satu teman seniornya tadi berkomentar ketika Taeyong sudah agak jauh dari tempat mereka berdiri. Tetapi Taeyong masih bisa mendengarnya. Dia tidak marah atau menyimpan dendam untuk sebutan itu. Teman satu kamarnya, Doyoung bahkan menganggapnya sudah gila. Baca lebih lanjut

SLICE LIFE OF KIM SOJUNG

cyjfqdduuaevcykSebuah One-Shoot

Aku sudah berkecimpung di dunia ini cukup lama dan menghabiskan waktu dan tenaga yang tidak sedikit itu bukan untuk disebut tidak berguna, tidak ada skill bahkan jelek.

*

Kenapa orang begitu senang menggunjing masa lalu demi menemukan celah untuk dihujamkan kembali pada inti bumi?

Aku membuang tablet di atas kasur. Jika ada yang mengatakan membaca komentar buruk benar-benar merusak otak dan membikin cepat mati, maka aku setuju.

Apa mereka tidak ada kerjaan lain selain memberikan komentar buruk pada wajah kami ketimbang penampilan atau bahkan lagu kami.

Dasar sampah!

Aku beranjak ke dapur. Tidak ada orang di dorm. Sinb dan Yewon masih di sekolah. Yuna dan Eunha masih berlatih vokal untuk project baru kami dan Yerin ada jadwal sendiri. Aku baru saja pulang dari kelas akting, memakai bus untuk sampai ke dorm karena para manager terjadwal penuh menemani member dengan jadwal individu masing-masing.

“Tidak ada yang mengenaliku.” Aku bilang ketika mereka sedang mendiskusikan bagaimana aku sampai di tempat kursus.

“Kalaupun ada toh tidak akan terjadi kegemparan sebagaimana jika mereka bertemu Sinb atau Yuju.” Aku meyakinkan lagi. Mereka akhirnya setuju untuk membiarkanku pergi sendiri dengan public transportasi.

Sudah sangat lama aku tidak naik bus. Terakhir adalah ketika aku masih dalam trainee. Atmosfer bus yang membawaku kembali pada masa-masa sulit sebelum debut. Aku merindukannya. Melihat ke luar jendela. Melihat orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing dan yang paling aku kagumi, panorama temaram dari gedung-gedung bertingkat sepanjang perjalanan. Menyenangkan sekaligus melankolis.

“Permisi, boleh aku duduk di sini?” seorang perempuan yang ku kira masih SMA meminta ijin untuk duduk di sebelahku. Maksudku kenapa harus minta ijin pada fasilitas publik. Tetapi demi sopan santun, aku mengangguk, mempersilahkan. Dia tersenyum manis kemudian duduk dan bermain ponsel sementara aku lebih senang memandangi panorama di luar jendela.

Klik!

Aku mendengar suara jepretan kamera tepat di samping telingaku. Seketika aku memutar kepala dan mendapati gadis itu menatap layar kameranya puas dengan hasil jepretannya.

Apa dia barusan memotretku? Baca lebih lanjut

G-Friend Interview With Queen Magazine

Interview G-friend Untuk Queen Magazine

Oleh Acutus Sowon

GFRIEND-......

Grup fenomenal Korea Selatan G-Friend baru saja selesai melakukan pemotretan untuk Queen Magazine. Selama sesi pemotretan itu, salah satu reporter dari majalah tersebut berhasil melakukan wawancara dengan para member G-Friend. Seperti apa wawancaranya, mari kita simak.

Q : Banyak yang mengatakan kalian akan comeback musim panas ini, bagaimana perasaan kalian?

Sowon : Kami sangat senang dan antusias untuk menanti saat itu.

Yerin : Kami tidak bersabar bertemu dengan Buddy

Q : Itu nama fansclub kalian? Buddy?

Yuju : Buddy dalam bahasa Inggris artinya teman yang sangat dekat, sangat akrab dan tanpa rasa sungkan. Kami ingin mempunyai interaksi dengan fans kami seperti itu.

Q : Kalian bahkan sering mengupload video keseharian kalian di channel resmi

Sowon : Aahh .. YeoChin TV (tertawa)

Semua : Aaahh …

Umji : Sebenarnya YeoChin TV hanya beberapa dari cara kami untuk dekat dengan para fans. Berbagi kebersamaan. Kami berterima kasih kepada mereka, fans kami, buddy, karena dukungan dan kesetiaan mereka, kami bisa menjadi seperti ini. Baca lebih lanjut

GFriend’s Club (Behind The Show) #2

Game Pembunuhan

e5800cc3-0297-4c56-94c3-448da641608a_169

Kalian pernah dengar permainan ini? Dulu permainan ini begitu popular dimainkan nenek moyang kita. Nama permainan ini Game Pembunuh. Permainan ini hampir mirip dengan Game Perburuan. Dahulu kala di sebuah distrik yang sudah lebih dulu modern dari yang lain, pemimpin distrik itu membuat kebijakan demi distrik selalu aman dan damai dengan membuat hari penebusan.

Setiap satu hari dalam satu tahun ada hari khusus untuk menebus dosa-dosa para pelaku kriminal. Di hari khusus itu, di mana dilegalkan segala bentuk kekejaman, kekejian dan pembunuhan selama dua belas jam. Tidak ada polisi, tidak ada ambulan, tidak ada hukuman. Itu kenapa dinamakan hari penebusan.

Sebagai gantinya, setelah hari penebusan selesai, barangsiapa yang ketahuan melakukan tindak kriminal akan segera dihukum mati. Demikian cara pemimpin dalam distrik tersebut menciptakan kedamaian.

Baca lebih lanjut

GFriend’s Club (Behind The Show) #1

Sowon Genie

gfriend

Sinb masih tidak percaya dia mempunyai leader seaneh Sowon. Meski Sowon paling tua, namun bagi Sinb, Sowon tak lebih dewasa darinya. Maka ketika Sowon tiba-tiba keluar kamar menjelma genie -ada asap keluar dari bawah pintu kamarnya dan begitu pintu terbuka keluar sosok Sowon dengan tarian-tarian anehnya – tawa Sinb lepas begitu saja.

“Aku jin Sowon yang akan mengabulkan satu permintaan kalian.” Kata Sowon, kedua tangannya menari di udara, tampak wibawa.

“Jin Sowon?” ejek Sinb.

“Ne,” kata Sowon tegas, seolah mendalami perannya menjadi jin. Yerin dan Eunha terbahak di ruang tengah. Umji hanya melirik leadernya, lalu kembali membaca buku, Yuju sempat speechless dengan mulut menganga lebar. Apa Sowon-unnie sedang kambuh,  pikir Yuju.

“Adakah yang tuan putri inginkan?”

Maka demi menyeimbangi peran Sowon, Sinb ikut dalam permainnya.

“Aku,” Sinb mengacungkan jari.

“Aku ingin makan pizza.”

“Aku ingin kurus tanpa diet,” Yerin ikut menyuarakan keinginannya. Baca lebih lanjut