In Simple Terms

tumblr_nkwn4jrObg1t484jfo1_500

 

Jessica bersiap duduk tenang untuk waktu yang lama, santai sore membaca buku di sofa, mungkin diikuti dengan tidur satu atau dua jam, ketika bel pintu rumahnya berbunyi.

Dia berniat untuk mengabaikannya, tapi hanya ada segelintir orang yang sungguh menggunakan bel itu – Krystal mengeluh ketika itu tidak sepenuhnya berfungsi waktu itu jadi dia tidak mencobanya lagi, Tiffany mengetuk sangat keras Jessica merasa dia melakukan hal yang tepat terhadap bakatnya dan Sooyoung cukup berteriak – dan dia punya feeling dia tahu siapa orang ini.

Menghela napas berat, dia beranjak dari sofa, meletakkan novelnya di meja kopi dan menyeret kakinya menuju pintu dalam sandalnya, berjalan agak limpung karena dia memakainya terbalik tanpa sadar.

“Hi.” Tamunya tersenyum gugup ketika dia membuka pintu dengan ekspressi bagaimana-bisa-aku-tidak-tahan-menghadapimu.

“Sorry, apa aku mengganggumu?”

Jessica melempar tatapan rindu pada sofanya. “Tidak.”

“Kau yakin? Aku bisa kembali.” Taeyeon menggigit bibirnya dan menarik ujung lengannya, tampak seperti seorang anak yang dikirim ke tahanan.

Dan itu membuat Jessica melunak. “Tidak, kau sudah di sini, jadi kau mungkin akan menggangguku sepanjang hari.” Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 9

Chapter 9 : My Love My Girl My Sunshine

“Terkadang dia terlihat cantik. Namun lebih sering terlihat mengagumkan… Mempersona”

-Byun Baekhyun-

60892_554990794515689_1835820459_n

Baekhyun tengkurap dan menatap wallpaper ponselnya, kenapa dia sangat cantik? Dengan senyum itu yang membuat hatinya berdetak sepuluh kali lebih cepat, sampai dia takut dia akan segera mendapat serangan jantung. Ya, Chanyeol jatuh cinta setiap dua minggu tapi Baekhyun jatuh cinta pada gadis yang sama lagi, lagi dan lagi selama dua tahun.

Tapi dia terlalu jauh di jangkau. Baekhyun mendesah, kenapa dia harus saaaangat sempurna, dengan rambut hitam panjang terkulai di wajah cantiknya. Dia pintar dan baik hati. Baekhyun bertemu dengannya untuk pertama kali ketika dia melihat gadis itu membantu gadis lain yang terjatuh dan memberinya tisu. Dia terlihat sangat cantik dan mempesona, dia mengalami love-struck yang membuatnya sekarat dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Sejak saat itu, dia akan selalu melihat gadis itu dari kejauhan dan tersenyum kapanpun gadis itu senang. Dia selalu pergi ke toilet ketika kelas matematika, karena dia tahu gadis itu akan melewti koridor karena urusan osisnya. Dia mencoba menyapa tapi tidak pernah berhasil, gadis itu akan tersenyum padanya dan memanggil namanya dengan suara lembutnya.

“Katakan padanya, Pabo!” sebuah suara memasuki lamunannya.

Baekhyun mendengus, “Bagaimana bisa aku menyatakannya? Apa yang akan aku lakukan jika dia menolakku?” dia bertanya pada suara yang memasuki lamunannya, tapi masih menatap foto dalam layar ponselnya. Sebenarnya Baekhyun pikir itu hanya teman imajinasinya yang lain yang menjawabnya.

“Kau tidak akan pernah tahu sampai mencobanya, pabo! Kau seorang pengecut. Kau harus berjuang untuk seseorang yang kau cintai.” Suara berat penuh kekuatan dan nada dramatis.

“Cinta?”

“Mm! Itu namanya kau harus berjuang, kau akan bilang kau kalah dari si bakpao itu. Dia hanya seorang ketua Osis, dan kau murid terimut di sekolah, kau akan menang!” Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 8

The Girl who Never Back-off

“Aku tidak akan menyesali sesuatu. Meskipun jika aku sangat menyakiti Karena inilah hidupku”

-Jessica Jung-

tumblr_liv1r4vjIl1qcgyaa

Seohyun hendak melahap makanannya di kantin ketika seorang murid laki-laki mengatakan padanya bahwa kakaknya saat ini sedang membully seseorang, dia berhenti dan buru-buru melangkah menuju atap. Oh, tidak. Kakaknya tidak dalam mood yang baik, lupakan! Kris masih marah pagi ini, dia akan melakukan sesuatu yang mungkin akan dia sesali di masa depan, dan murid itu akan dipukulinya.

Seohyun melewati beberapa murid dengan cepat, ketika sebuah tangan menangkap sikunya. “Seohyun-ah…” dia menengadah dan melihat Luhan mengerutkan kening karena dia terlihat sangat terburu-buru. “Ada apa?”

“Oppa kita harus segera ke atap.” Seohyun mendesaknya, “Kris oppa…” tanpa penjelasan lebih Luhan mengangguk dan memegang tangan Seohyun dan berjalan cepat menuju atap. Seohyun merasa sangat lega mengetahui Luhan tidak meminta penjelasan lebih padanya. Prioritas utama mereka menyelamatkan lelaki itu dari amukan Kris.

Luhan menyamakan langkahnya dengan Seohyun terlebih dulu, ya, meskipun mereka harus segera sampai ke atap, dia lebih peduli pada Seohyun dari pada lelaki itu. Dan juga, dia jarang memegang tangan Seohyun seerat ini, biasanya Seohyun enggan dengan kontak fisik. Oke, sebut dia brengsek atau egois apapun itu, tapi Luhan suka memegang tangan Seohyun meskipun mereka dalam keramaian.

Semua gadis sepanjang koridor melihat mereka dengan cemburu di mata mereka, pasangan paling serasi di sekolah berjalan bergandengan tangan erat, dan hampir berlari di koridor. Mereka tidak tahu alasan sebenarnya mereka terburu-buru, mereka hanya peduli dengan atmosfer yang saaaaangat pink mengitari pasangan itu. Setidaknya dari Luhan.

Mereka sampai di atas atap dan melihat pintu terbuka lebar dengan Minseok di depan mereka sementara dari sisi yang lain Taeyeon dan Yuri dating terburu-buru. “Minseok-oppa.” Seohyun meneriakkan nama Minseok, tapi Minseok hanya melirik sekilas dan masuk ke atap.

Mata mereka dengan cepat mencari sosok Kris. Mereka menemukan lelaki yang dihajar terbaring di lantai, mengkerut dan merintih kesakitan. Sementara Kris sekarang mencengkeram erat si blonde dan kemarahannya tampak jelas di wajah tampannya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 7

Chapter 7

Brave or reckless

“Kadang melihatnya tersenyum sudah cukup bagiku. Tawanya bagian dari kebahagianku. Tapi aku tidak bisa menerimanya jika dia tersenyum untuk orang lain. Kebahagiannya adalah segala sesuatu yang berhubungan denganku”
-Im Luhan

EXO-M-image-exo-m-36304307-1000-1500

Kelas matematika membunuh semua orang. Itu adalah yang terakhir Jessica pikirkan saat dia menuju ke atap dan memutuskan untuk tidur di sana. Dia kehilangan nafsu makan siangnya setelah menerima detensi. Hebat. Baru hari pertama sekolah dan dia mendapat detensi hanya karena dia tidur di kelas matematika.

Lagi pula siapa yang butuh matematika? Matematika tidak ada hubungannya dengan hidupnya selama dia bisa menghitung uang yang di akun bank-nya lebih dari cukup. Terlebih siapa yang butuh kelas etika? Menuang teh? Kau tidak butuh kemampuan itu untuk bermain violin. Semuanya tidak berguna.

Jessica mengabaikan teriakan lelaki itu ketika lelaki yang lain membullinya, yeah, dimanapun bullying masalah utama di sekolah. Tapi bukan urusannya. Dia tidak peduli sama sekali. Jessica mengeluarkan mp3-nya dan memasang headphone bersiap menuju alam mimpi. Dia meletakkan tangannya untuk menutupi sinar matahari dari matanya.

Dia merasakan sesuatu di depannya, menghalanginya dari sinar matahari, bayangan menjadi lebih gelap. Sayangnya Jessica terlalu malas membuka matanya untuk mencari tahu siapa orang baik yang membantunya. Dia hanya berpikir dia beruntung sinar matahari tidak terlalu terang yang bisa merusak matanya.

Tiba-tiba, headphone-nya ditarik kasar, membuat Jessica membuka matanya, “Yah! Kau ingin mati?” dia berteriak pada orang menyebalkan itu. Menatap tajam pada lelaki sangaaat tinggi yang berdiri di hadapannya, bermain dengan headphone-nya di salah satu tangannya. Jessica tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi siapapun itu, dia memilih untuk mati. Bagaimana bisa dia mengganggu tidur orang? “Apa kau sudah bosan dengan hidupmu?” Jessica tiba-tiba berdiri. Lelaki itu dengan santai melangkah mundur. Lelaki jangkung itu hanya menaikkan salah satu alisnya dan menatap tajam dengan mata dinginnya, “Kau satu-satu orang yang ingin mati.” kata lelaki itu dingin dan datar. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 6

Chapter 6

The Rooftop Bully

snsd-yoona-innisfree-2015

“Kita tidak bisa memaksa seseorang memiliki perasaan yang sama, juga kita bisa bahagia dengan pura-pura mereka memiliki perasaan yang sama seperti kita”

-Im Yoona-

“Jadi murid Jung, ada beberapa hal yang harus kamu ingat sebagai murid baru di sekolah ini.” Jessica melihat folder yang diberikan guru itu padanya. “Namamu Jung Sooyeon atau Jessica Jung, yang mana nama aslimu?”

“Keduanya.” kata Jessica, dan dia tidak ingin menjelaskan lebih atau akan jadi masalah besar.

“Oke Jessica, aku akan mengatakan padamu sesuatu yang sangat penting tentang sekolah ini!” Mrs. Ahn mengambil satu kertas dari folder Jessica yang tertulis dengan bahasa Korea dan satu lagi dengan bahasa Inggris. “Peraturan” Jessica mengintip kertas tersebut, sialnya dia benci peraturan. “SMA SM bukan hanya sekolah biasa di Korea.”

“Ya, aku tahu. Dengan biaya sekolah yang sangat mahal, sangat tidak mungkin hanya menjadi sekolah normal.” terang Jessica apa adanya, itu tidak seperti dia khawatir tentang biaya sekolahnya, keluarga itu sudah membayar untuknya, tapi bagi Jessica biaya sekolah adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dia bisa masuk Julliard dengan nilai uang ini.

Mrs. Ahn membelalakkan matanya, “Tidak sopan memotong gurumu, noona Jung. Kurasa kau harus mengambil tambahan kelas etika.” Dia menaikkan suaranya. “Ini adalah sekolah terkenal untuk keluarga chaebol, hampir dari semua orang kaya masuk sekolah ini dan kita menghasilkan siswa berpendidikan tinggi.”

“Lalu?” dia bahkan tidak tertarik dengan sekolah ini.

“Lalu? Wah, kami memiliki peraturan sekolah dan kamu sudah setidaknya melanggar satu peraturan.” Mrs. Ahn benar-benar ingin membanting tangannya ke meja. “Rambut pirang dilarang kecuali untuk siswa internasional, tapi kamu sepertinya orang Korea jadi tentunya kamu punya rambut hitam.”

“Anda mengatakan bahwa sekolah ini menghasilkan siswa berpendidikan tinggi, aku tidak berpikir warna rambut akan jadi masalah.” jawab Jessica santai. “Lagi pula aku dari London.” Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 5

Chapter 5

Secret That Should Never Tell

Bs2ql3nCQAATAzo.jpg-large

“Terkadang aku terbangun dan merasa sangat hampa. Kemudian aku tersadar, kenapa tidak ada orang lain, selain diriku sendiri”

-Kris-

Luhan mempercepat langkahnya ketika melihat sosok familiar yang berdiri dekat jendela besar, mengobrol dengan Sehun, tunangan Yoona. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat hanya dengan melihatnya, dia sangat cantik. Seperti malaikat yang memilih berbicara dengan manusia biasa, dalam hal ini Oh Sehun.

Luhan mengerutkan kening. Kenapa Sehun berbicara dengan Seohyun? Oh ya. Mereka punya aktivitas extra yang sama, klub drama. Dia berjalan sedikit lebih cepat sebelum memanggil tunangannya, “Joohyun-ahh”

Seohyun berhenti berbicara dengan Sehun lantas melihat ke arah Luhan, dan tersenyum, “Luhan oppa!” dia melambaikan tangannya penuh semangat. Oh, dia sangat cantik, kulit putihnya bersinar, berpadu dengan rambut hitam dan bibir kecil kemerahan.

“Luhan!” Sehun samar-samar tersenyum padanya.

Seperti biasa, Luhan selalu berdiri di samping Seohyun, dan tersenyum penuh kasih sayang. “Sehun! Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanyanya setelah menyapa Sehun secara formal, sebenarnya Luhan dan Sehun tidak benar-benar dekat, mereka hanya berbicara satu sama lain karena Sehun tunangan Yoona.

“Sehun oppa menjelaskan tentang Shakespeare. Sehun oppa benar-benar tahu banyak tentang itu oppa, dia punya Hamlet, versi bahasa Inggris. Aku sangat ingin membacanya, tapi aku tidak mengerti bahasa Inggris dengan baik jadi Sehun oppa membantuku memahaminya dan kita mendiskusikan tentang literature.” Seohyun menjelaskannya secara detail.

Shakespeare? Luhan mengenalnya, tapi dia tidak pernah tertarik dengan ceritanya selain Romeo dan Juliet, yang paling terkenal. “Oh?”

“Ah…” Seohyun seakan teringat sesuatu. “Mianhae, oppa kau pasti bosan jika aku membicarakan hal itu.” kata Seohyun, dia sedikit merasa bersalah karena terlalu bersemangat.

“Tidak!” elak Luhan cepat. “Tidak masalah mengingat Sehun tahu banyak. Mungkin aku harus membaca Shakepeare lain kali” ujarnya pada Seohyun dan mengetuk kepalanya dengan lembut.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu oppa.” kata Seohyun, “Jika kau tidak suka, kau akan menemukan itu sangat membosankan.” jujur Seohyun. Sehun terkekeh. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 4

Chapter 4

Who is That Girl

17884_434716443290047_1561434984_n

“Suatu hari saat kau terbangun di pagi hari,  berpikir semuanya sangat sempurna, namun jauh yang terdalam kau tahu kau tidak bisa menyangkalnya lagi, perasaan yang coba kau abaikan untuk waktu yang lama”

– Oh Sehun –

“Yah! Gadis itu benar-benar keren!” kata Chanyeol pada Baekhyun setelah mereka melihat apa yang terjadi di koridor.

Baekhyun mengangguk setuju, “Gadis itu! Wow, dia membuat Kris speechless.” Baekhyun bersandar pada dinding, sembari melihat Minseok melepas cengkramannya dari tangan Kris. Kris berjalan menjauh berlawan arah dari gadis itu. “Tidak ada yang bisa berbicara seperti itu pada Kris. Tidak ada!”

“Kau benar!” Chanyeol  menyentuh dadanya dengan expressi dramatis, “Baekhyun-ah …” dia memanggil nama sahabatnya.

“Mwo ya?” Baekhyun heran melihat ekspressi Chanyeol. “Kau? Kau berpikir ada sesuatu yang aneh, bukan?” tanyanya penasaran.

“Aku pikir aku sedang jatuh cinta! Sangat dalam.”

“Jatuh cinta?” Baekhyun mengetuk kepala Chanyeol, “Apa kau gila? Jatuh cinta setiap dua minggu dengan gadis yang berbeda!”

Changyeol balas mengetuk kepala Baekhyun, “Yah! Kali ini serius, apa kau pernah merasakan hatimu diam-diam dicuri di depan matamu …” Chanyeol mengulurkan tangannya ke arah Jessica yang bahkan tidak terlihat dihadapan mereka, “Dan kau rela memberikannya?”

“Eeuuk.” Baekhyun ingin muntah saat itu juga, “Yah! Itu sangat payah! Menjijikkan mendengar itu dari laki-laki ke laki-laki.”

Baekhyun gemeletak dan mengusap lengannya.

Chanyeol dan dia telah bersahabat sejak sekolah dasar, namun itu agak menjijikkan ketika sahabatmu mendiskripsikan sesuatu yang dramatis akan cinta barunya, bagaimanapun Chanyeol benar-benar mudah jatuh cinta, selama itu gadis dan cantik.

“Wae? Ini kenyataan!”

“Kurasa kau gila! Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada seorang gadis yang kau bahkan tidak tahu namanya?” tanya Baekhyun, menggeleng kepalanya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 3

Chapter 3

Unknow Question

seohyun snsd the best album (3)

“Hidupmu terlalu singkat jika hanya kau habiskan dengan air mata, dengan penyesalan, dan suara tangisan. Kau membuat kesalahan, kau terpuruk namun kau harus bangkit dan terus bergerak.”

-Seo Joohyun-

Jessica menghabiskan satu minggu dalam hidupnya dengan mengutuk, menjerit dan meneriaki hidup sialnya. Minggu yang lain untuk membujuk neneknya (meskipun lebih seperti pertengkaran seekor kucing dari pada argumentasi logis), tiga hari untuk mencoba mendapatkan tiket kembali ke London, dua hari untuk bertengkar dengan ayahnya, sehari untuk bersembunyi dari ibu tirinya. Dan sekarang dia akhirnya mengalah dan terpaksa tinggal di Korea dan mendaftar di sekolah barunya.

Dibutuhkan hampir dua minggu baginya untuk menyadari sesuatu yang lebih penting. Mengapa neneknya bersikeras dia harus tinggal di Korea sampai lulus? Itu sangat aneh bahkan bagi dirinya. Mereka membencinya, mengapa mereka tidak bertingkah seperti yang mereka lakukan sebelumnya? Mengapa mereka secara tiba-tiba inginkan dia untuk tinggal? Pasti ada suatu alasan.

Mereka tidak merasa menyesal, bukan? Karena  mengasingkan Jessica ketika dia masih bayi. Apa mereka mulai membina kasih sayang terhadapnya? Apa mereka kasihan karena kematian ibunya? Ooh. Itu tidak mungkin, dia pasti sudah gila jika benar-benar berpikir keluarganya menyesalinya? Dia harus bertemu psiater sesegera mungkin. Bahkan anak SD tahu keluarga Im tidak ingin melihat wajahnya lagi.

Pasti ada sesuatu, tapi Jessica tidak bisa memecahkannya. Aish, dia sudah tahu dari awal bahwa dia tidak benar-benar baik menganalisis sesuatu. Dia akan mengalami sakit kepala jika berpikir berlebihan, khususnya dengan masalah bodoh. Mengapa hidupnya tidak bisa simple? Mengapa selalu ada hal tak terduga?

Jessica menggerutu sembari mengenakan kaos kaki panjangnya. Mengapa dia tidak bisa hanya lulus dari sekolahnya di London kemudian segera masuk Julliard? Mengapa dia harus terjebak di tempat ini? Dia bahkan harus mendaftar di sekolah apalah namanya. Dia menyisir rambut pirangnya sebelum masuk mobil.

“Anda siap pergi ke sekolah, Noona?” supirnya bertanya dengan sopan.

“Jika aku bilang tidak, apa kau bisa melakukan sesuatu?” Jessica tidak berminat untuk basa-basi dengan orang asing. “Kau mungkin akan mengatakan pada wanita tua itu.”

“Ini kewajiban saya Noona Jessica untuk mengantar anda ke sekolah.”

Jessica memutar bola matanya, “Aku tidak ingat memintamu akan hal tersebut. Terserah!” Jessica mulai memainkan ponselnya, memasukkannya, dan mendengarkan musik favoritnya. Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 2

Chapter 2

Home bitter home, My house my hell

tumblr_m5nsl0uzXI1qitdj1o1_1280

“Menyayangi seseorang yang bahkan membenci keberadaanmu berarti kau cukup bodoh untuk terluka, cukup bodoh untuk menahan rasa sakit dan bahkan cukup bodoh untuk tidak menyayangi diri sendiri”

-Jessica Jung-

“Halmoni.” Im Luhan berteriak untuk pertama kalinya. Sejak gadis itu memasuki ruangan tersebut dia bahkan tidak mengatakan apapun tapi kali ini dia tidak akan tinggal diam. Dia membenci saudara tirinya setelah mendengar dari ayahnya. Dia tahu meskipun ayahnya bukan benar-benar suami yang baik tapi dia tidak menyangka mempunyai saudara tiri.

Gadis itu tidak punya tata karma, bermulut kotor, dan kasar. Dia tambah membencinya sekarang. Dia seperti tidak ada habisnya. Dia benar-benar membenci gadis itu. “Halmoni, anda tidak bisa meminta gadis kasar ini tinggal bersama kita.”

“Luhan benar! Halmoni, bisakah anda mempertimbangkan hal ini lagi?” saudaranya, Yoona mulai mengeluh di waktu yang sama.

Jessia juga terkejut, rahangnya menganga dan menatap kosong pada nenek Hanbok. Dia menggeleng kepalanya, “Oh, aku pikir mendapat serangan jantung. Cucu anda sangat benar. Aku pikir dia cukup pintar.”

Ha! Luhan setuju dengan gadis itu, sekali ini saja. Gadis ini masih punya otak di dalam kepala kecilnya. “Halmoni bisakah anda mempertimbangkan lagi?” pinta Luhan.

“Aku sudah mempertimbangkan itu ribuan kali, Luhan-ah.” Neneknya berdehem sebelum melanjutkan, “meskipun kita tidak bisa mengakui Sooyeon sebagai keluarga kita, kita tidak bisa karenanya. Dia harus menyelesaikan sekolahnya di sini, ibunya sudah meninggal dan dia masih di bawah umur.”

“Tapi Halmoni, anda tidak bisa membiarkan dia tinggal di rumah ini, bukan?” Luhan bertanya lagi, tidak yakin apakah dia bisa tetap tinggal di atap yang sama dengannya.

“Tunggu!” teriak Jessica. “Apa kau tidak tahu tindakanmu bisa menyebabkan kasus pembunuh?” Jessica melempar tangannya ke udara. “Jika kita tinggal di rumah yang sama tidak .. bahkan negara yang sama, hanya ada dua pilihan, apakah aku membunuh mereka atau ..” dia menunjuk Luhan dan Yoona, “Mereka membunuhku.”

Mata Luhan melebar bersamaan dengan ayah dan ibunya yang tersinggung dengan kata-kata Jessica. “Anakku tidak akan membunuhmu.” Kata ayahnya dengan nada tegas.

Jessica memutar matanya, “Ya aku bisa melihat betapa mereka menyayangiku.” katanya, sakartis. “Apa kalian tidak tahu langkah pertama membunuh seseorang adalah dengan membenci mereka??” Baca lebih lanjut

Stop All the Pretend Things – Chapter 1

Chapter 1

Encounter with Jung Jessica

large

“Untuk beberapa alasan, orang mencoba menyenangkan satu sama lain, bahkan jika mereka tidak tahu bagaimana itu, bahkan jika itu berarti menyakiti diri mereka sendiri, bahkan jika itu adalah untuk mengorbankan kebahagiaan mereka sendiri”

Jessica Jung

Seorang gadis blonde berdiri di depan sebuah rumah besar juga mansion, dengan pandangan dingin memberi nilai. Delapan dari sepuluh, pikirnya. Dia melihat sekelilingnya. Beberapa orang lewat tampak sedang memperhatikannya. Orang-orang pasti berpikir mengapa ada gadis asing berdiri tanpa malu di depan rumah keluarga kaya. Apa yang mereka tidak tahu adalah ini bukan salahnya jika dia berdiri di sini. Dia telah diundang oleh seorang keluarga yang dia pikir tidak-pernah-ada, khususnya neneknya. Nenek yang tidak pernah ia temui seumur hidupnya. Nenek yang tidak pernah peduli dan bahkan mengganggunya sejak dia dilahirkan.

Well, dia tidak bisa menyalahkannya. Karena bahkan ayahnya sendiri melakukan hal sama. Yeah, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginanmu tapi setidaknya keluarganya masih peduli padanya, secara finansial.

Setelah beberapa saat berdiri di depan pintu gerbang besar, gadis blonde merapikan bajunya dan masuk ke dalam rumah. Pintunya sangat besar dengan design modern seperti kediamannya di London. Well, keluarga ini tampaknya memiliki banyak penghuni dari yang dia pikir, mereka bisa memberikan rumah besar pada anggota sah keluarga. Sangat lucu.

“Noona muda Jessica, silahkan ke arah sini” salah seorang pelayan berkata dan memandunya menuju ruangan paling besar, ruang keluarga, pikirnya. Dia melihat sekitar ruangan dan melihat ruang tersebut telah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak familiar baginya. Seorang wanita tua duduk di sofa paling besar sendirian, memakai pakaian Hanbok tradisional. Dia heran bahwa masih ada orang yang menggunakan pakaian tradisonal di negara ini.

Dia mungkin berdarah Korea penuh namun dia menghabiskan seluruh hidupnya di London. Dia bahkan mewarnai rambut coklatnya menjadi blonde agar nampak seperti orang asing dari pada orang Asia. “Nyonya, noona muda Jessica sudah tiba,” pelayan memberitahu dan kontras semua perhatian menuju ke arahnya. Ada sekitar enam orang dalam ruangan tersebut, dan kebanyakan dari mereka menatapnya dengan geram dan kemarahan memanaskan suasana di ruangan tersebut.

Gadis itu hanya mengangkat bahu dan berjalan anggun ke dalam ruangan. Dia melihat mereka satu persatu. Lelaki berumur yang duduk di dekat nenek Hanbok, tampak seperti ayahnya dan di sampingnya mungkin istrinya. Dan sisanya? Well, dia belum sempat mengamati mereka semua setelah mendengar sebuah suara memanggil namanya, “Sooyeon.” Baca lebih lanjut